Menakar Prospek Harga Rights Issue Garuda

Pemerintah Ingatkan Jangan Gagal

Selasa, 25/03/2014

NERACA

Jakarta – Ditengah memburuknya kinerja keuangan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) dengan mengantungi rugi selisih kurs, rupanya tidak mempangaruhi rencana perseroan untuk menerbitkan saham baru melalui hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue melalui Penawaran Umum Berkelanjutan (PUT) I sebanyak-banyak 3,23 miliar lembar saham.

Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin. Rencana ini merupakan aksi korporasi perseroan untuk memperkuat modal dalam menambah armada baru seiring dengan rencana membuka rute-rute baru. Hanya saja, pemerintah memberikan pesan agar aksi korporasi ini tidak mengulang kegagalan perseroan saat IPO.

Menteri BUMN Dahlan Iskan mengimbau kepada manajemen PT Garuda Indonesia Tbk dan penjamin emisi (underwriter) agar mencermati kondisi pasar modal sebelum menerbitkan saham baru (rights issue), “Yang penting dari saya, jangan seperti kayak dulu (IPO). Saya tidak mau ikut-ikut," ujar Dahlan.

Dia juga mengakui, saat ini harga saham di Bursa Efek Indonesia tengah fluktuatif. Begitu juga dengan saham maskapai penerbangan pelat merah tersebut,”Cari investor memang paling sulit sebab harganya (Garuda) banyak orang bilang lagi murah sekali," katanya.

Serta, melemahnya harga saham, investor yang akan berpartisipasi dalam aksi korporasi ini harus memiliki komitmen. Dirinya mengharapkan kedua BUMN yang bergerak dalam bidang jasa keuangan non bank ini dapat menemukan investor yang kredibel. "Saya enggak mau Garuda kembali menyusahkan Bahana," jelasnya.

Disebutkan, dalam rights issuenya, Garuda mematok harga pelaksanaan rights issue Rp460 per lembar, sehingga hasil PUT I sebesar Rp1,5 triliun. Dalam aksi korporasi ini, pemerintah tidak akan menyerap seluruh rights issue perseroan yang menjadi haknya sebanyak 2,23 miliar lembar.

Jika rights issue tersebut tidak seluruhnya diserap pemegang HMETD, maka sisanya akan dialokasikan kepada pemegang HMETD lain yang melakukan pemesanan lebih dari haknya. Namun, jika setelah alokasi masih terdapat sisa saham, maka seluruh saham baru yang tersisa tidak akan dikeluarkan dari protepel saham perseroan.

Sementara berdasarkan Perjanjian Pembeliaan tanggal 6 Maret 2014 dan Adendum Perjanjian Pembelian tanggal 19 Maret 2014 antara Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan penjamin pelaksana emisi, yakni PT Bahana Securities, PT Danareksa Sekuritas dan PT Mandiri Sekuritas bahwa rights issue sebesar 2,23 miliar akan dijual kepada ketiga agen penjualnya itu masing-masing 743,89 miliar lembar saham.

Adapun penggunaan dana hasil rights issue terdiri dari dua skema. Skema pertama, sesuai dengan perjanjian pembelian pada 6 Maret 2014 yang telah diubah 19 Maret 2014, maka pemerintah akan menjual HMETD sebesar 69,14% dari seluruh HMETD yang diterbitkan pada PUT I kepada agen penjualnya.

Apabila HMETD tersebut hanya dilaksanakan oleh tiga sekuritas pelat merah itu, sedangkan pemegang saham lainnya tidak melaksanakan HMETD yang dimilikinya, maka seluruh dana yang diperoleh dari hasil PUT I digunakan untuk pengembangan armada baru yang direncanakan pesawat jenis Boeing 737, B777, Airbus 330 dan A320. (bani)