PHK Karyawan Sampoerna Patut Dicurigai - Industri Rokok Kretek

NERACA

Jakarta - Koordinator Nasional Komunitas Kretek Abhisam Demosa mencurigai adanya rencana penghancuran pasar rokok kretek terkait dengan aksi penutupan pabrik rokok PT HM Sampoerna dan menyebabkan pemutusan hubungan kerja (PHK) ribuan pekerjanya.

Abhisam mengatakan HM Sampoerna merupakan pemimpin pasar Sigaret Kretek Tangan (SKT), jika penutupan pabrik karena persoalan penurunan konsumsi rokok SKT maka yang terkena imbasnya adalah perusahaan yang lebih kecil dahulu.

"Kalau kami melihatnya begini, HM Sampoerna 2013 jelas SKP mereka masih market leader di Indonesia, harusnya yang lain dulu yang menutup pabrik tetapi yang lain tidak mengalami penutupan pabrik, lucunya kami tidak percaya," kata Abhisam di Jakarta, akhir pekan lalu.

Atas hal tersebut, dia mengaku, tidak percaya jika permasalahan bisnis bergesernya perokok SKM ke SKT membuat HM Sampoerna bangkrut sehingga menutup pabriknya. "Jadi kami tidak percaya penutupan itu hanya persoalan bisnis," tutur dia.

Abhisam mencurigai ada motif lain dibalik penutupan pabrik SKT HM Sampoerna, motif tersebut adalah penghancuran pasar rokok kretek. Kalau ini memang benar terjadi dia menyayangkan, pasalnya rokok kretek menyerap tembakau lokal dan banyak tenaga kerja yang banyak di Indonesia.

"Kami mencurigai, ada skenario besar menghacurkan keretek, keretek itu tembakaunya banyak mengunakan lokal, keretek banyak menyerap tenaga kerja. Untuk rokok putih tembakaunya dikitr tenaga kerjanya sedikit," tukas dia.

Disisi lain, ratusan Pabrik rokok di Malang, Jawa Timur, gulung tikar. Tercatat, jumlah pabrik rokok yang ada di Malang hanya tinggal 40 pabrik di 2014 ini dari sebelumnya yang mencapai 387 pabrik pada 2009.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Forum Masyarakat Industri Rokok Indonesia (Formasi), Suhardjo mengatakan, banyak pabrik rokok yang kondisinya kembang kempis dan siap berguguran. “Data yang kami dapat dari Kantor Bea Cukai Malang, saat ini hanya tersisa 40 pabrik rokok yang masih aktif beroperasi,” kata Suhardjo.

Ia melanjutkan, lima tahun lalu tenaga kerja yang terserap dari pabrik rokok mencapai 200 ribu tenaga kerja, sedangkan saat ini hanya tinggal 25 ribu tenaga kerja saja. Penyebab banyaknya PR di Malang yang tutup ini disebabkan oleh beberapa hal.

Mulai dari melambungnya harga pita cukai rokok, naiknya harga bahan baku seperti cengkeh dan tembakau hingga regulasi pemerintah. “Bukan malah melindungi atau mengembangkan industri rokok dalam negeri, regulasi pemerintah justru seperti mematikan usaha rokok,” ucap Suhardjo.

Regulasi yang dinilai memberatkan itu antara lain, Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 200 Tahun 2008. Salah satu item peraturan itu, sebuah pabrik rokok yang memiliki luas area pabrik di bawah 200 meter persegi harus tutup.

Selain itu, tutupnya pabrik rokok tersebut juga disebabkan adanya Peraturan Pemerintah (PP) No.109/2012 tentang Pengendalian Produk Tembakau. “Regulasi itu sepertinya pesanan asing. Kami berharap ada perubahan kebijakan yang berpihak pada kami,” tutur Suhardjo.

Saat ini, pabrik rokok yang ada di Malang tersebut berupaya tetap bertahan di tengah ketatnya persaingan dan regulasi yang dinilai tidak berpihak. “Sulit adanya penambahan investasi atau pun investasi baru,” kata Suhardjo.

PHK Karyawan

Seperti jamak diberitakan, PT HM Sampoerna, salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 4.900 karyawannya yang berada di Jember dan Lumajang, Jawa Timur. Pihak perusahaan beralasan bahwa hal ini dilakukan karena terus menurunnya pangsa pasar Sigaret Kretek Tangan (SKT) yang diproduksi di kedua wilayah tersebut.

Sekretaris Jenderal Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) Hasan Aoni Aziz membenarkan bahwa setiap tahunnya terjadi penurunan pangsa pasar dari jenis rokok SKT ini. "Pangsa pasar kretek SKT memang sedang mengalami penurunan dan selalu turun tiap tahunnya. Yang stabil, bahkan justru meningkat itu SPM (Sigaret Putih Mesin) dan SKM (Sigaret Kretek Mesin)," ujarnya.

Dia menjelaskan, pola kebiasaan masyarakat yang saat ini lebih banyak mengkonsumsi SKM jenis mild ini yang lama-kelamaan menggerus pangsa pasar SKT, sehingga pada akhirnya mempengaruhi hidup dan matinya industri rokok SKT itu sendiri. "Mild ini jenis rokok yang luar biasa menggerus rokok jenis SKT. Jadi polanya seperti ini, jika terjadi kenaikan konsumsi pada SKM, biasanya akan diikuti dengan penurunan pada SKT," jelasnya.

Menurutnya, pola konsumsi rokok memang berbeda dengan pola konsumsi produk lain. Jika konsumsi satu jenis rokok penurunan, maka akan terjadi kenaikan pada jenis rokok yang lainnya. Hal ini karena secara total, pangsa pasar rokok cenderung tidak berubah karena orang yang berhenti untuk merokok terhitung tidak banyak dan butuh proses yang panjang.

Sementara itu, Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Panggah Susanto mengatakan selain Sampoerna, ada perusahaan lain yang juga terkena dampak penurunan pangsa pasar SKT ini. Salah satu perusahaan tersebut yaitu PT Gudang Garam. "Ada juga Gudang Garam, saya denger-denger seperti itu. Penurunan pangsa pasanya malah lebih besar. Kalau Sampoerna sekitar 12%, Gudang Garam bisa mencapai 20%," ujarnya.

Related posts