Sulit Diprediksi

Tahun Politik Penjualan Otomotif di 2014 Terlihat Abu-abu

Sabtu, 22/03/2014

Penjualan industri otomotif di 2014 terlihat abu-abu alias tidak jelas. Hal ini bukan alasan mengingat banyak sekali yang mempengaruhi penjualan otomotif di tahun ini dan akan berbeda dengan tahun 2013.

NERACA

Industri otomotif diperkirakan mengalami perlambatan pada 2014. Situasi perekonomian yang menurun serta naiknya tingkat suku bunga perbankan menambah tekanan terhadap penjualan kendaraan di dalam negeri. Kondisi ini terlihat pada performa penjualan otomotif pada 2013.

"Sampai sekarang belum ada satu pun yang bisa lihat apa yang akan terjadi (prediksi industri otomotif di 2014)," ujar CEO PT Garansindo Inter Global Muhammad Al Abdullah di markas besar Chrysler Group di Jakarta, belum lama ini. Garansindo adalah agen pemegang merek Chrysler, Jeep, Dodge dan Fiat di Indonesia.

.

Menurutnya berbagai kebijakan, nilai rupiah terhadap dollar menjadi poin penting untuk bisa memprediksi penjualan otomotif di 2014. "Karena banyak faktor eksternal, seperti rupiah masih lemah, suku bunga masih tinggi, dan kondisi politikal di tahun depan," tambahnya.

"Bicara soal fakta yang ada saat ini (tahun 2013) memang ada beberapa hambatan, namun sebagai pelaku bisnis, kita masih tetap harus optimis. Kita harus cari celah, disaat ada kesulitan pasti ada kesempatan," tambahnya.

Al Abdullah menambahkan dirinya bersama tim tengah mencari strategi-strategi baru apa yang akan dilahirkan dari situasi-situasi yang terjadi saat ini seperti suasana ekonomi, dan politik.

Sedangkan Ketua I Gaikindo, Jongkie Sugiarto mengatakan, meski pertumbuhan penjualannya masih tinggi, namun terlihat adanya perlambatan. Penjualan mobil misalnya, tahun ini diperkirakan hanya tumbuh sekitar 10%. Padahal pada tahun lalu pertumbuhannya mencapai 25%. Malah pada 2010 penjualan mobil nasional mencapai 57%, meski kemudian turun hanya sebear 17 persen pada tahun berikutnya.

"Tahun ini akan stagnan sekitar 1,23 juta unit, sama seperti tahun 2013 lalu, namun kalau terjadi gejolak lain dari faktor-faktor lain bisa-bisa turun jadi 1,1 juta unit," ujar Ketua I Gaikindo, Jongkie Sugiarto di Jakarta.

Menurut Jongkie, ada beberapa faktor yang akan mempengaruhi pasar otomotif 2014 yakni pertumbuhan ekonomi, inflasi, BI rate, Bea Balik Nama (BBN) & Pajak Kendaraan Bermotor (PKB), nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika dan adanya pemilu.

"Saya tambahkan bahwa ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi seperti UMP Januari kemarin, lalu isu mengenai tarif dasar listrik yang akan naik," tambah Jongkie.

Jongkie menambahkan ada beberapa catatan di 2014 dimana segmen 4x2 tetap menjadi penjualan terbesar namun akan ada pergeseran ke LCGC yang membuka pasar baru sejak September tahun lalu.

"Lalu kendaraan niaga diperkirakan akan tumbuh, namun pertumbuhannya sejalan dengan pertumbuhan ekonomi kita," ujarnya.

Segmen double cabin juga berpotensi akan mengalami pertumbuhan dikarenakan kenaikan popularitas sebagai premium lifestyle dan juga fungsinya untuk keperluan komersial.

Gaikindo mencatatkan penjualan kendaraan di Indonesia sepanjang 2013 menembus 1.229.904 unit atau naik 10,18% dibandingkan total penjualan nasional pada 2012 sebesar 1.116.230 unit.

Kemudian faktor yang juga bakal menekan penjualan kendaraan bermotor adalah tingkat suku bunga perbankan yang meningkat. Bank Indonesia sejak pertengahan tahun lalu sudah menaikkan suku bunga acuan sebesar 150 basis poin ke level 7,5 persen.

Sejumlah analis memperkirakan tahun ini suku bunga masih akan naik seiring defisit neraca transaksi berjalan yang masih tinggi serta pelemahan nilai tukar rupiah. Tingginya tingkat suku bunga membuat cicilan pembelian kendaraan menjadi lebih mahal.

Selain itu kebijakan mobil murah dan ramah lingkungan (LCGC) yang diperkenalkan pada September 2013 lalu diperkirakan tidak terlalu mendongkrak penjualan. Apalagi pemerintah ingin mengubah kebijakan terkait mobil murah tersebut seiring maraknya kritik.