KOTA CIREBON KRISIS AIR BERSIH Kerugian Masyarakat Ditaksir Miliaran Rupiah

Cirebon – Untuk yang kesekian kalinya, Kota Cirebon dilanda kekurangan pasokan air bersih dari aliran Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) setempat. Tercatat, sejak mulai Jumat (12/8) sore pekan kemarin, aliran air PDAM sudah tidak mengalir lagi. Hal itu berlanjut hingga berita ini diturunkan. Kabarnya, matinya pasokan air PDAM Kota Cirebon akan berlangsung selama 5 hari. Namun prediksi tersebut bisa saja lebih lama, mengingat hingga saat ini belum ada informasi pasti dari direksi PDAM terkait masalah tersebut.

NERACA

Beberapa kali, Dirut PDAM Kota Cirebon dihubungi via telepon selulernya, namun tidak merespon. Hanya Ketua DPRD Kota Cirebon, Nazarudin Azis yang mau berkomentar. Menurut DIA ada kerusakan jaringan pada pipa transmisi didaerah Plangon Kota Cirebon. Azis mengaku, saat ini pihaknya terus berkoordinasi dengan PDAM untuk memantau perbaikan tersebut.

“Memang ada kerusakan pada pipa transmisi didaerah Plangon. Kita terus memantau upaya perbaikan ini mas. Kami meminta, supaya masyarakat bersabar. Kami juga belum bisa memperhitungkan, berapa lama perbaikan ini akan selesai. Namun yang pasti, mudah-mudahan dalam waktu dekat ini, aliran air akan kembali normal,” jelas Azis ketika dihubungi Harian Ekonomi Neraca via telepon selelurnya, Minggu (14/8).

Ketika ditanya, apa penyebab kerusakan tersebut, Azis engan berkomentar. Dia beralasan, pihaknya belum mau membahas permasalah kerusakan tersebut. Menurut dia, saat ini pihak PDAM masih berkonsentrasi kepada bagaimana caranya bisa memperbaiki kerusakan, supaya pelanggan bisa kembali menerima hak nya.

“Kami belum mau membahas kerusakan yang ditimbulkan. Yang terpenting adalah, bagaimana secepatnya kami kita bisa memperbaiki kerusakan ini. Nanti, kalau sudah selesai, baru kami akan membahas lebih jauh lagi masalah ini. Kalau sekarang direcokin dengan masalah lainnya, kapan bisa memperbaiki kerusakan,” elak azis.

Agar Menahan Diri

Azis juga berjanji, dalam waktu dekat pihaknya lewat Komisi B akan memangil direksi PDAM, untuk menjelaskan penyebab matinya air tersebut. Menurut dia, hal tersebut penting dilakukan untuk meminta kejelasan. Namun Azis meminta, supaya masyarakat menahan diri untuk melakukan class action ke PDAM. Alasannya, konsentrasi perbaikan akan terganggu.

“Kalau mau class action, nanti saja setelah semuanya selesai. Kalau class action sekarang, nanti perbaikan akan terganggu. Kami menyadari, masyarakat mengalami kerugian dengan peristiwa ini,apalagi momentnya saat bulan ramadhan. Tapi percayalah, dalam waktu dekat air akan kembali normal,” janji Azis.

Sementara itu, Ketua Forum Pemberdayaan Masyarakat Cirebon (FPMC), Izet Firman Hidayat meminta, supaya direksi PDAM Kota Cirebon bertanggung jawab dengan insiden matinya aliran air kepada pelanggan. Menurut Izet, PDAM telah mengabaikan hak-hak konsumen, dengan matinya aliran air PDAM. Tidak seharusnya kata izet, air PDAM mati, apalagi dalam hitungan yang cukup lama.

“Apapun alasannya, PDAM Kota Cirebon harus bertanggung jawab. Ini persoalan hak pelanggan yang terlanggar. Insiden ini tidak harus ada, karena seharusnya PDAM sudah bisa memprediksi kebocoran jauh-jauh hari. Wajar kalau kami melakukan class action,” jelas Izet.

Izet mengatakan, akibat kejadian itu, diperkirakan kerugian seluruh pelanggan PDAM Kota Cirebon yang tidak mendapat jatah air bersih, sekitar Rp. 1,8 miliar. Jumlah tersebut akunya akan terus bertambah kalau aliran air akan mati total dalam kurun waktu lama. Izet melihat, masyarakat akan kecewa dan akhirnya meminta direksi PDAM untuk turun, kalau kejadian ini terus berulang.

“Ini permasalah yang sangat kompleks. Tahun kemarin kejadiannya sama, walaupun memang masalah berbeda. Kenapa tahun ini kembali terulang.padahal pelanggan selalu mentaati aturan PDAM. Kita hanya butuh pelayanan yang baik, walaupun memang tarifnya cukup mahal. Wajar kalau Direksi PDAM disuruh turun, ini semata ungkapan kekecewaan kami saja,” terang Izet.

Pantauan Neraca di lapangan, saat ini hampir seluruh pelangan PDAM di Kota Cirebon kekurangan air bersih. Untuk mandi saja, ratusan masyarakat mengantri pada satu sumur, dengan kualitas air yang tidak layak. Sementara untuk memasak, mereka terpaksa harus membeli air isi ulang, atau air kemasan.

Otomatis, sejak matinya air PDAM ini, masyarakat harus mengeluarkan dana lebih. Diperkirakan, kalau satu keluarga dihuni empat orang saja, biasanya dibulan Ramadhan ini mereka cukup mengeluarkan uang Rp. 50.000 per harinya. Namun, mereka harus mengeluarkan uang dua kali lipat, untuk pengeluaran pembelian air.

BERITA TERKAIT

Masyarakat Perlu Menyadari Dampak Langsung Korupsi

Masyarakat Perlu Menyadari Dampak Langsung Korupsi NERACA Jakarta - Masyarakat luas perlu menyadari dampak langsung yang dialami dari adanya tindak…

Bank Banten Dukung Bapenda Permudah Layanan Masyarakat

      NERACA   Banten - PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk (Bank Banten) mendukung Badan Pendapatan Daerah (Bapenda)…

DPRD Kota Sukabumi Lakukan PAW

DPRD Kota Sukabumi Lakukan PAW  NERACA Sukabumi - Dua anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Sukabumi asal Partai Hanura…

BERITA LAINNYA DI EKONOMI DAERAH

Ibu Siti, Nasabah Bank Wakaf Mikro, Jahit Baju Untuk Jokowi

Ibu Siti, Nasabah Bank Wakaf Mikro, Jahit Baju Untuk Jokowi NERACA Jombang - Sudah banyak masyarakat yang gembira memanfaatkan dukungan…

Program BSPS Dongkrak Swadaya Masyarakat - 25 Unit RTLH Dua Kelurahan di Sukabumi Capai 98 persen

Program BSPS Dongkrak Swadaya Masyarakat 25 Unit RTLH Dua Kelurahan di Sukabumi Capai 98 persen NERACA Sukabumi - Sebanyak 25…

Sekda Banten: UMKM Penopang Utama Ekonomi Bangsa

Sekda Banten: UMKM Penopang Utama Ekonomi Bangsa NERACA Serang - Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah (Sekda) Banten Ino S Rawita mengatakan…