Ironis, Konversi BBM ke BBG Dinilai Gagal

Sektor Energi

Jumat, 07/03/2014

NERACA

Jakarta - Program pemerintah konversi Bahan Bakar Minyak (BBM) ke Bahan Bakar Gas (BBG) sudah dibuat pada 2007. Bahkan Presiden pun telah mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) No.64/2012 tentang penyediaan, pendistribusian, dan penetapan harga bahan bakar gas untuk transportasi jalan. Namun kenyataannya, sampai saat ini program tersebut masih jalan ditempat. Beberapa terobosan pemerintah seperti memberikan converter kit secara gratis kepada masyarakat tidak diimbangi dengan penyediaan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG). Bahkan jumlah converter kit yang dijanjikan bakal dibagikan mengalami penyusutan.

Pengamat Energi dari IRESS Marwan Batubara menilai bahwasanya pemerintah ingin mensukseskan program konversi tersebut akan tetapi masih malu-malu. "Presiden pun ikut mengeluarkan peraturan untuk pemanfaatan BBG agar tidak lagi ketergantungan dengan BBM. Sejak dikeluarkannya Perpres tersebut, sampai sekarang pun tidak ada realisasi soal kesuksesan program konversi BBM ke BBG, bahkan cenderung tidak berjalan," ungkap Marwan saat dihubungi, Kamis (6/3).

Ia mengatakan kemauan pemerintah untuk mensukseskan program tersebut tidak dibarengi dengan tindakan nyata. Misalnya saja soal bahan baku utama yaitu gas yang lebih banyak di ekspor ke China. "Pemerintah tidak bisa langsung menghentikan ekspor gas ke China. Karena perjanjian dengan China sifatnya jangka panjang. Disisi lain, pemerintah ingin agar kendaraan-kendaaran sekarang menggunakan BBG. Mau gas dari mana? Kan sudah habis di ekspor ke China bahkan dengan harga murah," cetusnya.

Lebih jauh lagi, Marwan mengatakan Program konversi BBM ke BBG pada kendaraan bermotor yang diharapkan bisa menekan tingkat konsumsi BBM seolah setop begitu saja. Akibat kondisi ini, tingkat bauran energi tidak bisa optimal. "Hingga saat ini, pertumbuhan konsumsi premium masih mencapai kurang lebih 8% per tahun dan solar sekitar 5% per tahun," katanya.

Marwan bahkan menyebutkan, ke depan pertumbuhan konsumsi BBM ini akan semakin besar karena pertumbuhan kendaraan bermotor yang makin besar. Bila saat ini pertumbuhan kendaraan roda empat adalah 800 ribu-1 juta unit per tahun, maka dengan adanya program mobil murah, jumlah kendaraan roda empat ini akan meningkat pesat. "Dengan kondisi ini, maka bila pada tahun 2012 defisit di sektor migas US$5,6 miliar, maka defisit migas ke depan akan terus mengalami kenaikan," katanya.

500 Converter Kit

Dirjen Migas Kementerian Energi Sumber Da­ya Mineral (ESDM) Edy Hermantoro mengaku hanya bisa membagikan 500 con­verter kit (alat konversi). "ESDM tetap ada, tapi cuma sedikit. Cuma se­kitar 500-an," kata Edy.

Dia mengungkapkan, meski hanya 500 unit, converter kit ter­sebut akan dibagi rata ke seluruh ken­daraaan dinas di Indo­nesia. "Belum tentu di Ja­karta, ma­sih banyak juga yang minta. Surat-surat pada minta," katanya.

Menurut Edy, untuk kenda­raan pribadi, pihaknya tidak akan memberikan converter kit. Alat itu hanya akan dibe­rikan pada kendaraan dinas pemerintah. Menurut Staf Ahli Menteri ESDM Bidang Ekonomi dan Investasi, Jajang Sukarna bahwa hambatan utama dalam melakukan konversi BBM ke BBG adalah persoalan market (pasar).

"Market belum terbentuk meski jika dilihat dari sisi penjualan BBG itu sendiri masih murah ketimbang BBM. Harga BBG saat ini sekitar Rp3.100, sementara BBM subsidi jenis Premium sebesar Rp6.500," jelas Jajang.

Sementara itu, Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengaku telatnya pembangunan infrastruktur jadi penghambat utama. Pembangunan infrastruktur stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) sampai saat ini sedikit. Bahkan di DKI Jakarta hanya ada 8 SPBG. "Diversifikasi sebetulnya tidak ada sesuatu yang berubah. Masalahnya adalah telat infrastruktur. Itu saja yang mesti kita akui," ungkap Hatta.

Kemudian adalah kesalahan dari pengadaan converter kit. Program tersebut telah dianggarkan setiap tahun, tapi tidak pernah digunakan. "Sekarang kita juga terlambat untuk pengadaan converter kit," ujarnya.

Sementara untuk pasokan gas, menurut Hatta sudah cukup. Bahkan harga gas saat ini sudah sangat layak dan murah, dibandingkan Bahan Bakar Minyak (BBM) premium Rp 6.500/liter dan solar Rp 5.500/liter. "Gas segala macam cukup. Harga gas yang lebih murah dari BBM yang bersubsidi itu yang kontribusi pada itu. Maka yang menggunakan BBG itu lebih murah setara satu liter BBM. Kalau keekonomian jauh sekali," terang Hatta.

Bangun 13 SPBG

Guna mempercepat konversi bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG) Pertamina pada 2014 akan membangun 13 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) online, 8 Ecostation, dan 10 Mobile Refueling Unit (MRU) di Jabodetabek. "Pertamina akan membiayai sebanyak 4 SPBG online, 8 Ecostation, dan 4 unit MRU. Sedangkan 9 unit SPBG Online, dan 6 unit MRU dibiayai dari dana APBN," kata Direktur Gas Pertamina, Hari Karyuliarto.

Menurut Hari, investasi yang dibutuhkan Pertamina untuk membangun fasilitas tersebut berkisar Rp34 miliar-Rp45 miliar. Sementara dana dari APBN untuk membiayai 9 SBPG Online, 6 MRU dan termasuk pipa sepanjang 92 kilometer dari Jakarta menuju Bogor mencapa total sekitar Rp1,5 triliun.