Bisnis itu Berani Me-manage Risiko

Bambang M Roeslan

Bisnis itu Berani Memanage Risiko

Pengalaman adalah mendorong untuk mewujudkan cita-cita. Dan, pengalaman pun juga menjadi guru bagaimana mewujudkan cita-cita itu.

Berbekal pengalamannya malang melintang di dunia pemasaran, Bambang Moeljono Roeslan pun berani mengambil pensiun dini di perusahaannya, PT Garuda Food, walaupun karirnya sedang menanjak. Awalnya sebagai manajer PR, lalu Business Dev Manager, manajer pemasaran, manajer produksi, dan terakhir, pada 2007, menjadi general manager.

Di benaknya hanya ada satu tekad, yaitu membangun klinik dan rumah bersalin 24 jam. Tekad itu muncul saat suatu ketika, anaknya sakit dan harus segera dibawa ke rumah sakit, pada tengah malam. Pada sekitar 1992, kawasan Jalan Kalimalang, Bekasi belumlah seramai sekarang. Sulit menjumpai klinik dan rumah bersalin yang bukan hingga 24 jam.

Enam tahun kemudian, terwujudkan niatnya mendirikan klinik dan rumah bersalin di bawah bendera Yayasan Bina Medika. Dua tahun kemudian, bendera pun diganti menjadi Permata Bunda di bawah PT Surya Sehat Gemilang. Begitu pensiun dini disetujui bosnya Soedhamek AW, Bambang pun langsung mengurus peningkatan status klinik menjadi rumah sakit umum (RSU). Dalam setahun, izin pun keluar, jadilah RSU Permata Bunda. RSU itu berdiri di Jalan Gramapuri I, Cibitung, Bekasi.

Untuk mengembangkan RSU Permata Bunda, Bambang dibantu istrinya, Resmawati Mansoer, pun menggandeng sejumlah dokter spesialis, seperti Muqqawimuddin menjadi chief operation officer (COO) maupun Zendri Kusmilawati sebagai chief services officer (CSO). Total karyawan sudah mencapai 153 orang.

Bambang , pria kelahiran Jombang 28 Mei 55 tahun silam, berobsesi membangun 100 klinik dan rumah bersalin. Bagi dia, angka itu tidak berlebihan. Saat ini, Kabupaten Bekasi berpenduduk 2,6 juta jiwa dengan 306 klinik. Di Kota Bekasi berpenduduk 2,1 juta jiwa, dengan 189 klinik. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan data satu klinik masih melayani 1.800 orang per bulan. “Dari situ saja peluang bisnis di sektor kesehatan, khususnya rumah sakit, sangat terbuka lebar,” kata dia.

Mulai 2011, sudah ada enam RS Permata Bunda yang tersebar di kawasan Bekasi. Sejak 2010, bisnis rumah sakit dikembangkan dengan pola franchise. Dengan diterapkannya Jaminan Kesehatan melalui program BPJS mulai 2014, Bambang, mantan kepala gudang PT Tunggal Sila Pharma ini mengaku harus waspada. Apakah bergabung dalam sistem BPJS menjadi rumah sakit rujukan, atau berdiri secara mandiri.

“Yang penting, bagaimana agar program BPJS itu tidak menggerogoti pangsa pasarnya Permata Bunda,” ujarnya. Sebab, kata dia, segmen yang disasar Permata Bunda dan pasien BPJS nyaris sama. Sekarang, Permata Bunda sudah memiliki tujuh cabang klinik dan rumah bersalin di kawasan Bekasi. “Sebanyak 90% mengunakan asuransi kesehatan, karena kami bekerja sama dengan banyak perusahaan besar berskala nasional,” kata pria berkacamata minus ini.

Grup yang dipimpinnya memiliki misi menyediakan sarana pelayanan kesehatan yang optimal dan diminati masyarakat karena didukung teknologi modern, efektif, dan efisien. Perusahaan juga menerapkan budaya etos kerja dengan sumber daya manusia unggulan, bekerja dinamis dan penuh harmoni. Karenan itu, dalam mengembangkan usaha ini, dirinya selalu menjunjung tinggi nilai-nilai etika, peduli dengan sesama dan lingkungan sekitarnya.

“Visi kami, menjadi 15 besar tempat pelayanan kesehatan swasta nasional di Indonesia pada 2020 nanti,” tutur ayah dari dua perempuan dan tiga anak laki-lakinya. Sedangkan motto yang dipakai adalah ‘Dekat dan Tepat Menuju Sehat’.

Merambah ke Resto

Memasuki 2014, naluri bisnisnya makin membesar dengan mencoba melirik ke sektor kuliner. Resto, kata dia, tak ada matinya, sebab, semua orang butuh makan. “Tergantung bagaimana kita menawarkan kemasan yang tidak sekadar makan, tapi juga menikmati makannya,” kata suami Resmawati ini.

