Meningkatnya Pengguna Napza di Indonesia - Penyalahgunaan Napza dapat Berakibat Gangguan Bipolar

Jumlah pengguna Napza di Indonesia saat ini mencapai 4,9 juta orang lebih dan peningkatan jumlah pengguna Napza setiap tahunnya mengalami pertumbuhan hingga 1%.

NERACA

Penyalahgunaan Napza dapat berakibat Gangguan Bipolar (GB) dan sebaliknya, penderita GB sangat sering melakukan tindakan berisiko tinggi salah satunya penggunaan Napza, ini bagaikan 2 sisi mata uang.

Baik GB maupun pemakaian Napza ini dapat terjadi secara bersamaan yang tidak bergantung satu sama lain. Keduanya juga mempunyai persamaan faktor risiko yang mendasarinya, yaitu faktor genetik, stresor dan trauma. Gabungan kedua penyakit ini akan memperburuk proses penyembuhan (prognosis).

Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), dr.Danardi Sosrosumihardjo,SpKJ(K) mengatakan, sebagai organisasi profesi di bidang Kedokteran Jiwa (Psikiatri), PDSKJI senantiasa meng-up date keilmuan para anggotanya untuk terus menambah dan meningkatkan kemampuan dan kompetensi ilmu psikiatri secara umum serta memperdalam minat khusus masing-masing.

Dengan harapan para sejawat psikiater Indonesia dapat memberikan pelayan kesehatan jiwa secara profesional, efektif dan efisien, sehingga derajat kesehatan jiwa masyarakat terjaga dengan baik.

”PDSKJI juga bertanggung-jawab untuk senantiasa memberikan edukasi kepada masyarakat, khususnya nya dalam upaya preventif dan promotif. Di dalam pelaksanaannya PDSKJI mengutamakan kegiatan secara bersinergi dengan institusi dan/atau stakeholders lain yang bergerak di bidang kesehatan jiwa,” tutur dr.Danardi.

Gejala-gejala GB dapat dikenali melalui ciri-ciri penyandang GB, misalnya seperti orang yang memiliki perasaan gembira lebih dari biasanya, sangat bersemangat, energik dan sangat aktif, penuh gairah, memiliki banyak ide, merasa tidak memerlukan waktu untuk tidur, pekerja keras, berani mengambil risiko, suka mengeluarkan uang berlebihan atau boros, berpenampilan nyentrik.

Selain itu, kadang menjadi pemurung, menarik diri, merasa sedih, tidak bergairah, mudah tersinggung, memiliki masalah pada lingkungan, sosial, dan hukum, mudah tersinggung dan ingin bunuh diri.

Wakil Ketua Sie Bipolar dan Gangguan Mood lainnya PDSKJI, Dr.dr.Nurmiati Amir, SpKJ (K) mengatakan, terjadinya penyalahgunaan Napza pada pasien dengan GB dapat disebabkan oleh gejala mood yang dideritanya. Misalnya, ketika depresi, pasien GB menggunakan Napza dengan tujuan untuk mengobati diri sendiri (misalnya, menghilangkan perasaan sedih, murung, hilangnya tenaga, dan tidak bisa tidur).

“Pasien dengan GB lebih sering mengalami masalah ketergantungan Napza daripada penyalahgunaan Napza. Banyak bukti yang mendukung adanya hubungan antara GB dengan gangguan penyalahgunaan Napza,” tuturnya.

Keterpaparan secara kronik dengan Napza dapat mencetuskan GB karena efek biologik yaitu terjadinya sensitisasi dan mekanisme kindling (berulangnya penggunaan penyalahgunaan zat menyebabkan gejala putus zat semakin berat sehingga semakin sulit berhenti dari zat).

“Gangguan psikotik juga sering terjadi pada penyalahgunaan Napza yang berkomorbiditas dengan GB. Pada kondisi ini, gejala GBnya tidak begitu berat namun terdapat gejala psikotik. Ada dugaan bahwa gejala psikotik disebabkan oleh efek langsung dari Napza,” pungkasnya.

Tentang terapi dan pengobatan bagi penderita GB yang menggunakan Napza atau yang tidak menggunakan Napza, ia mengemukakan, pengobatan untuk diagnosis ganda lebih sulit bila dibandingkan hanya satu diagnosis (hanya GB atau hanya penyalahgunaan zat).

“Apabila gangguan penyalahgunaan Napza adalah primer, gejala mood akan hilang bersamaan dengan pengurangan penggunaan Napza. Tetapi bila penyalahgunaan Napza menyebabkan sindrom mood menetap, setelah pengurangan penggunaan Napza, kedua gangguan harus diobati,” tuturnya.

Related posts