Kimia Farma Bangun Pabrik Garam

Investasikan Dana Rp 25 Miliar

Kamis, 13/03/2014

NERACA

Jakarta – Dalam rangka memaksimalkan ketersedian bahan baku dari bahan herbal, salah satunya garam. PT Kimia Farma Tbk (KAEF) terus menekan biaya produksi akibat melemahnya rupiah terhadap dolar. Hal ini dilakukan karena 85% bahan baku perseroan masih impor.

Direktur Riset dan Pengembangan Bisnis PT Kimia Farma Tbk, M Wahyuli Syafari mengatakan, untuk memenuhi ketersedian garam sebagai bahan baku farmasi, perseroan berencana membangun pabrik garam dengan menggandeng badan usaha milik negara (BUMN) lain, yaitu Perusahaan Nasional Garam sebagai pemasok sumber bahan bakunya.

Selain itu, perseroan juga akan bekerjasama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bertindak sebagai konsultan. Rencananya pada tahun ini juga pabrik produksi garam farmasi tersebut akan dikembangkan di Mojokerto, Surabaya, Jawa Timur,”Selama ini, kami memperoleh NaCl diimpor dari China, padahal PN Garam mempunyai pabrik kualitas sejenis di Surabaya. Jika kapasitas produksi nasional telah terpenuhi, maka tidak menutup kemungkinan kami akan mengimpornya ke negara lain, namun sebelumnya bahan baku tersebut harus diaudit oleh Current Quality Good Manufacturing atau cara pembuat bahan baku yang baik,”ujarnya di Jakarta, Selasa (12/3).

Untuk tahap awal, kata dia, pabrik eksisting tersebut diharapkan dapat memproduksi obat-obatan berbahan dasar garam sekitar 1.000-1.500 ton per tahun. Sedangkan kebutuhan nasional untuk jenis obatan tersebut dapat mencapai 3.000 ton per tahun. Dengan modal disetor sebesar Rp25 miliar, perseroan berharap pabrik ini bisa mulai menghasilkan pada awal Januari 2015,”Sebagai BUMN, kita mendapat amanah harus bisa mandiri dan memperoleh bahan baku yang sumbernya berasal dari Indonesia, sebagai negara lautan Indonesia banyak menghasilkan garam. NaCl ini diperlukan untuk membantu mengatasi cairan tubuh dalam masa perawatan dan dehidreasi,” tutur dia.

Kata M Wahyuli, dengan memaksimalkan produk dari dalam negeri, perseroan tidak akan terpengaruh terhadap kenaikan harga dolar Amerika dan sebaliknya, dengan menggunakan bahan baku dari dalam negeri bisa menambah devisa negara.

Disebutkan, selain garam produk dalam negeri, perseroan juga akan menggunakan produk herbal yang siap dimanfaatkan perseroan, yaitu produk teh yang terbuat dari tumbuhan kumis kucing. Menurut dia, potensi pasarnya cukup besar, bahkan bisa diekspor hingga Jerman.

Selain itu, perseroan juga akan memaksimalkan obat-obatan dari jenis jamu-jamuan,”Kami memiliki aset dengan bentuk lahan perkebunan herbal seluas 1.060 hektar (ha) di wilayah Bandung, ini yang akan kita manfaatkan. Tapi kami juga masih membutuhkan kerja sama dengan investor luar untuk teknik kimia dasar dalam pemanfaatn obat-obatan herbal,” jelas Wahyuli.

Untuk diketahui, perseroan tahun ini menargetkan penjualan sebesar Rp5,56 triliun atau meningkat 20 persen dibandingkan target penjualan sepanjang tahun lalu. Target pendapatan tersebut didorong sejumlah sektor, terutama di bidang manufaktur, ritel maupun trading. Selain itu, untuk menggenjot penjualan pada tahun ini, Kimia Farma juga siap memperbesar pasar ekspor ke sejumlah wilayah.

Sepanjang tahun lalu, perseroan mencatatkan peningkatan penjualan Rp4,35 triliun atau naik 16,44 persen dibanding penjualan di tahun 2012 sebesar Rp3,73 triliun. Kinerja yang positif ini mampu mendorong laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tumbuh menjadi Rp214,55 miliar di tahun 2013 dari perolehan serupa di tahun 2012 senilai Rp205,76 miliar. (bani)

Topik Terkait

pabrik garam mojokerto