Tekanan Inflasi Tak Capai 1%

Dekati Lebaran

Kamis, 04/08/2011

NERACA

Jakarta---Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkap potensi dorongan inflasi saat puasa dan Idul Fitri takkan melebihi 1%.. Alasanya lanju inflasi masih bisa dikendalikan. Namun demikian seluruh pihak diharapkan tidak menurunkan tingkat kewaspadaan.

"Mungkin pengamat menduga Agustus lebih tinggi dibanding Juli, tapi tidak akan lebih tinggi dari satu persen," kata Kepala BPS, Rusman Heriawan kepada wartawan di Jakarta,3/8

Lebih jauh kat Rusman, berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, di tengah meningkatnya permintaan masyarakat selama puasa dan lebaran, laju inflasi masih terkendali. Angka inflasi sepanjang tahun ini sempat menyentuh level tinggi pada Juli lalu. "Pengalaman tahun sebelumnya seperti itu," tambahnya.

Menurut Rusman, angka inflasi mulai merangkak naik, biasanya terjadi pada akhir-akhir pekan puasa. Kebijakan pemerintah melakukan operasi pasar untuk menekan laju inflasi dinilai kurang berhasil pada waktu-waktu tersebut. "Minggu terakhir itu kan euforianya lebaran, tapi inflasi lebih banyak dibentuk pada minggu terakhir menjelang lebaran," ujarnya.

Berdasarkan catatan BPS, inflasi pada Juli 2011 sebesar 0,67%, sehingga laju inflasi Januari-Juli (year to date) mencapai 1,74%. Sementara itu, laju inflasi year on year turun dari 5,54% hingga Juni menjadi 4,61% pada Juli 2011. "Inflasi yoy 4,61%, jauh di bawah 5%," ujarnya.

Lebih jauh kata Rusman, BPS mencatat, inflasi inti pada Juli 2011 sebesar 0,42 persen atau 4,55 persen secara yoy. "Yang menarik, tingkat inflasi yoy untuk inflasi umum dan inflasi inti, angkanya hampir sama," tambahnya.

Selama Juli, penyumbang terbesar inflasi berasal dari komoditas beras dengan kontribusi 0,22 persen, diikuti daging ayam ras (0,13%), dan telur ayam ras (0,6%). Komoditas lain yang ikut menyumbang tingkat inflasi pada bulan lalu adalah emas perhiasan dengan kontribusi pada inflasi sebesar 0,03%. Relatif tingginya kontribusi komoditas emas pada laju inflasi disebabkan harga emas di pasar dunia saat ini sedang melonjak tinggi.

BPS juga mencatat munculnya inflasi yang berasal dari biaya pendidikan sebesar 0,06%. Masuknya tahun ajaran baru menyebabkan biaya pendidikan menyumbang relatif tinggi pada laju inflasi Juli 2011. "Semoga kementerian pendidikan dapat mengatasi gejolak biaya," jelasnya.

Di samping sejumlah komoditas yang mengalami kenaikan harga, BPS juga melaporkan adanya beberapa komoditas bahan pokok yang mencatat penurunan harga. Setidaknya dua komoditas mengalami penurunan harga atau deflasi yaitu bawang putih sebesar 0,08% dan cabe rawit 0,03%.

Kemarin, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Hatta Rajasa Hatta meminta agar ekanan inflasi pada Agustus 2011 tetap harus diwaspadai. Alasanya Agustus ini ada Ramadhan dan Idul Fitri. Karena itu diperkirakan laju inflasi bisa terkerek kembali. "Inflasi tetap kita waspadai dan itu biasanya bulan Agustus. Sebab, Agustus dapat mencapai angka yang cukup tinggi," ujarnya

Menurut mantan Mensesneg ini, tekanan inflasi Juli 2011 yang diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) sebesar 0,67% meleset dari perkiraan. "Inflasi yang diumumkan kemarin itu dengan hasil 0,67, diperkiraan saya hanya 0,5%-0,7%," tambahnya.

Namun, Hatta mengakui, inflasi tahunan atau year on year (yoy) belum mencapai 5%. Artinya, kalau mematok 5,5% optimistis di bawah angka itu. "Barangkali kita optimis di bawah itu," tegasnya. **cahyo