Holcim Bukukan Penurunan Laba 29,48%

Dampak Kenaikan Beban Pokok Usaha

Jumat, 28/02/2014

NERACA

Jakarta – PT Holcim Indonesia Tbk (SMCB) alami penurunan laba sebesar 29,48% menjadi Rp952,11 miliar atau Rp124 per saham dibandingkan laba tahun sebelumnya yang Rp1,35 triliun dari laba per saham Rp176 per saham akibat kenaikan beban pokok perseroan.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan, Kamis (27/2) menyebutkan penjualan naik jadi Rp9,68 triliun dari penjualan tahun sebelumnya Rp9,01 triliun, namun naiknya beban pokok naik menjadi Rp6,33 triliun dari beban pokok sebelumnya Rp5,73 triliun membuat laba perseroan tergerus.

Selain itu, laba bruto naik jadi Rp3,35 triliun dari laba bruto sebelumnya Rp3,28 triliun. Laba usaha turun jadi Rp1,85 triliun dari laba usaha sebelumnya Rp2,04 triliun. Sedangkan laba sebelum pajak turun jadi Rp1,34 triliun dari laba sebelum pajak sebelumnya Rp1,87 triliun. Total aset per Desember 2013 menjadi Rp14,89 triliun naik dari total aset per Desember 2012 yang Rp12,17 triliun.

Pada tahun 2014 ini, perseroan memiliki tambahan produksi 1,7 juta ton per tahun menyusul akan beroperasinya pabrik Tuban I pada April 2014 nanti, namun perseroan belum ada rencana untuk meningkatkan market share nya di Jawa Timur.

General Manager PT Holcim Indonesia Tbk Sidik Darusulistyo menjelaskan, pertambahan produksi di Tuban lebih banyak digunakan untuk mempertahankan pangsa pasar yang sudah ada di Jawa Timur. Selain itu juga untuk memenuhi kebutuhan pasar di Pontianak dan Riau. “Secara nasional pasar kami sekitar 14-16 persen. Khusus di jatim sekitar 15 persen. Itu yang coba kami pertahankan tahun ini”, tegasnya.

Tahun ini junlah produksi Holcim secara nasional diharapkan mencapai 10,8 juta ton naik sekitar 10% setelah ada tanbahan produksi di pabrik Tuban I sebanyak 1,7 juta ton. Tahun lalu Holcim memproduksi semen sebanyak 9,1 juta ton.

Dia mengaku, meskipun pertunbuhan ekonomi kurang kondusif, namun tahun ini kebutuhan semen masih cukup tinggi. Selain banyaknya proyek infrastruktur juga banyak proyek properti yang mulai dikerjakan tahun ini. Sementara backlog yang masih belum berkurang membuat semen masih terus tumbuh.“Kami optimis tahun ini pasar semen masih bagus meskipun ekonomi belum sepenuhnya pulih”, ungkapnya.

Sementara melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika diakui perseroan berpengaruh besar pada sektor industri secara keseluruhan.Direktur Komersial PT Holcim Indonesia Tbk Jan Kunigk mengatakan, bahwa industri padat modal dengan biaya dalam bentuk denominasi Dolar Amerika akan mengalami kenaikan biaya.“Tentunya, kenaikan biaya ini juga akan berdampak pada konsumen dalam bentuk kenaikan harga jual”, katanya.

Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa perseroan mengalami kenaikan biaya yang signifikan untuk membiayai klan, distribusi, energi, dan upah di tahun 2013. Dia mengakui, biaya keuangan untuk perluasan Tuban juga mengalami peningkatan karena naiknya suku bunga bank dan depresiasi rupiah dari pinjaman luar negeri. (nurul)