Praktisi Bursa Nilai Sosok Jokowi Positif

NERACA

Jakarta - Kalangan praktisi bursa menilai visi dan misi capres Jokowi mendukung kegiatan riil pasar modal di Indonesia,”Visi Jokowi lebih membumi membuat kepercayaan pelaku bursa optimis pasar modal RI lebih bergairah lagi, ujar Tumpal Sihombing, Indonesia Bond Strategist-BondRI, yang juga praktisi bursa efek Indonesia, kepada Neraca, Senin (23/6).

Sebelumnya Deutsche Bank merilis hasil survei (9/6) menunjukkan, jika dalam pilpres nanti pasangan capres cawapres Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa memenangi pemilu, maka 56% dari investor yang disurvei mengaku akan menjual aset Indonesia. Sementara itu, ada 13% yang akan membeli aset di Indonesia. Sedangkan jika pasangan capres cawapres Joko Widodo-Jusuf Kalla menang, maka sebanyak 74% investor yang disurvei akan membeli aset Indonesia dalam bentuk saham dan obligasi. Sedangkan 6% yang lain akan menjual asetnya.

Tumpal menilai survei itu sebagai sinyal positif bagi capres Jokowi yang dapat memberikan kepastian iklim usaha di negeri ini. Pendapat senada dilontarkan ekonom Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih, melihat sentimen ini karena investor lebih memandang positif kepada sosok Jokowi ketimbang Prabowo.“Kalau saya lihat ini masalah image, sosok Prabowo lebih banyak diberitakan buruknya ketimbang Jokowi, sehingga lebih menarik bagi investor asing,” ujar Lana di Jakarta, belum lama ini.

Investor asing tidak bisa dipisahkan dalam pembangunan Indonesia. Lana melihat bahwa Indonesia membutuhkan masuknya modal asing untuk mengisi cadangan devisa yang masih minim. Jumlahnya hanya mencapai US$100 miliar, jumlah yang masih kecil ketimbang negara lainnya.

“Jumlah itu setara dengan kekayaan Bill Gates, jadi agak susah juga kalau kita tidak peduli modal asing,” katanya.

Dia mengatakan, jika survei Deutsche Bank benar maka akan ada koreksi saham jika Prabowo memimpin. Kondisi sebaliknya terjadi jika Jokowi memimpin dimana ada kemungkinan bursa saham akan naik, sebagaimana yang terjadi ketika Jokowi menyatakan keinginannya untuk maju sebagai capres.

Namun, dia mewaspadai bahwa naik turunnya saham akan dimanfaatkan oleh investor asing. Jika kondisi saham menurun dia berharap agar kekosongan itu akan diisi oleh investor lokal, jika saham menaik maka saham akan tetap diisi oleh investor asing.“Jadi kalaupun menurun saya kira tetap investor lokal harus mengambil kesempatan ini,” katanya.

Begitupun dengan nilai tukar rupiah yang diprediksi bisa menembus Rp 13.000 per US$. Hanya saja Lana mengatakan bahwa sentimen tersebut bisa ditutupi dengan fundamental yang bagus dengan memperkecil defisit neraca perdagangan dalam jangka panjang.

Dalam riset tersebut, dijelaskan bahwa Jokowi dengan tegas menyatakan tidak ada transaksi koalisi dalam pembentukan kabinetnya bila dia menang, sedangkan Prabowo memperlihatkan adanya janji-janji politik kepada koalisinya. Dia tidak bisa mengutarakan hal tersebut karena masih sulit dibuktikan.

Survei Deutsche Bank juga menyebutkan, kepemimpinan pemerintahan Indonesia berikutnya akan menentukan keputusan investasi di Indonesia. Hal itu disetujui oleh 87% dari 70 investor yang disurvei pada Mei hingga Juni 2014. (fb)

Related posts