Saling Adu Strategi Layanan Untuk Untung - Prospek Emiten Rumah Sakit

NERACA

Jakarta – Masih rendahnya kontribusi layanan kesehatan Indonesia terhadap Gross Domestic Product (GDP) atau hanya sekitar 3% dibandingkan dengan negara tetangga, terlebih Amerika Serikat yang sudah maju mencapai 17% terhadap GDP, menandakan masih terbatasnya layanan dan infrastruktur rumah sakit di Indonesia. Namun melihat potensi pasarnya yang diperkirakan sekitar Rp 340 triliun tahun ini, menjadi pasar yang menjanjikan. Maka tidak heran, saat ini banyak konglomerat beramai-ramai membangun rumah sakit, laboratorium dan layanan kesehatan lainnya.

Corporate Secretary PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk yang juga pemilik rumah sakit Omni Internasional, Hassan Themas mengakui, bila dilihat pasarnya bisnis rumah sakit menjanjikan. Namun faktanya dilapang berbeda, “Bisnis rumah sakit masih sangat menjanjikan, namun biaya operasionalnya juga besar,”ujarnya.

Merespon persaingan ketatnya bisnis rumah sakit yang saat ini mulai berkembang pesat, perseroan terus memperbaiki layanan dan memperlengkap layanan kesehatan. Tahun ini saja, perseroan akan menambah beberapa medical equipment atau peralatan medis kedokteran, lalu pembangunan kemonterapi center, serta peremajaan gedung milik perseroan.

Perseroan sudah mengalokasikan belanja modal sekitar Rp 100 miliar hingga Rp 140 miliar untuk mendanai fasilitas tersebut. Dimana sumber pendaaan berasal dari kas internal, serta refinancing bank dengan porsinya 50:50%, “Porsi belanja modal sebesar 40% untuk medical equipment, dan sisanya untuk peremajaan dan pembangunan kemoterapi,”katanya.

Oleh sebab itu pula, perolehan pertumbuhan laba perseroan tidak dialokasikan untuk dividen kepada pemegang saham karena perseroan masih membutuhkan dana yang cukup besar untuk mengembangkan bisnisnya.

Kata Hassan, tahun ini perseroan menargetkan pertumbuhan pendapatan sebesar 20%. Mulai tingginya tingkat okupansi di dua rumah sakit yang dimiliki perseroan menjadi salah satu alasan meningkatkan target pendapatannya pada tahun ini,”Target pendapatan full year naik 20%, hal ini terlihat dari pendapatan di kuartal I/2014 yang meningkat 22%, untuk margin sepanjang tahun ini kita targetkan naik 23-24%,”ujarnya.

Menurutnya, dengan target pertumbuhan 20%, lanjutnya, perseroan membidik pendapatan sebesar

Rp403,81 miliar. Hingga kuartal pertama tahun ini, tingkat Bed Occupancy Rate (BOR) di Rumah Sakit Omni Pulomas berkisar diangka 68%, sementara BOR di Rumah Sakit Omni Alam Sutera berada di angka 64%. Sementara untuk pendapatan, perseroan berhasil membukukan dana hingga kuartal pertama sebesar Rp89,07 miliar dan laba bersih mencapai Rp11,67 miliar.

Hassan menambahkan, jika tingkat okupansi di kedua rumah sakit tersebut sudah mencapai 70%, perseroan akan mulai melakukan penambahan kamar. Sementara kompetitornya, PT Siloam International Hospitals Tbk juga agresif menambah rumah sakit baru. Tahun ini, perseroan menganggarkan belanja modal Rp 800 miliar untuk menuruskan pembangunan dua rumah sakitnya.

Chief Financial Officer PT Siloam International Hospitals, Romeo Fernandez Liedo pernah bilang, selain membangun rumah sakit Siloam, pihaknya juga telah mengakuisisi 5 rumah sakit dengan harga bervariasi. Kelima rumah sakit tersebut berlokasi di Kebun Jeruk (Jakarta), Surabaya, Jambi, Cinere dan Balikpapan, “Untuk yang kami bangun ada MRCCC Semanggi, Cikarang, Manado, Lippo Village, Makassar, Palembang, Bali dan TB Simatupang”, ujarnya. (bani)

Related posts