Kemenperin Ajak Industri Komponen Ambil Peran

Konversi BBM ke BBG

Kamis, 20/03/2014

NERACA

Jakarta - Penggunaan bahan bakar minyak (BBM) yang semakin besar akibat pertumbuhan industri otomotif nasional membuat penggunaan bahan bakar alternatif seperti gas harus dilakukan. Direktur Industri Alat Transportasi Darat Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Soerjono mengatakan Dengan penggunaan BBM yang terus menerus, harus ada alternatif penggunaan bahan bakar lain seperti bahan bakar gas (BBG). Ke depannya, pemakaian BBG harus dipercepat.

Saat ini, menurut Soerjono, pihaknya masih terus membangun kesan tentang penggunaan BBG tidak menakutkan dan masyarakat dapat melihat penggunaan BBG aman bagi kendaraan. “Dengan peralihan ini, komponen-komponen pendukung untuk kendaraan gas harus disediakan. Sektor industri komponen dalam negeri bisa menangkap kesempatan ini,” paparnya di Jakarta, Rabu (19/3).

Industri komponen, lanjut Soerjono, harus membuat mesin yang langsung menggunakan Compressed natural gas (CNG). Produk ramah lingkungan harus semakin dikembangkan agar industri komponen semakin tumbuh.“Konsekuensinya, industri komponen harus bisa membuat mesin yang langsung menggunakan teknologi CNG dan tidak memakai converter kit,” ujarnya.

Soerjono menambahkan, pihaknya ingin industri komponen dalam negeri semakin kuat. Industri komponen merupakan cikal bakal industri otomotif. “Kami konsentrasi agar industri komponen semakin kuat dan bisa sekuat industri komponen di Jepang,” tuturnya.

Jumlah industri yang memasok komponen di Indonesia masih sedikit dibandingkan Malaysia dan Thailand. Malaysia memiliki 400 unit industri yang memasok komponen, terdiri dari 400 unit usaha yang terdiri dari 100 perusahaan di lapis pertama dan 140 perusahaan di lapis ke 2 dan 3.

Sedangkan Jumlah pemasok komponen di Thailand lebih banyak lagi, mencapai 2500 perusahaan, yang terdiri dari 500 perusahaan pemasok di lapis pertama, dan 2.000 pemasok di lapis ke 2 dan 3. Pemerintah menargetkan mobil murah dan ramah lingkungan (low-cost green car/LCGC) menggunakan seratus persen komponen produksi dalam negeri dalam lima tahun mendatang, atau pada 2019.

PT Astra Daihatsu Motor dengan mobil Agya-nya sudah berkomitmen untuk memproduksi mobilnya dengan pemenuhan komponen dalam negeri mencapai 88 %. Dia mengimbau Astra Daihatsu terus meningkatkan kandungan lokal dalam negeri. dengan adanya kewajiban menggunakan komponen dalam negeri, produk LCGC ini diharapkan akan menjadi cikal bakal produksi massal mobil nasional.

Direktur Manufaktur Astra Daihatsu, Pongky Prabowo, mengatakan penggunakan seratus persen komponen lokal perlu melibatkan kerja sama dengan perusahaan principal, yakni Toyota Corp. Dia mengaku belum tahu kapan pihaknya dapat memenuhi harapan yang seperti disebutkan Menteri Perindustrian. "Namun ini memacu kami untuk mempercepat lokalisasi agar lebih cepat tercapai," katanya.

Menurut Pongky, ada beberapa komponen yang diproduksi oleh Jepang dan negara di kawasan Asia Tenggara. Di antaranya adalah komponen yang berkaitan dengan mesin dan general engine. Penggunaan komponen asal luar negeri ini, kata dia, disebabkan oleh faktor skala ekonomi. "Ada komponen yang tidak bisa diproduksi kalau volume unitnya tidak mencukupi," katanya.

Kendati demikian, dia berharap penjualan mobil murah ini dapat tumbuh tinggi sehingga pihaknya dapat mencapai tingkat kandungan lokal dalam negeri hingga seratus persen. PT Astra Daihatsu Motor mengekspor perdana mobil murah berbasis Agya ke Filipina. Namun, kata Pongky, peluncuran mobil hemat bahan bakar ini baru akan dilakukan akhir Februari di Filipina. Mobil ini ditargetkan terjual 6.000 unit selama setahun ini. Namun jika permintaan pasar Filipina lebih tinggi, Astra Daihatsu siap memenuhi permintaan.