Perbaikan Infrastruktur Harus Jadi Prioritas

Harapan Pengusaha kepada Presiden Baru

Selasa, 18/03/2014

NERACA

Jakarta – Masalah infrastruktur masih menjai problem utama di negeri ini, banyak pengusaha yang berharap besar akan adanya pembenahan dan perbaikan infrastruktur nasional guna pencapaian produktifitas produksi yang lebih baik. Para pengusaha pun menaruh harapan besar perbaikan dan pembenahan itu dapat dilakukan oleh pemimpin maupun presiden negeri ini kelak setelah menduduki kursi kepresidenan.

Iskandar Zulkarnain Ketua Umum Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) mengatakan, elektabilitas pencapresan Joko Widodo (Jokowi) sangat kuat, harapnnya jika ia kelak menduduki kursi kepresidenan tetap mempertahankan konsep kerjanya yang lebih mengandalkan terobosan baru daripada sekadar teori dalam visi misinya sebagai calon presiden (capres).

"Mudah-mudahan dia tetap mengedepankan terobosan daripada teori, jadi lebih banyak praktiknya. Sehingga pembangunan bisa berjalan full speed," katanya di Jakarta, Senin (17/3).

Menurutnya, bukan hanya Jokowi saja, siapa pun yang terpilih menjadi presiden menggantikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono nantinya harus mampu meneruskan program sistem logistik nasional (Sislognas) yang telah disusun oleh pemerintah bersama stake holder di dalamnya. Salah satu upayanya yaitu dengan terus adanya perbaikan infrastruktur nasional.

"Tapi siapa pun presidennya, logistik itu kan punya sislognas, jadi tidak perlu lah bikin baru lagi. Sislognas ini sudah bagus karena melibatkan juga akademisi dan pemerintah. Dari pola pikirnya, banyak negara yang kami adopsi. Jadi tidak perlu bikin lagi supaya tidak buang-buang anggaran lagi," imbuhnya.

Ditempat yang sama Sekretaris Jenderal ALFI Yuki Nugraha mengatakan, siapa pun yang terpilih menjadi presiden untuk periode mendatang, diharapkan mampu menjalankan keinginan dari para pelaku usaha logistik dalam negeri seperti melakukan perbaikan infrastruktur sehingga mampu menekan ongkos logistik. "Yang dibutuhkan oleh pelaku usaha siapapun yang akan dipilih, yaitu apapun yang mau kami titipkan kepada presiden, dia dapat menjalankannya dengan baik," ujarnya.

Sebelumnya Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia bidang logistik, Carmelita Hartoto, Pemerintah harus bergerak cepat mengejar ketertinggalan pembangunan dan pengembangan infrastruktur, khususnya sektor transportasi dan logistik. Kondisi infrastruktur kedua sektor tersebut masih minim, sehingga daya saing nasional menjadi terpuruk jauh di bawah negara-negara lainnya. “Salah satu penyebab utama rendahnya daya saing Indonesia adalah tertinggalnya pembangunan infrastruktur transportasi. Akibatnya, biaya logistik kita tertinggi di ASEAN,” katanya.

Menurutnya, salah satu upaya membenahi itu semua adalah sektor usaha jasa logistik swasta harus bersinergi, berkolaborasi, serta meningkatkan kompetensi guna mempertahankan pasar logistik swasta nasional.

Pelaku usaha logistik dan kalangan asosiasi usaha, agar menjadi garda terdepan dalam mendorong perubahan sistem dan paradigma logistik. Sektor logistik yang dimotori swasta nasional harus menjadi tulang punggung pembangunan perekonomian nasional.

“Untuk mempercepat pembangunan infrastruktur transportasi dan logistik, dapat dilakukan dengan memberi insentif fiskal plus moneter, sinkronisasi kebijakan, sertifikasi SDM, dan konsolidasi potensi logistik nasional,” ujarnya.

Carmelita memperkirakan jika semua ini dilakukan, berdasarkan Tingkat Pertumbuhan Tahunan Gabungan (CAGR), hal ini dapat mendongkrak pertumbuhan pasar jasa transportasi dan logistik sekitar 14,7 persen hingga 2016. Semakin banyaknya dibangun proyek-proyek infrastruktur, akan menekan biaya logistik yang saat ini terbilang cukup tinggi karena keterbatasan infrastruktur di Tanah Air.

Ranking Indonesia dalam Logistic Performance Index (LPI) yang dikeluarkan Bank Dunia, meningkat dari posisi 75 pada 2010 menjadi peringkat 59 pada 2012. Namun, posisi ini masih berada di bawah beberapa negara sekawasan, seperti Malaysia (posisi 29), Thailand (posisi 38), Filipina (posisi 52), dan Vietnam (posisi 53). [agus]