Benarkah Cadangan Minyak RI Terendah se-ASEAN?

Oleh: Reza Sanubari

Senin, 10/03/2014

Tidak sedikit masyarakat Indonesia dibuat penasaran dengan pertanyaan di atas, terutama bagi mereka yang tidak mempunyai latar belakang informasi yang cukup tentang kegiatan hulu migas di Indonesia. Respon masyarakat terhadap isu tersebut cukup beragam. Ada sebagian masyarakat yang percaya sepenuhnya, ada juga sebagian lain masyarakat yang setengah percaya dan menganggap isu itu terlalu berlebihan, dan ada juga sebagian masyarakat yang tidak percaya sepenuhnya. Semua pandangan masyarakat tersebut sah-sah saja karena latar belakang pengetahuan mereka yang beragam.Ironis, Indonesia yang memiliki banyak ladang minyak hanya memiliki stok BBM untuk 22 hari, sedangkan Singapura yang tidak memiliki ladang minyak memiliki stok BBM untuk 90 hari.

Menurut peneliti utama Badan Informasi Geospasial (BIG) Fahmi Amhar hal itu disebabkan karena masalah teknis dan ideologis dalam pengadaan kilang. “Fakta kalahnya sekarang, itu karena teknis. Kita terlambat mengantisipasi kebutuhan BBM itu dengan membangun kilang. Sedangkan yang menyebabkan secara teknis Indonesia terlambat adalah masalah ideologis. “Kenapa kita terlambat? itu ideologis, karena kita tidak memiliki visi menjadi yang terbaik di Asia Tenggara,” ungkapnya.

Senada dengan ucapan Fahmi Amhar terkait masalah teknis dan ideologis dalam pengadaan kilang. Pada tahun 1996, Pakar perminyakan dari Forum Konsultasi Daerah Penghasil Minyak (FKDPM), Dr. Ir. Andang Bachtiar MS.c, pada waktu itu menyatakan, dari seluruh potensi minyak yang ada di tanah air, baru 25% yang dikelola, atau sebanyak 16 cekungan saja, sedangkan 42 cekungan lainnya yang dari hasil penyelidikan umun dan foto satelit memiliki kandungan minyak masih dibiarkan terlantar. Potensi cadangan minyak di 42 cekungan itu mencapai 11,319 milyar barel. (baca : sebelas ribu tiga ratus sembilan belas miliar barel)

Lalu belum lama ini, Indonesia kembali di kejutkan oleh penemuan dari hasil penelitian Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT) dan suatu lembaga riset Jerman yang menemukan potensi minyak (hidrokarbon) dalam jumlah sangat besar sekitar 107,5-320,79 miliar barel di perairan timur laut Pulau Simeulue, Provinsi Naggroe Aceh Darussalam (NAD).

Kalau dihitung, cadangan minyak Indonesia adalah 11,319 Milyar + 320 Milyar yakni 331,319 milyar barel. Luar Biasa!

Sekretaris SKK Migas Gde Pradnyana mengatakan potensi migas saat ini memang ada, tapi tanpa eksplorasi potensi itu tidak dapat diproduksi, karena potensi itu harus dibuktikan benar-benar proven melalui kegiatan eksplorasi.

Namun dia menjelaskan eksplorasi yang dilakukan hari ini tidak serta merta bisa langsung dinikmati melainkan membutuhkan waktu hingga 20 tahun untuk bisa memproduksinya. (mimbar-opini.com)