Kemasindo Targetkan Penjualan Rp 900 Miliar

NERACA

Jakarta – Seiring dengan penambahan tiga mesin baru, PT Dwi Aneka Jaya Kemasindo Tbk (DAJK) optimis target penjualan tahun ini bakal tercapai sebesar Rp 800-Rp 900 miliar. Oleh karena itu, guna mendukung target tersebut, perseroan tetap akan mengedepankan kualitas, tepat waktu dan harga yang kompetitif.

Direktur Keuangan PT Dwi Aneka Jaya Kemasindo Tbk, Witjaksono mengatakan, tahun ini perseroan akan mendatangkan tiga mesin baru untuk memenuhi target penjualan sebesar Rp 900 miliar, “Tahun ini, kita menargetkan penjualan sebanyak Rp800-Rp900 miliar," ujarnya di Jakarta, Senin (23/6).

Menurut Witjaksono, realisasi penjualan sampai menjelang kuartal kedua mencapai Rp300 miliar. Itu artinya, kata Witjaksono, tinggal 60% lagi dan perseroan harus memaksimalkan kinerjanya. Maka dengan target penjualan sebesar Rp800-Rp900 miliar pada tahun ini, perseroan menyakini akan mendapatkan profit kisaran 15%. "Net profit margin 13-15%. Beberapa customer yang dekati kami, ada Asahi Printing. 2 minggu lalu sudah kasih operasional dan bilateral. Satu perusahaan Jepang yang sudah kasih operasional," tambahnya.

Selain itu, perseroan tahun ini juga menargetkan menambah 20 pelanggan baru dari total pelanggan saat ini sebanyak 500 pelanggan. Kata Direktur Utama PT Dwi Aneka Jaya Kemasindo Tbk, Andreas Chaiyadi Karwandi, peningkatan target pelanggan juga dimaksudkan untuk mendongkrak penjualan 2014,”Tiap bulan sales force kami ditarget 1 customer baru. Saat ini ada 18 sales force. 18-20 customer baru tiap tahun. Untuk peningkatan target dari customer exisring diharap order meningkat dari pertumbuhan customer sendiri,”ungkapnya.

Tahun ini, perseroan membidik pelanggan baru dari perusahaan besar seperti Unilever, Indofood, Danone yang diharapkan bisa menopang target penjualan perseroan. Dirinya menyakini, jika pelanggan besar ini bisa raih, tentunya target penjualan bisa tercapai hingga akhir tahun dan bahkan melebihi dari target yang ada.

Dia juga menjelaskan, tahun ini perseroan belum berencana menaikkan harga penjualan seiring dengan kenaikan tarif dasar listrik untuk industri. Alasannya, kenaikan tersebut belum memberikan dampak signifikan terhadap cost produksi perseroan, “Kenaikan tarif listrik merupakan komponen kecil dari cost produksi sekitar 2%,”tandasnya.

Dirinya juga menambahkan, perseroan menghindari dari perolehan kontrak jangka panjang. Pertimbangannya, kontrak tersebut dinilai mengikat harga penjualan dan susah untuk merevisi harga. Asal tahu saja, perseroan sudah merealisasikan belanja modal sebesar Rp 80,2 miliar. Diman sumber belanja modal tersebut di dapatkan dari penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO).

Disebutkan, dana hasil IPO mencapai Rp445 miliar. Dengan persentasi sebesar 40% untuk membeli mesin. Sementara 60% sisanya untuk penambahan modal kerja. Dengan rincian Rp10,4 miliar untuk belanja modal dan Rp69,8 miliar untuk modal kerja. Untuk rencana membeli mesin baru, perseroan sudah melakukan signing pembelian senilai 7,5 juta euro. (bani)

Related posts