Lagi, Indocement Naikkan Harga Jual 1,5%

Siasat Tekan Biaya Usaha

Rabu, 19/03/2014

NERACA

Jakarta – Dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika, cukup memukul kinerja PT Indocement Prakarsa Tbk (INTP). Pasalnya, lantaran anjloknya rupiah beban usaha perseroan juga ikut terkerek. Hal ini sangat beralasan, karena sebagian besar cost produksi bahan baku atau sekitar 50% harus dibayar dengan dolar. Maka untuk menjaga keberlangsungan usaha kedepannya, perseroan terpaksa harus menaikkan harga jual semen di pasaran.

Executive Director PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, Christian Kartawijaya mengatakan, kenaikan harga jual semen domestic sudah dilakukan pada awal tahun ini sebesar 1,5%, “Kami pada awal Maret lalu telah menaikan harga jual sebesar 1-1,5%, ini karena depresiasi rupiah,”ujarnya.

Kenaikan ini, lanjutnya, sudah dilakukan untuk kedua kalinya. Pasalnya, pada Desember tahun lalu perseroan sudah menaikan harga jual sebesar 1,5%. Hal ini dilakukan perseroan juga dikarenakan oleh meningkatnya beban usaha perseroan pada periode tersebut,”Pada tahun lalu kami telah menaikan harga jual sebesar 1,5% ini juga karena meningkatnya beban usaha kami,”ungkapnya.

Sebagai catatan, pada 2013 lalu beban usaha meningkat sebesar 10,5% dari Rp2,42 triliun di 2012 menjadi Rp2,67 triliun. Kata Christian, kenaikan harga di pulau Jawa lebih tinggi dibandingkan kenaikan harga nasional. Kenaikan harga khusus pulau Jawa mencapai 2,5%.

Namun dirinya menegaskan, hingga saat ini perseroan masih mengkaji apakah masih perlu menaikan harga jual semen berikutnya,"Kami akan lihat kemungkinan untuk menaikan harga, ini semua tergantung supply and demand. Kalo pasar bisa terima kenaikan harga akan kami lakukan, namun kalau tidak kami akan kaji kembali,”tandasnya.

Sebagai informasi, tahun ini perseroan mengalokasikan dana belanja modal sebesar Rp 4,5 triliun untuk mendukung ekspansi bisnisnya. Disebutkan, belanja modal pada tahun ini tercatat lebih besar dibandingkan realisasi belanja modal tahun lalu sebesar Rp2,19 triliun.

Rencananya, perseroan akan mendanai belanja modal tersebut dari kas internal. Menurut Christian, persreoan sepanjang tahun 2014 ini merencanakan sejumlah ekspansi, salah satunya pengembangan vertical raw mill yang baru berkapasitas 1,9 juta ton di Citeureup. Pembangunan ini diharapkan selesai pada akhir kuartal I/2014.

Selain itu, perseroan juga dalam tahap persiapan untuk proses perizinan pembangunan dua unit pabrik semen baru. Dia berharap, dua pabrik baru tersebut dapat berkontribusi pada penambahan kapasitas produksi masing-masing 2,5 juta ton semen per tahun,”Satu pabrik di Jawa Tengah dan yang lainnya di luar pulau Jawa,”ujarnya.

Tercatat sepanjang tahun lalu, perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp5,01 triliun, naik 5,25% dibanding tahun 2012 senilai Rp4,76 triliun. Naiknya laba bersih didukung meningkatnya pendapatan bersih pada perode sama sekitar 8,1% menjadi Rp18,69 triliun dibanding tahun sebelumnya Rp17,29 triliun.

Selain itu, naiknya pendapatan bersih seiring bertambahnya beban pokok pendapatan menjadi Rp10,04 triliun dari sebelumnya Rp9,02 triliun. Akibatnya, laba bruto perseroan pada akhir tahun lalu tercatat sebesar Rp8,65 triliun, naik tipis dibanding tahun sebelumnya Rp8,27 triliun.

Sementara beban usaha produsen semen ini meningkat menjadi Rp2,68 triliun dari Rp2,42 triliun dan pendapatan operasi lain juga bertambah menjadi Rp136,25 miliar dari Rp100,51 miliar. Sedangkan beban operasi lain berhasil ditekan menjadi Rp47,11 miliar dari Rp68,99 miliar, sehingga laba usaha meningkat menjadi Rp6,06 triliuun dari tahun sebelumnya Rp5,88 triliun.

Sementara laba per saham dasar perseroan pada akhir tahun lalu terkerek menjadi Rp1,361,02 dari Rp1.293,15 per saham. Adapun, laba INTP pada pembukaan pagi tadi berada di level Rp24.800 per saham, naik 300 poin dibanding penutupan kemarin di level Rp24.500 per saham. Kemudian untuk total aset perseroan pada akhir tahun lalu tercatat sebesar Rp26,61 triliun, naik 16,92% dibanding 2012 senilai Rp22,76 triliun. Sedangkan total utang INTP bertambah menjadi Rp3,63 triliun dibanding sebelumnya Rp3,34 triliun. (bani)