Anak Usaha Astra Agro Raih Kalpataru - Selamatkan Abrasi Dengan Mangrove

NERACA

JAKARTA - PT Letawa, anak perusahaan PT Astra Agro Lestari, Tbk menerima penghargaan Kalpataru dari presiden. Penghargaan itu diberikan Wakil Presiden Boediono kepada Administratur PT Letawa Nyoman Sukram di Istana Negara.

Penghargaan itu diberikan karena peran Letawa dalam melestarikan mangrove di Mamuju Utara. Penghargaan lingkungan itu merupakan yang pertama bagi Astra Grup. "Dengan mangrove ini kami ikut menjaga biota laut," kata Direktur AALI Area Sulawesi Indra Irawan di sela konferensi pers Penganugerahan Kalpataru ke PT Letawa di Jakarta, kemarin.

Menurut Indra, pihaknya telah menanam mangrove sejak 2009. Hingga saat ini, total mangrove yang ditanam mencapai 157.000 pohon di lahan seluas 262 hektare (ha) di tiga desa, yaitu Jengeng, Tikee Muara, dan Desa Ako di Kabupaten Mamuju Utara, Sulbar. Tahun ini, pihaknya menargetkan total mangrove yang tertanam 192.000 pohon. Hingga Mei 2014, Letawa telah merealisasikan penanaman mangrove 25.000 pohon dari total rencana 35.000 pohon. "Ini akan menjadi program tahunan," kata dia.

Sebelumnya, Letawa meraih penghargaan dari Bupati dan gubernur sudah memberikan apresiasi sebagai perusahaan penyelamat lingkungan di Sulbar. Dia menjelaskan, kepedulian terhadap mangrove itu berawal dari para karyawan yang hobi memancing karena lokasi kebun yang berbatasan dengan pantai. Menyadari biota pesisir pantai terkena erosi, mereka tergerak untuk menanam mangrove. "Kami ada dana CSR untuk dialihkan. Jumat ada kerja bakti dan kami mengerahkan karyawan untuk menanam," tutur Indra.

Pihaknya juga menggandeng konsultan karena menanam mangrove membutuhkan keahlian. Program itu berhasil meningkatkan biota laut sehingga mampu berdampak ke sektor lain, di antaranya adalah perikanan.

Sebagian masyarakat sekitar memiliki budidaya tambak bandeng. Mereka dapat menangkap kepiting di lokasi mangrove untuk digemukan di tambak. Pihaknya juga memberi bantuan bibit ikan. Letawa bekerjasama dengan perguruan tinggi di Malang untuk membuat kompor biomassa yang bahan bakarnya menggunakan cangkang sawit. "Masyarakat dahulu menebang mangrove untuk memperoleh kayu bakar. Sekarang kami memberi bantuan kompor tersebut agar mereka tidak lagi menebang," kata Indra.

Selain bermanfaat secara ekonomi, tanaman mangrove tersebut juga mampu menjadi tanggul sehingga mampu menahan abrasi. Dia menambahkan, pihaknya juga mempunyai program meningkatkan nilai tambah produk masyarakat, berupa pengolahan bandeng presto.

Nyoman Sukram menambahkan, ke depan, Letawa akan mengembangkan teknologi untuk mengolah buah mangrove untuk dijadikan sirup dan keripik. "Kami juga tengah menjajaki untuk membangun penangkaran maleo," kata Nyoman.

Saat ini kawasan yang ditanami mangrove tersebut banyak didatangi beraneka burung. Karena itu, kawasan ini juga dijadikan ekowisata mangrove di Sulbar. Kepala Divisi Safety, Health and Environment PT Astra Agro Lestari, tbk Slamet Riyadi menambahkan perseroan menetapkan empat pilar dalam menjalankan program CSR. Empat pilar itu yakni pendidikan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, kesehatan, dan penyelamatan lingkungan.

Dalam menjalankan program CSR, masing-masing anak perusahaan menyesuaikan dengan kondisi di mana mereka beroperasi. "Letawa menanam mangrove karena kondisi alam di Mamuju Utara tadinya rusak oleh abrasi laut. Karena itu kami tanam mangrove," kata Slamet.

Dalam menanam mangrove tersebut, manajemen Letawa memberdayakan masyarakat sekitar kebun. Selain itu juga menggandeng pemerintah daerah dalam pengadaan bibit mangrove. "Partisipasi masyarakat dan pemerintah selalu kami libatkan," katanya. (kam)

Related posts