Kepada Calon Presiden

Oleh: Prof Dr Komaruddin Hidayat, Rektor UIN

Selasa, 04/03/2014

Kepada semua calon presiden yang namanya sudah beredar, yang pertama sekali ingin saya sampaikan, sebagai warga negara saya menyampaikan salut, kagum, dan terima kasih bahwa mereka memiliki tekad ikut berkompetisi sekalipun memerlukan dana yang pasti miliaran, bahkan triliunan rupiah.

Kalau saja mereka tidak memiliki modal nyali, konsep, dan uang, pasti tidak akan ikut meramaikan bursa pencalonan. Kecuali mereka yang iseng-iseng sekadar mencari sensasi dan popularitas. Bisa menjadi orang nomor satu dari sebuah negara dengan penduduk sekitar 240 juta itu sungguh suatu keajaiban. Dia orang pilihan, bagaikan meteor yang jatuh dari langit, hanya 1 dari 240 juta warga negara. Oleh karenanya, betapa mulia jika siapa pun nantinya yang jadi presiden bekerja dengan tulus, jujur, cerdas, adil, serta mampu meningkatkan kecerdasan dan kesejahteraan rakyatnya, pasti surga sudah menanti.

Di dunia pun sejarawan dan rakyatnya akan mencatatnya dengan tinta emas, dia akan selalu dikenang dan diceritakan dengan penuh pujian sebagai bapak bangsa, sebagai sosok teladan dan sumber inspirasi. Namun sebaliknya, jika posisi dan jabatan presiden yang dipercayakandisia-siakanhanya untuk memenuhi ambisi dan kepentingan diri, keluarga, dan kelompoknya di atas kepentingan rakyat, bahkan rakyat malah dibuatnya sengsara, pasti kutukan dunia-akhirat yang akan diperolehnya.

Dia akan dikenang sebagai pengkhianat dan perusak apa yang telah dibangun dengan susah payah oleh para pendiri bangsa. Dia akan dianggap sebagai penipu dan penjajah rakyat sendiri. Rakyat itu daya ingatnya memang pendek. Tapi berkat bantuan teknologi, berbagai janji presiden yang pernah disampaikan akan mudah sekali diputar dan ditampilkan ulang melalui televisi sehingga rakyat akan teringat kembali. Oleh karenanya para calon presiden jangan mengumbar janji karena janji itu utang yang mesti dipenuhi baik di dunia maupun akhirat.

Jika dilanggar, dokumentasi televisi akan menampilkan kembali secara otentik. Kita semua masih ingat, beberapa politikus yang beriklan dan berjanji ”korupsi, no” justru sebagian jadi penghuni penjara karena korupsi. Bagi saya, semua calon presiden yang sudah beredar adalah putra-putra bangsa pilihan yang mesti diberi apresiasi. Bayangkan, apa yang akan terjadi dengan pemerintahan ini jika tak ada yang mau mencalonkan diri menjadi presiden. Konstitusi negara tidak jalan. Indonesia akan jadi negara gagal. Para calon itu memiliki pengalaman politik panjang.

Pendidikannya pun bagus. Kita tunggu saja apa program dan janji-janji yang akan mereka kemukakan dalam kampanye nanti sekiranya terpilih jadi presiden. Sumbang saran saya cukup sederhana kepada calon presiden. Rakyat kita itu kreatif dan tahan banting, bahkan juga periang. Makanya, jika pemerintahan mampu membangun infrastruktur atau jalan raya yang bagus bagi mobilitas penduduk, pasti ekonomi akan tumbuh dengan sendirinya, seperti yang dilakukan Pemerintah China.

Kedua, tegakkan hukum dengan tegas dan adil sehingga korupsi bisa ditekan serendah mungkin. Bersama lembaga yang berwenang, kita pilih kapolri, jaksa agung, dan ketua Mahkamah Agung serta ketua KPK yang benar-benar bersih, berani, pintar, dan adil yang selalu merasa risih dan jijik melihat korupsi di negeri ini. Ketiga, perbaiki layanan birokrasi sehingga rakyat merasa nyaman, bangga, dan bersahabat ketika berurusan dengan pemerintah. Keempat, perbaiki dunia pendidikan.

Bangun universitas-universitas bertaraf internasional yang mampu mengantarkan para alumninya siap bersaing dengan negara lain dalam pengembangan sains dan inovasi iptek sehingga bangsa ini malu jadi bangsa konsumen. Malu dengan negara-negara kecil, tetapi produk teknologinya mendominasi kelas menengah kita. Rakyat sudah merasa lelah melihat korupsi yang tak habishabisnya. Rakyat selalu mendengar pidato APBN naik, tetapi pembangunan tidak kunjung berkembang dan membaik. Rakyat sudah siap berdemokrasi, terutama partisipasi dalam setiap pilkada dan pemilu.

Namun parpol tidak menyediakan calon-calonnya yang terbaik untuk jadi wakil rakyat, wali kota, bupati, dan gubernur. Ketika kekecewaan itu sudah merata, ini momentum yang bagus bagi calon presiden mendatang memimpin gerakan untuk maju dan bangkit bersama rakyat. Pilih menteri-menterinya yang benar-benar sudah selesai dengan urusan dirinya, lalu sepenuhnya mau mengabdi untuk melayani rakyat, memajukan bangsa. Dalam seleksi calon presiden dan menteri ini parpol sangat penting karena parpol adalah salah satu pilar utama demokrasi untuk menyeleksi pemimpin.

Namun, mesti diingat, parpol didirikan untuk melayani dan memajukan negara. Jangan sampai agenda bangsa dan negara dibajak dan ditaklukkan parpol. Oleh karenanya, pejabat pemerintah mesti melepaskan keterikatannya dengan parpol. Berbangga dan berbahagialah parpol yang bisa mengusung kadernya menjadi presiden. Tapi setelah jadi presiden mesti diikhlaskan dan jangan dibebani dengan agenda parpol yang akan merusak profesionalitas dan etika bernegara. Presiden adalah sosok negarawan yang mesti mengayomi dan mencintai semua kelompok partai, etnik, dan agama.

Tidak boleh ada anak emas dan anak tiri. Saya berharap, siapa pun yang jadi presiden hendaknya memandang dan menghayati jabatannya sebagai anugerah sejarah dan anugerah Tuhan yang luar biasa langka dan mulianya. Sekian ratus presiden di muka bumi, tetapi hanya sedikit yang dunia ikut menangis ketika meninggal. Dia menjadi headline media massa di seluruh dunia. Rakyatnya menangis karena antarmereka ada tali kasih dan kenangan sama-sama bekerja keras untuk memajukan bangsa. (uinjkt.ac.id)