Pengembangan Bioethanol Tidak Optimal - Indusustri Energi Terbarukan

NERACA

Jakarta - Keseriusan pemerintah mengembangkan sumber energi alternatif masih belum sepenuh hati. Selang 3 tahun, Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) melakukan diksusi dengan Kementerian Keuangan (Kemenkeu), ternyata program pengembangan bioethanol masih mandek di jalan.

Direktur Bio Energi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan Konservasi Energi (Ditjen EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dadan Kusdiana mengatakan, penyerapan bioethanol di Indonesia masih mengalami kendala.

Padahal pihaknya sudah memiliki rencana untuk mencampur bioethanol dengan Bahan Bakar Minyak (BBM). "Bioethanol tiga tahun bahas ke Menteri Keuangan belum berhasil, padahal road map sudah tersedia," kata Dadan, di Jakarta, Kamis (5/6).

Dia mengaku pasokan biosolar sebenarnya terus meningkat. Meski kenyataan di lapangan program campuran Bahan Bakar Nabati (BBN) ke BBM belum berjalan. Bahkan, 2016 penyerapan campuran biosolar ditargetkan meningkat mencapai 20% yang sebelumnya 10%. Hal ini akan menjadikan Indonesia sebagai negara terbesar dalam mencampur BBN dengan BBM.

"Dua tahun lagi rencananya masuk ke campuran lebih tiggi 20%. Ini sesuatu hal membuat hati-hati harus berani tidak ada contoh di atas 10%, Indonesia sekarang terdepan BBNnya, saya kira Indonesia harus bangga menjadi leading pemanfaatan biodisel dunia," tegas dia.

Sementara itu, kebutuhan energi Indonesia saat ini sebagian besar masih bertumpu pada bahan bakar fosil. Kebutuhan energi nasional ditopang minyak bumi sekitar 51,66 persen, gas alam 28,57 persen dan batubara 15,34 persen. Persediaan bahan bakar tersebut kian waktu semakin berkurang. Cadangan minyak bumi akan habis sekitar 12 tahun lagi, gas 30 tahun dan batu bara masih bisa dimanfaatkan hingga 70 tahun ke depan. Ketergantungan terhadap bahan bakar fosil ini menjadi masalah besar dan perlu solusi yang mendesak. Salah satu langkah solusinya adalah memanfatkan bioetanol lignoselulosa sebagai alternatif pengganti.

Untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, pemerintah mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) No.5 Tahun 2006 tentang kebijakan energi nasional untuk mendorong pengembangan sumber energi alternatif sebagai pengganti bahan bakar minyak.

Peneliti Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2 Kimia-LIPI), Agus Haryono mengatakan, pada tahun 2025 pemenuhan kebutuhan energi Indonesia diharapkan 17 % nya berasal dari energi baru terbarukan. Salah satunya dengan memanfaatkan etanol sebagai alternatif, khususnya bioetanol berbasis lignoselulosa.

Penggunaan etanol sebagai bahan bakar mempunyai beberapa keunggulan yaitu kandungan oksigen etanol tinggi (35 persen) sehingga menghasilkan bahan bakar yang bersih; kedua, hasil bersih ini ramah bagi lingkungan karena emisi gas karbon monoksida lebih rendah 19-25 persen dibanding BBM.

Energi terbarukan ini tidak memberikan kontribusi pada akumulasi karbon dioksida di atmosfer; ketiga, daya hasil etanol lebih stabil. Angka oktan etanol tergolong tinggi sekitar 129 sehingga menghasilkan proses pembakaran yang stabil. Proses pembakaran dengan daya yang lebih baik ini akan mengurangi emisi gas karbon monoksida; keempat, campuran bioetanol 3% saja mampu menurunkan emisi karbonmonoksida menjadi hanya 1,3%.

Salah satu sumber biomasa lignoselulosa non pangan di Indonesia yang tersedia melimpah adalah Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) atau Oil Palm Empty Fruit Bunch dan pelepah kelapa sawit. Luas perkebunan Indonesia sekitar 8,4 juta hektar yang menghasilkan 21,3 juta ton minyak sawit dengan potensi TKKS 20 juta ton keadaan basah atau 10 juta ton kering. Dengan kandungan selulosa yang cukup tinggi sekitar 41-47 persen, maka satu ton TKKS berpotensi menghasilkan etanol sebanyak 150 liter dan bila dikalikan 10 juta ton tentu jumlahnya sangat besar.

Menteri Negara Riset dan Teknologi, Gusti Muhammad Hatta menyampaikan, bahwa biomassa lignoselulosa adalah salah satu dari sumber daya terbarukan dengan potensi besar di Indonesia.“Namun, perkembangan bioethanol yang menggunakan sumber daya yang inedible harus memberikan kontribusi dalam usaha meningkatkan keberlangsungan lingkungan dan perubahan iklim di Indonesia,” jelas Menegristek.

Menegristek juga menekankan perlunya komitmen dan dukungan dari semua aktor dalam inovasi dan masyarakat untuk mendorong adopsi hasil penelitian ke industri. Dengan produksi 10 L bioethanol 99.5 persen per hari, teknologi ini berpotensi untuk mendukung produksi bio-fuel di pasar.“Saya berharap program ini dapat berkontribusi dalam memecahkan permasalahan di Indonesia khususnya di bidang energi,” imbuhnya.

Kepala LIPI, Lukman Hakim, juga mengungkapkan apresiasinya kepada Republik Korea yang menyediakan grant melalui KOICA (Korean Office for International Cooperation Agency) serta dukungan teknologi melalui KIST (Korean Institute of Science and Technology) dan Changhae Engineering.

“Kerjasama ini bertujuan untuk menemukan cara terbaik dan efisien dalam memproduksi bio-fuel dengan kualitas tinggi dari substansi alam dan limbah tumbuhan yang jumlahnya banyak di Indonesia,” ujar Lukman.

Related posts