Strategi Antam Siasati Pelarangan Ekspor Mineral

Agar Bisnis Tidak Kejepit

Jumat, 07/03/2014

NERACA

Jakarta-Untuk menyiasati pelarangan ekspor bijih mineral, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mengaku memiliki beberapa strategi yang akan dilakukan sebagai langkah antisipatif perseroan. Apalagi dengan penurunan tajam harga komoditas, kinerja finansial perseroan yang merupakan price taker terkena dampak secara langsung. “Kami telah mengambil kebijakan cash preservation serta refokus pada proyek pertumbuhan kunci agar kas perusahaan dapat digunakan seoptimal mungkin.” kata Direktur Utama ANTAM, Tato Miraza di Jakarta, Kamis (6/3).

Program penghematan biaya dan optimalisasi kinerja operasional, menurut dia, akan menjadi prioritas utama. Adapun program penghematan biaya diterapkan di antaranya dengan penggunaan umpan bijih yang lebih murah dari Pomalaa dan melakukan evaluasi terhadap kontrak-kontrak dengan pihak ketiga. Oleh karena itu, meski didera krisis perekonomian global, pihaknya tetap optimis dapat memberikan tingkat profitabilitas dan imbal hasil yang baik kepada pemegang saham. “Di tahun 2013, ANTAM berhasil menghemat Rp115,5 miliar dari target Rp98,9 miliar,”ujarnya.

Selain itu, sambung dia, pihaknya juga bersikap prudent di dalam belanja modal untuk keperluan proyek-proyek pengembangan. Salah satu target perseroan adalah mempercepat penyelesaian proyek pembangunan dan perluasan pabrik Feronikel Pomalaa. Selanjutnya, perseroan juga akan meningkatkan volume penjualan emasnya sebesar 45% dibanding tahun 2013 lalu, atau menjadi 13.570 kg (436.286 oz). Sementara volume penjualan feronikel di tahun 2014 juga ditargetkan naik 36% menjadi 19.700 ton nikel dalam feronikel (TNi).

Ditargetkan, perseroan juga dapat melakukan penjualan komoditas baru Chemical Grade Alumina Tayan dengan estimasi volume penjualan antara 125.000-130.000 ton CGA di tahun 2014. Termasuk meningkatkan penjualan batubara menjadi 1,24 juta ton, naik 307% dibandingkan tahun 2013. Tercatat, untuk periode tahun buku 2013, perseroan mencatatkan penjualan bersih senilai Rp11,3 triliun, naik 8% dibandingkan tahun 2012 seiring dengan peningkatan volume penjualan emas dan bijih nikel.

Penjualan emas tercatat 9.391 kg (301.928 oz) emas, naik 34% dibandingkan tahun 2012. Sementara volume penjualan bijih nikel sebesar 9.711.081 wet metric tons (wmt), naik 21% dibandingkan tahun 2012. Sementara itu, laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada Pemilik Entitas Induk tercatat sebesar Rp410 miliar dengan Laba per Saham Dasar sebesar Rp43. Adapun jumlah kas dan setara kas tercatat Rp2,8 triliun dengan rasio interest bearing debt terhadap ekuitas tercatat sebesar 53% per 31 Desember 2013.

Salah satu strategi yang dilakukan perseroan untuk peningkatan penjualan emasnya yaitu dengan memperluas ekpansi pasar ritel. Perseroan berencana menambah 5-10 Butik Emas Logam Mulia di tahun 201 4 serta memaksimalkan kegiatan penjualan di 5 Butik Emas yang sudah ada saat ini. Untuk pemasaran feronikel dan komoditas lainnya, perseroan mengaku telah membuka kantor perwakilannya di Shanghai yang akan berperan sebagai kantor perwakilan pemasaran di wilayah China pada pertengahan bulan Januari 2014. (lia)