Euforia IHSG Masih Berlanjut Diawal Pekan

Senin, 17/03/2014

NERACA

Jakarta – Akhir pekan kemarin, indeks harga saham gabungan (IHSG) kembali mencatatkan rekor baru hingga tembus di level 4.878,643. Derasnya aksi beli yang dilakukan investor menjadi pemicunya. Euforia aksi beli terjadi di seluruh lapisan saham setelah Jokowi menyatakan siap maju di Pemilu 2014. Aksi beli ini dilakukan oleh investor lokal dan asing.

Padahal sentimen negatif sudah marak beredar sejak awal perdagangan. Pertama, Wall Street anjlok cukup dalam gara-gara aksi jual yang gencar dilakukan investor. Kedua, krisis politik dan sosial di Ukraina makin memanas setelah militer Rusia melakukan latihan di perbatasan. Ketiga, ekonomi China yang melambat dalam dua bulan terakhir.

Kata analis Panin Sekuritas Purwoko Sartono, IHSG BEI pada penutupan perdagangan akhir pekan kemarin menguat cukup signifikan didukung oleh sentimen politik di dalam negeri setelah salah satu partai politik mengumumkan calon presidennya,”Salah satu partai telah memilih calon presiden untuk pemilu 2014," ujar dia di Jakarta, kemarin.

Kenaikan sebesar 3,23%, lanjut dia, terjadi di tengah melemahnya bursa regional akibat sentimen data China yang di luar ekspektasi dan geopolitik Ukraina. Rupanya pasar menyukai pilihan partai itu yakni Jokowi karena dinilai mempunyai rekam jejak yang bersih, pro-rakyat, dan tegas.

Dirinya memperkirakan bahwa euforia politik itu akan berlanjut pada Senin awal pekan sehingga indeks BEI kembali berada di area positif di kisaran 4.830-4.950 poin,”Diperkirakan sektor yang mendapat sentimen positif adalah infrastruktur, konstruksi, dan farmasi," kata dia.

Sementara itu, analis HD Capital Yuganur Wijanarko menambahkan, pengumuman Capres salah satu partai politik itu membuat IHSG mengalami euforia sesaat yang luar biasa,”Bila terjadi koreksi akibat ambil untung paska euforia, rekomen akumulasi untuk kembali mengakumulasi berikutnya," kata dia.

Namun sebaliknya, menurut Menteri Keuangan Chatib Basri, penguatan IHSG hingga 3,84% pada penutupan Jumat sore kemarin, lebih diakibatkan karena pengaruh sentimen dalam negeri,”Ini memang faktor lokal, kalau rupiah menguat karena pengaruh 'inflow',”ujarnya.

Chatib menjelaskan, penguatan IHSG dapat dikatakan sebagai pengaruh dalam negeri, karena bursa regional lain tidak mengalami kinerja positif seperti Indonesia dan penguatan rupiah terjadi karena minat investor asing terhadap obligasi negara,”Yang sering terjadi 'stock market' negatif tapi rupiah menguat, karena orang masuknya ke 'bonds', makanya 'yield' turun. Jadi kalau pasar menguat tajam, tapi rupiah stabil, itu fenomena lokal,”tandasnya.

Sebagai informasi, mengakhiri perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia akhir pekan kemarin, IHSG ditutup menguat tajam 152,476 poin (3,23%) ke level 4.878,643. Sementara Indeks LQ45 ditutup terbang 36,261 poin (4,56%) ke level 830,668.

Tercatat transaksi perdagangan saham akhir pekan kemarin sebanyak 272.034 kali dengan volume mencapai 6,103 miliar lembar saham senilai Rp8,399 triliun. Efek yang bergerak naik sebanyak 169 saham, yang melemah 142 saham, dan yang tidak bergerak nilainya atau stagnan 85 saham. Bursa regional, di antaranya indeks Hang Seng ditutup melemah 216,59 poin (1,00%) ke level 21.539,49, indeks Nikkei turun 488,32 poin (3,30%) ke level 14.327,66 dan Straits Times melemah 7,67 poin (0,25%) ke posisi 3.073,72.

Perdagangan sesi pertama, indeks BEI ditutup melemah 35,642 poin (0,75%) ke level 4.690,525. Sementara Indeks LQ45 terkoreksi 7,090 poin (0,89%) ke level 787,317. Indeks sama sekali tidak menyentuh zona hijau sejak pembukaan perdagangan. Indeks terus meluncur tajam hingga ke titik terendahnya di 4.676,232.

Perdagangan sesi pertama berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 127.531 kali pada volume 4,246 miliar lembar saham senilai Rp 8,743 triliun. Sebanyak 84 saham naik, 180 saham turun, dan 75 saham stagnan. Nilai dan volume perdagangan melonjak tajam karena adanya penjualan saham PT Bank Tabungan Pensiunan Tbk (BTPN) senilai Rp 6 triliun di pasar negosiasi. Transaksi ini dilakukan oleh PT Trimegah Securities (LG) sebagai penjual dan Maybank Kim Eng Securities (ZP) sebagai penjual.

Sentimen melambatnya ekonomi China membuat pelaku pasar Asia gencar lakukan aksi jual. Pelaku pasar juga berhati-hati dalam bertransaksi sambil memantau kabar dari Ukraina. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya HM Sampoerna (HMSP) naik Rp 300 ke Rp 69.800, Bali Towerindo (BALI) naik Rp 150 ke Rp 750, Surya Citra (SCMA) naik Rp 115 ke Rp 3.070, dan Waran Bali (BALI-W) naik Rp 105 ke Rp 875.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Gudang Garam (GGRM) turun Rp 1.150 ke Rp 47.300, Surya Toto (TOTO) turun Rp 550 ke Rp 7.425, Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 550 ke Rp 24.350, dan Astra Agro (AALI) turun Rp 525 ke Rp 25.775.

Kemudian diawal perdagangan, indeks BEI dibuka melemah 32,35 poin atau 0,68% menjadi 4.693,82 terkena dampak negatif dari bursa global. Sementara indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 8,39 poin (1,06%) ke level 786,02,”Melemahnya bursa saham Eropa dan AS merambah ke indeks saham di kawasan Asia termasuk IHSG BEI," kata Head of Research Valbury Asia Securities, Alfiansyah. (bani)