Rupiah Anjlok, Bisnis Kertas Fajar Surya Ikut Jeblok - Catatkan Rugi Kurs Tumbuh 30%

NERACA

Jakarta- Merosotnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang dolar Amerika pada tahun lalu menjadi momok bagi pelaku industri. Tidak terkecuali bagi emiten kertas, PT Fajar Surya Wisesa Tbk (FASW) yang bahan bakunya didatangkan dari impor. “Hampir 50% dari bahan baku yang digunakan didatangkan secara impor. Sehingga kita mengalami rugi karena rugi kurs.” kata Sekretaris Perusahaan Fajar Surya Wisesa, Marco Hardy di Jakarta, Kamis (13/3).

Oleh karena itu, menurut dia, selama rupiah masih berada di level 12 ribu ke atas, pihaknya masih berpotensi mencatatkan kerugian. Diketahui, lantaran membengkaknya nilai tukar dollar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah yang hampir menyentuh 30% menjadikan perseroan mengalami rugi bersih sebesar Rp249,05 miliar. Padahal, di tahun 2012, emiten ini masih berhasil mencatatkan keuntungan sebesar Rp5,29 miliar.

Lebih lanjut dirinya mengatakan, hal tersebut terlihat dengan membengkaknya biaya pembelian bahan baku yang menjadi 26,52% menjadi Rp3,21 triliun. Sementara pada periode yang sama tahun 2012, perseroan masih sanggup menahan laju biaya pembelian bahan baku diangka Rp2,57 triliun. Hal inilah yang akhirnya membuat kenaikan penjualan perseroan tidak begitu berpengaruh. Padahal jika dilihat, penjualan perseroan meningkat 24,62% menjadi Rp4,96 triliun, bandingkan dengan penjualan pada tahun 2012 yang hanya mencatatkan angka sebesar Rp3,98 triliun.

Selain dari faktor bahan baku, sambung dia, perseroan juga mengalami tekanan dalam kinerja keuangannya karena besarnya utang dalam bentuk dollar AS. Tercatat, sepanjang tahun 2013, jumlah utang perseroan dalam bentuk dollar AS sebanyak Rp3,28 triliun. Nilai ini terbagi atas utang bank sebesar Rp372,58 miliar, kemudian utang usaha sebesar Rp475, 25 miliar, dan utang bank dan lembaga keuangan jangka panjang sebesar Rp2,44 triliun. Angka ini mencapai 79,53% dari total liabilitas perseroan pada tahun lalu yang mencapai Rp4,13 triliun.

Sebagai strateginya, perseroan pun akan meningkatkan pembelian bahan baku dari dalam negeri, dan mengurangi penggunaan bahan baku impor dari 50% menjadi hanya 30%. “Kami kesulitan dalam mencari bahan baku dari dalam negeri, karena supplynya kurang, tetapi kami akan tetap fokus meningkatkan penggunaan bahan baku lokal pada tahun ini,” jelasnya.

Sementara itu, dalam pengembangan bisnisnya di tahun ini, perseroan akan melakukan pembangunan pabrik kertas baru ke-8 di Jawa Timur. Pabrik baru itu dibangun di atas lahan 50 hektare dan diperkirakan rampung pada semester kedua 2015 atau awal 2016.

Adapun nilai investasi pabrik tersebut ditaksir mencapai US$165 juta, yang antara lain akan disumbang dari pinjaman perbankan. Pembangunan pabrik ini diharapkan dapat mendukung permintaan kertas yang diproyeksi akan semakin meningkat. Terutama untuk kertas kemasan, seiring dengan pertumbuhan industri pendukungnya, seperti makanan dan minuman.

Setelah pabrik itu rampung dan beroperasi, kapasitas produksi diharapkan bertambah 350.000 ton per tahun pada 2016 mendatang atau meningkat 30% dari saat ini. Dengan demikian, nantinya total kapasitas produksi diproyeksikan mencapai 1,55 juta ton per tahun. (lia)

Related posts