Akhirnya, pada Februari diresmikanlah Café & Resto Pampalassa di Setu, Bekasi, tak jauh dari rumahnya di kawasan Grand Wisata. Sekarang ditabah satu lagi di Jalan Kalimalang, tak jauh dari Hotel Sydney, masih di Bekasi.

Mengapa memilih nama pampalassa? Bambang pun bercerita, nama itu artinya sambal dari bahasa Tagalog Philipina. Makanya, di situ ada gambar cabe berwarna merah. Agar bisa memperoleh pasar, kiatnya adalah membuat merek atau nama yang sama sekali berbeda dengan yang lain. Dengan demikian akan mudah diingat orang.

“Kita juga harus menciptakan aura, visual, dan sentuhan yang berbeda,” ujarnya. Bagi dia, konsumen jangan ditunggu, tapi dijemput, didata, dan diberi tawaran paket yang dibutuhkan. Misalnya paket ulang tahun, disuguhi live music. Untuk men-service masyarakat yang gila bola, disediakanlah televisi layar lebar berukuran besar jika sewaktu-waktu ada pertandingan sepak bola. Restonya pun juga dilengkapi saung-saung dengan nama klub sepakbola Eropa. Ada Liverpool, Real Madrid, Barcelona, Munchen. “Kami juga menawari konsep tempat ini bisa untuk rapat dan bekerja, makanya kami sediakan in focus dan jaringan wifi,” ujarnya.

Apa konsep unggulan lain yang ditawarkan pasangan Bambang-Resma itu? Seluruh menu makanan, baik lokal maupun internasional atau oriental, semua dimasak dari bahan organik yang sehat. “Sayuran yang kami masak merupakan sayuran organik dari kebun sendiri di kawasan Puncak,” kata dia. Selain sehat, juga halal. Itu sebanya, resto miliknya tak menyediakan minuman beralkohol. Pengunjung pun dilarang membawa alkohol dari luar. Kembali ke nama pampalassa sebagai brand, tentu seluruh menu makanannya dilengkapi dengan aneka rasa sambal.

Karena itu, walaupun tidak berada di kawasan elite, namun dia berani memasang label bahwa resto dan café miliknya itu menyasar konsumen kelas menengah ke atas. Lokasi yang dipilih pun tak jauh dari lingkungan perumahan, juga kawasan industri. Sebut saja kawasan MM 2100, GMM, Grand Legenda, Grand Wisata, maupun Grand Mutiara Gading.

Manajemen Risiko

Bagi Bambang dan istrinya, berbisnis adalah seni bagaimana memanaj risiko. Agar berhasil, dikerahkan seluruh ilmu dan pengalaman di bidang pemasaran dan keuangan. Awal yang harus dipikirkan lebih dulu adalah risiko rugi. Misalnya rugi penyusutan dan rugi belanja. Jadi jangan bicara dulu soal untung. Jika seluruh risiko sudah teridentifikasi, tinggallah menetapkan daftar harga. “Karena risiko ruginya tinggi, maka marginnya pun juga harus tinggi kalau mau untung,” katanya.

Ada empat strategi bisnis yang dia terapkan untuk mengembangkan bisnis rumah sakit itu. Pertama, placement strategy. Pemilihan lokasi usaha yang tepat, kata Bambang, sangat besar pengaruhnya terhadap keberlangsungan usahanya. “Untuk itu harus dilakukan survei terlebih dulu untuk menjajakan potensi pasarnya,” kata Bambang yang menerima Neraca di restonya yang baru dibuka, Pampalassa di Jalan Raya Seto, Bekasi, awal Juni 2014. Strategi berikutnya adalah product strategy, pricing strategy, dan promotion strategy. (bani saksono)

Nama : Drs H Bambang M Roeslan

Tempat & Tanggal Lahir : Jombang, 28 Mei 1958

Pendidikan : S1- Sospol

Istri : Resmawati Mansoer

Anak : 1. Dhimaz Ananda BM,

2. Dhi Ajeng Diah Puspita Dewi BM, 3. Goentor Priambodo Joeang BM,

4. Fajar Fanani Joeang BM, dan

5. Danang Galih Pamungkas BM

Pengalaman Kerja :

1976 operator di PT Unitube dan PT AIA Surabaya, Industrial Estate Rungkut

1982 medical representative PT Kenrose Indonesia,

Area supervisor PT Rhoune Phoulenc,

National Sales Manager PT Piridam Pharmaceutical,

PT Combhipar, PT Bernofarma,

1993 National Sales Manager PT Natura Vita

1995-2007 PT Garuda Food: PR Manager, Business Dev Manager, Sales Manager, Product Manager, General manager.

1998 – sekarang CEO PT Surya Sehat Gemilang yang membawahi Permata Bunda Group

2014 merintis Pampalassa Resto

Related posts