Peringkat WIKA Masih Kokoh di Level A+

NERACA

Jakarta - PT Pemeringkat Efek Indonsia (Pefindo) mempertahankan peringkat idA+ untuk PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) dengan prospek stabil. Analis Pefindo Haryo Koconegoro mengatakan, peringkat tersebut mencerminkan posisi perusahaan yang kuat dan sumber pendapatan yang cukup terdiversifikasi, “Selain itu, kebijakan keuangan yang konservatif dengan tingkat likuiditas yang kuat," kata dia dalam siaran persnya di Jakarta, Kamis (5/6).

Kendati demikian, dia menjelaskan, peringkat kepada perusahaan konstruksi pelat merah itu dibatasi risiko dari segmen bisnis baru dan lingkungan bisnis yang relatif volatile pada industri konstruksi dan properti.

Pefindo juga memberikan peringkat idBBB+ untuk PT Perdana Gapura Prima Tbk (GPRA) dengan prospek stabil. Medium term notes (MTN) I/2013 yang diterbitkan GPRA juga mendapat peringkat sama. Analis Pefindo lainnya, Rian Abdi Gunawan menuturkan, peringkat yang diberikan kepada emiten pengembang properti tersebut mencerminkan portofolio properti yang terdiversifikasi dan kualitas aset rata-rata. "Peringkat dibatasi oleh menurunnya kinerja pendapatan perusahaan yang memperlemah proteksi arus kas, pendapat berulang yang kecil dan sifat bisnis properti yang sensitif terhadap perubahan kondisi makro ekonomi," ujar dia.

Belum lama ini, perseroan telah mengantongi kontrak baru sebesar Rp 5,5 triliun. Angka ini naik apabila dibandingkan dengan nilai kontrak baru pada kuartal-I 2014 yang sebesar Rp 4,8 triliun,”Kontrak baru kita sampai saat ini Rp 5,5 triliun. Naik Rp 700 miliar dari kuartal-I kemarin,”kata Sekretaris Perusahaan Wijaya Karya Natal Argawan.

Menurut Natal, kontrak baru ini didominasi oleh proyek-proyek swasta seperti pembangunan perkantoran, pusat bisnis, dan properti. Tercatat, perolehan margin laba bersih perseroan di tahun 2013 lalu stabil di angka 4,8%. Peningkatan penjualan dari produk realty sebanyak 34,53% menjadi Rp 1,11 triliun dibandingkan dengan penjualan bersih dari produk realty pada tahun 2012 lalu yang hanya mencapai Rp 831,06 miliar."Kondisi ini didukung oleh adanya peningkatan penjualan dari produk realty sebanyak 34,53% menjadi Rp 1,11 triliun," tukasnya.

Sekedar informasi, laba bersih emiten berpelat merah ini mencapai Rp 167,51 miliar. Angka ini hampir mencapai 25% dari target laba bersih sepanjang 2014 yang sebesar Rp 678,65 miliar atau meningkat 24,68% dibandingkan laba hingga akhir 2013 lalu. Perolehan laba bersih ini didukung oleh menguatnya penjualan dari Rp 2,62 triliun menjadi Rp 2,79 triliun.

Selain itu, Wijaya Karya juga meraup berkah dari selisih kurs yang nilainya sebesar Rp 8,97 miliar rupiah. Hingga akhir tahun, salah satu dari BUMN karya ini menargetkan penjualan, termasuk proyek joint operation hingga Rp 18,82 triliun.

Asal tahu saja, perseroan tahun ini menargetkan dapat membukukan dana dari poyek luar negeri sebesar Rp 500 miliar. Untuk itu, perseroan terus melancarkan ekspansi ke regional asing guna menambah portofolio bisnisnya di bidang konstruksi. (bani)

Related posts