Laba Antam Turun Tajam 86,29%

Kamis, 06/03/2014

NERACA

Jakarta – Menyusul PT Bukit Asam Tbk yang merugi, hal yang sama juga dialami PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). Dimana perusahaan tambang emas plat merah ini mencatatkan penurunan laba bersih sepanjang tahun 2013 mencapai 86,29% menjadi Rp409,94 miliar dibanding 2012 sebesar Rp2,99 triliun.

Hal tersebut disampaikan perseroan dalam laporan keuangannya, di Jakarta, Rabu (5/3). Disebutkan, anjloknya laba bersih akibat meningkatnya beban dan tidak adanya keuntungan atas penyesuaian nilai wajar dan dividen seperti tahun sebelumnya.

Sebaliknya, penjualan perseroan sepanjang tahun lalu tercatat sebesar Rp11,3 triliun atau naik 8,13% dibanding 2012 senilai Rp10,45 triliun. Naiknya penjualan diikuti naiknya beban pokok penjualan menjadi Rp9,68 triliun dari Rp8,43 triliun. Akibatnya, laba kotor perseroan susut menjadi Rp1,62 triliun dari Rp2,02 triliun. Laba kotor perusahaan digerus beban usaha yang meningkat menjadi Rp1,19 triliun dari sebelumnya Rp1,13 triliun, sehingga laba usaha perseroan merosot lebih dari setengahnya menjadi Rp421,03 miliar dibanding 2012 sebesar Rp895,86 miliar.

Sementara pada tahun lalu, perusahaan tambang pelat merah tersebut mencatat kerugian entitas asosiasi dan pengendalian bersama sebesar Rp181,01 miliar dari tahun sebelumnya yang mencatat untung Rp115,1 miliar. Di samping itu, Antam tidak mendapat keuntungan atas penyesuaian nilai wajar di tahun ini, di mana pada tahun lalu membukukan keuntungan mencapai Rp2,48 triliun.

Selain itu, perseroan pada tahun lalu tidak mendapat dividen, dibanding tahun sebelumnya memperoleh dividen senilai Rp375,43 miliar dari PT Nusa Halmahera Mineral. Perseroan pada 2013 juga mencatat beban lain-lain bersih sebesar Rp214,77 miliar dibanding 2012 mencatat penghasilan senilai Rp93,52 miliar. Akibatnya, total beban lain-lain bersih persereoan pada tahun lalu tercatat sebesar Rp553,96 miliar, sedangkan tahun 2012 membukukan penghasilan lain-lain bersih mencapai Rp3 triliun. Harga saham ANTM diawa perdagangan dibuka pada level Rp1.060 per saham. Angka tersebut naik 20 poin dibanding penutupan hari sebelumnya di level Rp1.040 per saham.

Sebagai informasi, tahun ini perseroan menargetkan produksi emas sepanjang 2014 sebesar 2.572 kilo gram (kg). Target tersebut akan diperoleh dari tambang Pong sebesar 1.570 kg dan tambang Cibaliung sebesar 1.002 kg. Sedangkan untuk penjualan ditargetkan mecapai 13.570 kg.

Tercatat, volume produksi emas mencapai 2013 mencapai 2.562 kilo gram (kg) yang terdiri dari 1.722 kg dari tambang Pongkor dan 840 kg dari tambang Cibaliung. Penjualan emas mencapai US$1.523,23 per oz dan berkontribusi ke pendapatan perseroan tidak diaudit mencapai Rp4,7 triliun. Sementara itu, produksi feronikel ditargetkan mencapai 18 ribu ton nikel dalam feronikel (TNi) dan volume penjualan sebesar 20 ribu Tni. Produksi bijih nikel tahun ini diupayakan sebanyak 1,44 juta wmt yang kesemuanya akan digunakan sebagai umpan bijih pabrik feronikel Pomalaa. (bani)