Semester Dua, Penerbitan Obligasi Marak

NERACA

Jakarta - PT Mandiri Sekuritas menilai, penerbitan surat utang atau obligasi korporasi pada tahun 2014 ini masih akan tinggi menyusul kebutuhan perusahaan untuk melakukan pendanaan kembali (refinancing),”Salah satu alasan perusahaan menerbitkan obligasi yakni untuk melakukan ekspansi dan 'refinancing'. Obligasi jatuh tempo pada tahun 2014 ini sekitar Rp38 triliun, kondisi itu yang akan mendorong perusahaan kembali menerbitkan obligasi untuk 'refinancing',”kata Head of Fixed Income Research PT Mandiri Sekuritas Handy Yunianto di Jakarta, Senin (9/6).

Menurut dia, penerbitan obligasi dilakukan seiring dengan ketatnya pemberian kredit oleh perbankan menyusul rasio pinjaman terhadap simpanan (LDR) yang cenderung menipis."Jika perusahaan mengandalkan pendanaan perbankan cukup sulit, saat ini perbankan cenderung menahan untuk memberikan kreditnya di tengah likuiditas yang sudah mulai terbatas," katanya.

Dia menambahkan bahwa penerbitan obligasi korporasi dalam rangka melakukan ekspansi pada tahun ini akan cenderung minim seiring dengan pertumbuhan ekonomi domestik yang melambat,”Ekspansi perusahaan diperkirakan tidak sebaik pada tahun 2013 karena pertumbuhan ekonomi yang melambat," ucap Handy Yunianto.

Dirinya memproyeksikan, pada tahun ini penerbitan obligasi akan mencapai sekitar Rp40-Rp50 triliun. Per April 2014, tercatat emisi baru senilai Rp8,4 triliun. Menurutnya, target itu bisa tercapai dengan asumsi tingkat imbal hasil rata-rata tertimbang pengembalian surat utang negara (SUN) sebesar 8%,”Tingkat yield obligasi korporasi masih lebih tinggi dari SUN, kondisi itu akan membuat minat investor tetap tinggi. obligasi korporasi sekitar 10-12%," katanya.

Tercatat dalam data Bursa Efek Indonesia per tanggal 5 Juni 2014 tercatat total emisi Obligasi dan sukuk yang sudah tercatat adalah 17 Emisi dari 17 Emiten senilai Rp15,68 triliun. Sebelumnya, Direktur Penilaian Perusahaan BEI Hoesen mengatakan, penerbitan obligasi korporasi diperkirakan marak pada semester kedua 2014. Tahun ini penerbitan obligasi ditargetkan sebesar Rp58 triliun.

Deputi Komisioner Pengawas Pasar Modal, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Sarjito pernah bilang, pihaknya akan mengupayakan kondisi pasar yang ideal sehingga perusahaan tertarik untuk menerbitkan obligasi,”Prioritas OJK adalah menyederhanakan proses penawaran umum yang sekarang ini mewajibkan emiten untuk menyampaikan kembali dokumen registrasi setiap kali menerbitkan obligasi,”ujarnya

Dia menambahkan, OJK juga akan menerapkan skema shelf registration untuk penerbitan efek. Maka dengan skema tersebut, emiten cukup menyampaikan surat pendaftaran satu kali untuk beberapa kali emisi untuk jangka waktu tertentu.

Ditambahkannya bahwa OJK telah menetapkan SMO-PMO proyek pasar obligasi untuk 2014 hingga 2016, yang melibatkan lembaga lain seperti Bank Indonesia, Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang, Direktorat Jenderal Pajak, Badan Kebijakan Fiskal, badan regulasi mandiri atau SRO (self-regulatory organization) dan Penilai Harga Efek Indonesia atau IBPA (Indonesia Bond Pricing Agency). Di bawah proyek tersebut akan dijalankan lima program pokok, di antaranya pengembangan platform perdagangan elektronik, harmonisasi peraturan, pengawasan dan kebijakan perpajakan. (bani)

Related posts