Kenaikan NJOP Pengaruhi Investasi Properti

Kamis, 13/03/2014

NERACA

Tangerang – Adanya kenaikan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) secara umum dapat berpengaruh terhadap investasi pada industri properti, mengingat para investor harus mengeluarkan cost yang lebih tinggi dalam membangun maupun mengembangkan kawasan maupun rumah terutama dalam membeli tanah baru dikarenakan harga dan pajak yang sudah pasti naik nantinya.

Presiden Direktur Paramount Land, Evan Adi Nugroho mengatakan memang saat ini Pemerintah DKI tengah menaikan NJOP sekitar 140%, memang tidak berdampak besar terhadap wilayah Tangerang, karena kenaikann itu berlaku pada daerah DKI Jakarta. Tapi memang secara umum jika NJOP naik itu bisa menjadi masalah bagi investor karena harga tanah dan pajak yang dibeli nantinya bisa lebih tinggi. Tapi memang untuk konsumen tidak ada masalah, karena memang biasanya NJOP menyesuaikan dengan harga tanah maupun bangunan.

“Bermasalah tidak juga, tapi memang buat investor iyah karena memang para investor sering jual beli dengan adanya kenaikan NJOP maka haraga tanah bisa lebih mahal dan pajaknya pun lebih tinggi mengikuti pemberlakuakn NJOP itu,” katanya saat ditemui pada acara lounching perumahan Elista Village dan Ruka ++ Samara Square di Tangerang, Rabu (12/3).

Biasanya sambung dia, kalau pengembang tidak terlalu mempermasalahkan terhadap kenaikan NJOP karena memang developer biasanya mematok harga lebih tinggi dari harga yang seharusnya. “Intinya nggak ada masalah, pengembang juga sudah pasti memikirkan antisipasinya terrhadap kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Intinya pastilah pengusaha ada profitnya walaupun mungkin marginnya sedikit berkurang,” imbuhnya.

Sedangkan Sandri Dewi Artis Sinetron yang juga Direktur Corporate Communication Paramount Land, menambahkan bicara bisnis properti dalam kacamata saya bisnis yang tidak ada ruginya mengingat jika investasi lain seperti salon, kuliner, atau yang lain biasanya lebih rentan rugi. Kalau investasi rumah maupun apartemen semakin tahun semakin mahal. “Kalau memang mau investasi yang diproperti nggak ada ruginya,” katanya sambil tersenyum sumringah.

Sandra juga menambahkan, saat ini sudah ada beberapa investasi rumah maupun apartemen yang menurutnya disewakan. “Dengan investasi diproperti kita masih dapat income perbulan jika disewakan harga tiap tahunnya pun terus naik. Jadi memang investasi ini nggak ada matinya,” imbuhnya.

Minim Resiko

Sedangkan menurut Direktur Riset dan Investor Relation Bahana TCW, Budi Hikmat mengatakan bahwa investasi dalam wujud properti baik tanah ataupun bangunan masih tetap menjanjikan, dengan imbal hasil yang baik dan minim resiko.

Budi menerangkan, dalam berinvestasi masyarakat harus membaginya dalam dua bagian. Yakni investasi berisiko tinggi dan yang risikonya minim. Jenis investasi yang berisiko di antaranya portofolio saham, obligasi, atau deposito. Sedangkan yang investasinya minim properti, tanah, atau bangunan. "Dalam berinvestasi, style-nya risk asset dan unrisk asset. Jika sudah mendapatkan keuntungan di risk asset, secure-nya beli (asset) unrisk. Kebetulan tanah," jelasnya.

Berdasarkan Knight Frank Prime Global Cities Index, yang menghitung pertumbuhan harga properti mewah, Jakarta menempati posisi teratas dari 30 kota yang disurvei di seluruh dunia. Bahkan pertumbuhan harga properti di Jakarta lebih dari dua kali pertumbuhan harga di di Dublin, Beijing, dan Dubai yang masing-masing sebesar 17,5 persen, 17,1 persen, dan 17 persen.

“Hasil selama kuartal IV menunjukkan pertumbuhan Jakarta yang fenomenal terus berlanjut,” kata kate Everett-Allen, International Residential Research Knight.

Malahan, menurut Allen, jika indeks Jakarta dihilangkan pertumbuhan indeks properti global hanya 5,9 persen sepanjang 2013. Saat ini indeks properti global berada di angka 34,1 persen.

Sementara harga properti di Singapura dan Hong Kong yang sempat menjadi sasaran investasi beberapa tahun lalu, justru menunjukkan perlambatan. Pertumbuhan harga di kedua wilayah tersebut justru turun masing-masing 0,8 persen dan 2,2 persen.

Allen menjelaskan, dari empat kota pusat finansial dunia, hanya New York yang pertumbuhan harga properti mewahnya masih cukup tinggi berada di posisi sembilan. Sedangkan London berada di posisi 12. Sementara Singapura dan Hong Kong masing-masing di posisi 26 dan 28.

Sebelumnya, dalam survei properti komersial yang dilakukan Bank Indonesia, harga per unit apartemen di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi (Jabodebek) selama 2013 naik 32,8 persen. Per kuartal IV-2013 harga apartemen di Jabodebek mencapai Rp 23,2 juta per meter persegi. Tahun lalu, harganya hanya Rp 17,5 juta per meter persegi.