Sambut Musim Dividen, IHSG Kembali Rebound

Kamis, 13/03/2014

NERACA

Jakarta – Pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang melesat tajam hingga 4.700 point pada perdagangan Selasa kemarin, rupanya tidak bertahan lama. Pasalnya, derasnya aksi jual yang dilakukan investor asing menjadi pemicunya. Alhasil, indeks BEI Rabu ditutup melemah 19,829 poin (0,42%) ke level 4.684,385. Sementara Indeks LQ45 melemah 4,051 poin (0,51%) ke level 784,912.

Kata analis Trust Securities, Reza Priyambada, kondisi bursa saham eksternal yang cenderung melemah mendorong aksi ambil untung di pasar saham Indonesia sehingga indeks BEI melemah,”Pelaku pasar asing membukukan jual bersih pada perdagangan saham Rabu kemarin sebesar Rp131,368 miliar,”ujarnya di Jakarta, Rabu (12/3).

Dia menjelaskan, pelaku pasar asing yang kembali mencatatkan 'nett sell' dan sentimen dari eksternal yang juga kurang mendukung membuat indeks BEI terkoreksi. Kendati demikian, menurut dia, tekanan indeks BEI cenderung tertahan menyusul mulai adanya berita mengenai pembagian dividen dari emiten yang bisa memberikan sentimen positif sehingga dapat mengimbangi kekhawatiran eksternal.

Berikutnya, indeks BEI diproyeksikan bakal balik arah ke zona hijua seiring rencana beberapa perseroan yang bakal membagikan dividen. Pada perdagangan kemarin, transaksi investor asing tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 129,82 miliar di pasar reguler dan negosiasi.

Perdagangan berjalan cukup ramai dengan frekuensi transaksi sebanyak 239.036 kali pada volume 5,722 miliar lembar saham senilai Rp 5,993 triliun. Sebanyak 97 saham naik, 205 saham turun, dan 78 saham stagnan. Koreksi yang terjadi di bursa global memberi sentimen negatif terhadap pasar dalam negeri. Penguatan yen terhadap dolar menghajar bursa saham Jepang.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Century Textile (CNTX) naik Rp 850 ke Rp 7.400, Unilever (UNVR) naik Rp 525 ke Rp 29.000, Danayasa (SCBD) naik Rp 425 ke Rp 3.100, dan Sarana Tunas (SUPR) naik Rp 275 ke Rp 7.525. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 700 ke Rp 24.600, Multi Bintang (MLBI) turun Rp 500 ke Rp 1,07 juta, Indocement (INTP) turun Rp 500 ke Rp 22.200, dan Saratoga (SRTG) turun Rp 400 ke Rp 4.050.

Perdagangan sesi pertama, indeks BEI ditutup melemah 15,824 poin (0,34%) ke level 4.688,390. Sementara Indeks LQ45 turun 3,529 poin (0,45%) ke level 785,434. Hampir seluruh indeks sektoral terkena koreksi dan 'kebakaran'. Dua sektor masih bisa menguat, yaitu konstruksi dan infrastruktur. Aksi jual ini menyasar seluruh lapisan saham, termasuk saham-saham lapis dua.

Perdagangan berjalan cukup ramai dengan frekuensi transaksi sebanyak 142.109 kali pada volume 3,341 miliar lembar saham senilai Rp 3,064 triliun. Sebanyak 95 saham naik, 158 saham turun, dan 87 saham stagnan. Koreksi yang terjadi di bursa global memberi sentimen negatif terhadap pasar dalam negeri.

Aksi jual sudah marak terjadi sejak pembukaan perdagangan. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Danayasa (SCBD) naik Rp 325 ke Rp 3.000, Metropolitan Kentjana (MKPI) naik Rp 200 ke Rp 11.500, Sarana Menara (TOWR) naik Rp 140 ke Rp 3.650, dan Sarana Tunas naik Rp 100 ke Rp 7.350.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Multi Bintang (MLBI) turun Rp 500 ke Rp 1,07 juta Indocement (INTP) turun Rp 425 ke Rp 22.275, Astra Agro (AALI) turun Rp 425 ke Rp 27.400, dan United Tractor (UNTR) turun Rp 350 ke Rp 19.475.

Diawal perdagangan, indeks BEI dibuka turun 23,51 poin atau 0,50% menjadi 4.680,71. Sedangkan indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 6,09 poin (0,77%) ke level 782,87,”Sentimen negatif dari pasar Asia berdampak pada IHSG BEI. Namun, potensi koreksi indeks BEI diperkirakan tidak akan lebih dalam karena diimbangi faktor positif di dalam negeri," kata Head of Research Valbury Asia Securities Alfiansyah.

Dia mengemukakan, sentimen positif domestik itu terutama dari sisi fundamental makro ekonomi, Indonesia merupakan negara dengan perekonomian relatif stabil dengan pertumbuhan ekonomi sekitar enam persen. Menurut dia, fluktuasi perekonomian Indonesia juga tidak terlalu tajam di tengah berbagai permasalahan domestik dan tekanan krisis global.

Sementara itu, analis Samuel Sekuritas, Yualdo Yudoprawiro mengatakan, pelemahan bursa Asia seirng dengan kekhawatiran ekonomi China setelah adanya "default" obligasi korporasi di negeri tersebut,”Pasar akan mengantisipasi data penjualan ritel dan produksi industri China yang akan dirilis, data itu akan digunakan sebagai gambaran mengenai perkembangan ekonomi China,”ujarnya.

Tercatat bursa regional, diantaranya indeks Hang Seng dibuka melemah 302,78 poin (1,36%) ke level 21.966,83, indeks Nikkei turun 328,72 poin (2,16%) ke level 14.895,39 dan Straits Times melemah 23,48 poin (0,75%) ke posisi 3.105,92. (bani)