Perubahan Nozzle di Mobil Murah Sangat Merepotkan - Industri Otomotif

NERACA

Jakarta - Pemerintah berencana merubah dimensi lubang pengisian bensin (nozzle) pada mobil murah ramah lingkungan atau low cost green car (LCGC). Hal ini dilakukan agar kendaraan tersebut tidak lagi mengkonsumsi bahan bakar bersubsidi. Namun Komisaris PT Suzuki Indomobil Motor Subronto Laras menilai rencana ini akan merepotkan produsen LCGC. Pasalnya produksi kendaraan ini bukan hanya ditujukan untuk pasar domestik, tetapi juga pasar ekspor.

"Perubahan nozzle ini bikin susah, nanti kalau mau dijual keluar (negeri) bagaimana. Masa mau jalan dari satu kota ke kota lain harus ganti nozzle, nanti repot," ujar dia di Kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta Selatan, Senin (2/6).

Subronto mengatakan saat ini mobil LCGC telah mengadopsi teknologi tinggi, sehingga akan lebih baik jika pemiliknya menggunakan bahan bakar dengan oktan 92 ke atas. "Sekarang mesinnya kan sudah high tech. Kalau mereka pakai (bensin) yang murah sih bisa saja tapi akan lebih boros. Tapi kan aturannya kan mesin itu harus pakai pertamax," kata dia.

Dia juga mengungkapkan, sebenarnya cara mudah untuk menekan penggunaan BBM subsidi yaitu dengan menghapuskan BBM bersubsidi tersebut. "Kalau ada bensin murah, ya mereka pasti pilih yang murah. Mestinya kita seperti di India, meskipun negara susah tapi subsidi untuk bensinnya dicabut," tegas dia.

Meski demikian, Subronto mengungkapkan proyek produksi LCGC dibawah Kementerian Perindustrian ini dinilai proyek yang berhasil meskipun masalah konsumsi BBM bersubsidi tersebut masih diperdebatkan.

Menurutnya, proyek ini banyak membuka lapangan kerja dan mampu meningkatkan ekspor otomotif Indonesia. Suzuki sendiri menargetkan tahun ini mampu memproduksi sekitar 35 ribu unit LCGC.

"Produksi kita saat ini lagi pas-pasan, karena masih menunggu proyek pabrik baru (di kawasan Delta Mas, Karawang) biar bisa tambah kapasitas. Tapi kalau kita dari pelaku industri inginnya supaya industri ini terus berkembang, bisa produksi lebih banyak dan buka lapang kerja," tandas dia.

Untuk mencegah agar mobil murah dalam program low cost green car (LCGC) agar tidak meminum BBM jenis premium (subsidi), kali ini solusi yang dipakai adalah dengan mengecilkan lubang tangki bahan bakar dan nozzle selang bahan bakar SPBU. Akankan cara ini berhasil?

Sampai dengan Maret 2014 Polasi mobil LCGC jika dihitung telah mencapai 95.179 unit. Pada tahun 2013 penjualan mobil ini menurut data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) penjualannya mencapa 51.180 unit. sementara penjualan dari Januari – Maret 2014 telah mecapai 43.999 unit.

Jika mobil LCGC terus bertambah polulasinya maka dipastikan akan menambah beban subsidi negara kepada penggunanya. Ini tidak adil karena sebenarnya mobil ini telah mendapatkan insenti penghapusan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) 0%.

Secara teori mobil ini oleh pemerintah memang diniatkan untuk sesuai mengurangi beban subsidi pajak yang setiap tahunnya mencapai 200 triliun lebih seraya untuk mendorong industri otomotif dalam negeri sebagai industri unggulan.

Pada kenyataannya mobil LCGC membengkakan subsidi BBM karena tidak ada pengaturan untuk membatasi penggunaan BBM subdisi alias bensin. Data Pertamina menunjukkan konsumsi bahan bakar subsidi pada Februari 2014 ini mengalami kenaikan 0,6 persen dibandingkan periode Frebruari 2013. Realisasi penyaluran BBM subsidi mencapai 7,26 juta kiloliter (kl) dari kuota tahun 2014 sebanyak 47,36 juta kl. Perinciannya adalah 4,6 juta kl premium dan 2,48 juta kl solar.

Untuk menekan konsumsi bensin langkah yang ditempuah adalah n mengecilkan lubang tangki bahan bakar (fuel inlet) dan juga nozzle bahan bakar Research Octane Number (RON) 92 SPBU akar tidak dapat diisi bensin yang memiliki nozzle besar. Fuel inlet diperkecil menjadi 0,75 inci.

Program di bawah Kementerian Perindustrian diharapkan dapat mengantisipasi meningkatnya konsumsi BBM bersubsidi. Apalagi beberapa waktu lalu Wakil Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro, melakukan protes terhadap kebijakan ini.

Menurut Bambang kebijakan mobil murah diraih dengan efisiensi bukan dengan subsidi. Baginya tidak penting adanya mobil murah kalau hanya memberatkan keuangan negara. “Kita inginnya mobil murah yang tidak memberatkan negara,” tegas dia.

Menteri Perindustrian MS Hidayat, Menurut Menperin, lewat Gakindo meminta agar kepada produsen mobil LCGC agar melaukan sosialsiasi dan mengubah ukurang lubang tangki bahan bakar. "Gaikindo perlu melakukan sosialisasi usulan ini kepada produsen mobil," kata dia.

Menperin juga telah meminta pihak Pertamina sebagai penyedia bahan bakar subsidi untuk melakukan perubahan nozzle bahan bakar. Selain ciperkecil kemungkinan lubang nozzle bahan bakar akan berbentuk segitiga. Hidayat mebahkan perubahan lubang BBM dan nozzle itu akan disusul payung hukum yang jelas.

Namun, proses perubahan lubang nozzle pada mobil murah ramah lingkungan atau low cost green car (LCGC) dinilai belum akan terwujud dalam waktu dekat. Pasalnya agen tunggal pemegang merk (ATPM) LCGC harus membuat ulang desain untuk perubahan tersebut.

Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kementerian Perindustrian Budi Darmadi mengatakan, pada dasarnya pihak ATPM tidak merasa keberatan mengubah lubang nozzle tersebut.

Related posts