Emiten Ritel Dinilai Harus Lebih Hati-Hati

Rabu, 12/03/2014

NERACA

Jakarta- Meski diprediksi masih mencatatkan pertumbuhan di tahun ini, industri ritel tanah air dinilai perlu mencermati sensitivitas kemampuan daya beli masyarakat dan volume jualnya. Khususnya, untuk perusahaan ritel yang menggarap segmen kelas menengah bawah dengan marjin laba yang lebih tipis.“Perusahaan ritel yang segmennya kelas menengah bawah perlu berhati-hati terhadap sensitivitas kemampuan belanja pasar,” kata Analis PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), Guntur Tri Hariyanto di Jakarta, kemarin.

Memang, kata dia, secara umum kelas menengah masih akan bertumbuh kuat dengan populasi yang lebih dari seperempat total populasi, dan diperkirakan masih dapat tumbuh sekitar 10% per tahunnya. Dengan begitu, dapat memacu pertumbuhan industri ritel di tahun ini. Hal tersebut juga akan didukung dengan menguatnya nilai belanja konsumen Indonesia yang diperkirakan akan tumbuh sebesar 12%.

Dengan kondisi tersebut, menurut dia, perusahaan-perusahaan ritel dapat diuntungkan sejauh terus melakukan perbaikan untuk dapat menarik konsumen sebanyak-banyaknya. Tercatat, dari indeks ritel Bank Indonesia periode bulan Desember 2013 dan Januari 2014 masih terdapat pertumbuhan 25% dibanding tahun yang sama periode sebelumnya. “Hal ini menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga mulai kembali menguat setelah kenaikan BBM dan upah tenaga kerja,” jelasnya.

Oleh karena itu, dia optimis, omzet ritel nasional di tahun ini diproyeksikan akan tumbuh sekitar 10%, dibandingkan tahun lalu yang turun sebesar 12,5% dengan nilai Rp150 triliun. Apalagi dengan adanya aktivitas pemilihan umum dan tren penurunan inflasi.

Mengacu dari beberapa laporan keuangan yang dikeluarkan emiten ritel, PT Matahari Department Srore Tbk (LPPF) menjadi salah satu emiten yang mencatatkan pertumbuhan cukup positif. Sepanjang tahun lalu perseroan mencatatkan kenaikan marjin laba bersih perseroan menjadi 17,02%, bandingkan dengan perolehan marjin laba bersih pada periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya sanggup berada di level 13,72%.

Terjadinya peningkatan tersebut ditopang dari meningkatnya pendapatan perseroan sebanyak 20,26% menjadi Rp6,7 triliun dari pendapatan bersih pada periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya mencapai Rp5,61 triliun. Alhasil, laba bersih perseroan menembus Rp1,15 trilin, atau naik 49% dibanding tahun sebelumnya yang hanya mencapai Rp770,8 miliar.

Sementara itu, PT Hero Supermarket Tbk (HERO), perseroan berhasil mencetak kinerja yang cukup baik pada tahun 2013. Refleksinya terlihat dari adanya peningkatan laba bersih yang signifikan, terutama yang didapatkan dari penjualan tanah dan bangunan yang sebelumnya digunakan sebagai kantor pusat dengan keuntungan mencapai Rp363 miliar. Sepanjang tahun lalu, penjualan perseroan tercatat naik sekitar 13% menjadi Rp11,9 triliun rupiah dibandingkan dengan penjualan perseroan pada tahun sebelumnya sebesar Rp10,51 triliun.

Dibanding peritel lainnya, Hero termasuk yang cukup konservatif dalam hal menyewa tempat penjualan, perusahaan ini justru lebih banyak memiliki tempat penjualan sendiri yang ditunjukkan dengan nilai aset tetap yang cukup besar yang pada tahun 2013 nilainya adalah sebesar Rp3,726 triliun, naik sebesar 44% dibandingkan dengan tahun 2012. (lia)