ARLI: Industri Rumput Laut Butuh Roadmap

Kamis, 06/03/2014

NERACA

Jakarta - Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) menilai bahwa industri rumput laut Indonesia membutuhkan roadmap untuk mendorong industrialisasi. Pasalnya sejauh ini langkah pemerintah untuk mendorong industrialisasi belum memiliki perencanaan yang matang. Padahal, Industri rumput laut adalah salah satu industri komoditas pendukung blue economy yang sangat berpeluang besar untuk dikembangkan di Indonesia.

Ketua ARLI Safari Azis mengatakan roadmap untuk industrialisasi sangat diperlukan agar masyarakat rumput laut secara terstruktur dan optimal dapat menjadikan rumput laut sebagai sumber kemakmuran. Selain itu, Roadmap diharapkan dapat menjadi acuan bagi pola pngembangan industri rumput laut yang jelas dan bisa dipertangnggungjawabkan. “Selama ini upaya untuk industrialisasi sifatnya masih sporadis dan belum terarah, sehingga peja jalan itu sangat diperlukan agar semua pihak bisa mengetahui posisi dan aksi yang harus dijalankan,” kata Safari dalam keterangan pers yang diterima Neraca, kemarin.

Pihaknya menyayangkan bahwa saat ini belum ada platform kerja bersama diantara beberapa Kementerian yang terlibat. Menurut dia, masing-masing Kementerian seharusnya dapat duduk bersama dengan stakeholder untuk membuat kesepakatan mengembangkan Industrialisasi rumput laut sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 27/ 2012 tentang Industrialisasi Kelautan dan Perikanan.

Safari mengatakan, dengan berkembangnya industri pangan, kosmetik hingga pupuk baik secara nasional maupun global harusnya dapat menguntungkan posisi Indonesia sebagai salah satu Negara penghasil rumput laut terbesar di dunia.

Selain belum adanya Roadmap yang jelas, kata dia, industri dalam negeri masih menemui beberapa kendala, utamanya daya saing yang masih rendah jika dibandingkan dengan industri luar negeri. “Industri lokal belum mampu menyerap rumput laut dalam jumlah yang besar dan cenderung belum bisa menyesuaikan dengan harga internasional. Yang terjadi selama ini memang harga rumput laut itu bergantung pada mekanisme pasar, disamping harus memenuhi keekonomian harga petani,” ungkap dia.

Safari menerangkan, kondisi sekarang ini penyerapan rumput laut oleh industri nasional baru mencapai sekitar 30% dari produktivitas, sementara ekspor rumput laut yang belum diolah masih banyak dibutuhkan oleh pihak luar meski dengan harga pasaran internasional yang cukup tinggi. Sampai Oktober 2013, ekspor bahan baku dan olahan rumput laut Indonesia mencapai 147.052 ton senilai US$ 132, 48 juta.

“Industri dalam negeri terkadang mengeluh dengan tingginya harga tapi kualitas bahan baku yang menurun, sehingga sulit bersaing dengan para pelaku ekspor. Oleh karena itu, pasar dalam negeri untuk hasil olahan Rumput Laut ini perlu dibangun terlebih dahulu agar tidak perlu bersaing ketat dengan produk luar negeri atau masuk ke pasar yang sudah penuh,” kata Safari.

Menurut dia, agar berdaya saing industri rumput laut perlu memiliki kejelasan sistem, mulai dari pembudidayaannya, distribusi, sistem logistik hingga perizinan industrinya. “Kami meminta pada pemerintah supaya dibuatkan Road Map/Blue Print yang disepakati oleh seluruh pemangku kepentingan agar regulasi dan strateginya tepat dan membuat industrinya juga berdaya saing,” kata dia.

Safari mengungkapkan, saat ini perizinan bagi Industri pengolahan rumput laut yang beroperasi cenderung disulitkan karena setidaknya harus memiliki 14 macam surat izin yang dikeluarkan oleh antar Kementerian/lembaga yang berbeda-beda sehingga menyebabkan biaya tinggi dan tidak efisien. Pemerintah, kata dia, perlu memikirkan bagaimana agar pelaku usaha baik nasional maupun internasional tertarik untuk berinvestasi dan membangun Industri.

“Proyek dan bantuan-bantuan peralatan dari pemerintah dalam industri pengolahan rumput laut jalan ditempat, karena perencanaannya tidak matang, tidak ekonomis dan tidak ada akses pasar. Kita harapkan pemerintah bisa lebih bijaksana mengambil langkah-langkah yang tepat. Jangan hanya menyerukan industrialisasi, tapi Roadmap dan petunjuk pelaksanaannya tidak jelas” tukas Safari.

Produksi Minim

Sebelumnya, Wakil Ketua Umum Asosiasi Industri Rumput Laut Indonesia (Astruli) Thomas Ferdinand mengemukakan volume produksi olahan rumput laut yang dihasilkan saat ini masih terbilang mini. Pasalnya dari kapasitas produksi di dalam negeri sebesar 30.000 ton per tahun, utilisasi produksi hanya mencapai sekitar 60% saja. Hal ini disebabkan minimnya bahan baku rumput laut kering yang bisa didapatkan industri. Pasalnya mayoritas petani rumput laut masih memilih untuk mengekspor rumput laut kering mereka.

Thomas mengatakan volume produksi produk turunan rumput laut di dalam negeri mencapai 15.638 ton. Di mana selama beberapa tahun ke belakang industri ini mencatatkan pertumbuhan di kisaran 10%. "Pada tahun ini sepertinya aka naik 10% didorong naiknya konsumsi," katanya.

Bila mengacu pada proyeksi pertumbuhan tersebut, maka produksi produk turunan rumput laut di 2014 diperkirakan bakal menembus 17.202 ton. Selain karena permintaan yang terus meningkat, dia bilang beberapa investor baru pun mulai masuk ke industri pengolahan rumput laut. Tahun lalu saja menurutnya ada tiga pabrik baru berdiri, dan akan disusul satu pabrik lagi di tahun ini.

Selama ini produk turunan rumput laut yang paling dikenal memang agar-agar. Namun menurut Thomas, masih banyak aplikasi lain yang juga punya pasar yang bagus. Cerageenan misalnya, banyak digunakan oleh industri makanan olahan seperti sosis. Selain itu industri kosmetik, produk perawatan tubuh, hingga farmasi juga banyak menggunakan produk ini sebagai bahan tambahan. Sementara dari sisi pemasaran, sekitar 80% produk turunan rumput laut dijual di pasar domestik. "Ekspor baru 20% karena pasar domestiknya memang besar," ujar dia.