Laba Bersih Indofarma Minus Rp 96,60 Miliar

NERACA

Jakarta – Jika PT Kimia Farma Tbk mampu mencatatkan pertumbuhan penjualan dan laba sepanjang tahun 2013, tidak sebaliknya dengan PT Indofarma (Persero) Tbk (INAF) yang justru mencatat laba bersih yang dapat didistribusikan kepada pemilik entitas induk di 2013 mengalami penurunan sebesar Rp96,60 miliar atau 227,93%. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Disebutkan, pada tahun 2013, laba bersih perusahaan farmasi plat merah ini tercatat minus Rp54,222 miliar padahal pada 2012 berhasil mencetak laba Rp42,384 miliar. Selain itu, penjualan bersih perseroan mengalami peningkatan cukup besar. Penjualan naik Rp151 miliar dari Rp1,156 triliun di 2012 menjadi Rp1,337 triliun di 2014.

Sayangnya, anak usahanya malah mengalami penurunan sebesar Rp135,537 juta pada 2013, dari sebelumnya Rp650,856 juta. Selain itu, beban pokok penjualan juga meningkat, pada 2013 beban pokok penjualan tercatat sebesar Rp999,93 miliar dari sebelumnya Rp788,15 miliar.

Sementara itu, jumlah aset perusahaan pada 2013 mengalami pertumbuhan ke Rp 1,29 triliun, dari sebelumnya sebesar Rp1,18 triliun di 2012. Sedangkan untuk utang jangka pendek perusahaan, pada 2013 mencapai Rp670 miliar, naik dari 2012 sebesar Rp 396 miliar. Sedang untuk utang jangka panjang pada 2013 mencapai Rp703 miliar naik dari Rp538 miliar di 2012.

Di sisi lain, aset tercatat mengalami peningkatan sebesar Rp106 miliar, dari Rp1,188 triliun menjadi Rp1,294 triliun. Sebelumnya, PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menurunkan peringkat PT Indofarma Tbk (INAF) dan medium term notes (MTN) I-2012 menjadi idBBB+ dari sebelumnya idA-.

Kata analis Pefindo Anies Setyaningrum dan Mega Dwitya Nugraha mengatakan, penurunan peringkat disebabkan oleh pelemahan marjin keuntungan akibat kenaikan biaya tenaga kerja,”Juga kenaikan biaya bahan baku yang diakibatkan oleh pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS),”ujarnya.

Selain itu, renovasi selama bulan Februari hingga Juli 2013 cukup mengganggu fasilitas produksi perseroan, yang mengakibatkan kenaikan biaya toll manufacturing. Marjin keuntungan yang rendah berakibat pada menurunnya leverage keuangan dan rasio perlindungan arus kas,”Pefindo juga merevisi prospek INAF menjadi negatif dari stabil, karena kami memperkirakan kinerja keuangan INAF dijangka pendek akan semakin melemah jika perusahaan tidak dapat menyesuaikan harga jual untuk mengimbangi kenaikan biaya bahan baku dan tidak dapat mencapai target penjualan," jelas dia. (bani)

BERITA TERKAIT

Andalan Finance Raih Pembiayaan Rp270 miliar dari CIMB Niaga

  NERACA Jakarta - PT Andalan Finance Indonesia (Andalan Finance), menandatangani Nota Kesepahaman Bersama (Memorandum of Understanding) fasilitas kredit pembiayaan senilai…

Hutama Karya Targetkan Laba Rp 1,6 Triliun

PT Hutama Karya (Persero) memproyeksikan peningkatan laba tahun berjalan lebih dari tiga kali lipat atau menjadi Rp1,688 triliun per akhir…

Laba BNI Tumbuh 31,6%

      NERACA   Jakarta - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk pada kuartal III 2017 membukukan laba sebesar…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Pendapatan BTEL Susut Jadi Rp 1,51 Miliar

Bisnis telekomunikasi milik PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) terus menyusut. Tengok saja, hingga periode 30 Juni 2017 meraih pendapatan sebesar…

Saham IPO ZINC Oversubscribed 500 Kali

Kantungi dana segar hasil peawaran umum saham perdan atau initial public offering (IPO), PT Kapuas Prima Coal Tbk (ZINC) menyiapkan…

Hotel dan Residensial Beri Kontribusi - Penjualan PP Properti Proyeksikan Tumbuh 60%

NERACA Jakarta – Jelang tutup tahun yang tinggal dua bulan lagi, PT PP Properti Tbk (PPRO) terus bergerilya untuk memenuhi…