PTBA Catatkan Raport Merah Laporan Keuangan

Kinerja 2013, Laba Anjlok 37%

Jumat, 28/02/2014

NERACA

Jakarta – Dampak melesunya harga batu bara di dunia, memberikan imbas terhadap kinerja keuangan PT Bukit Asam Tbk (PTBA). Tengok saja dari laba perseroan sepanjang tahun 2013, hanya membukukan laba bersih sebesar Rp 1,83 triliun. Jumlah tersebut turun sekitar 37% bila dibandingkan tahun 2012, laba bersihnya mencapai Rp 2,90 triliun.

Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam laporan keuangan di Jakata, Kamis (27/2). Sementara laba bersih per saham juga ikut merosot jadi Rp822 dari sebelumnya Rp1.262 per saham. Kondisi ini diperburuk dengan penjualan perseroan di 2013 turun jadi Rp11,21 triliun dari tahun sebelumnya Rp11,59 triliun.

Kemudian beban pokok melonjak dari Rp6,50 triliun pada 2012 jadi Rp7,74 triliun akhir tahun kemarin. Laba usaha perseroan menukik menjadi Rp2,15 triliun dari sebelumnya Rp3,59 triliun. Begitu pun, laba sebelum pajak dari Rp3,91 triliun menjadi Rp2,46 triliun. Sedangkan total aset emiten batu bara plat merah juga merosot di akhir 2013 menjadi Rp11,67 triliun dari tahun sebelumnya mencapai Rp12,73 triliun.

Sebagai informasi, tahun ini PTBA menargetkan penjuakan batu bara sebanyak 24,7 juta ton, naik 38% dari realisasi tahun lalu yang sebesar 17,8 juta ton. Angka 24,7 juta ton itu terdiri dari ekspor 55% dan penjualan domestik 45%. Target 24,7 juta ton di antaranya berasal dari produksi PTBA 19,8 juta ton dan dari pembelian batu bara anak usaha 3,98 juta ton.

Sekretaris Perusahaan PTBA Joko Pramono pernah bilang, peningkatan penjualan itu akan dicapai di antaranya dengan cara memprioritaskan ekspor batu bara berkalori tinggi,”Tahun ini kami menargetkan ekspor 13,5 juta ton, naik 40% dari ekspor tahun lalu 9,6 juta ton,” ujarnya.

Joko menambahkan untuk mencapai target itu, PTBA juga didukung oleh armada baru PT Kereta Api Indonesia sebanyak 230 gerbong baru dan 44 lokomotif baru yang telah beroperasi secara penuh pada semester II/2013.

Untuk mendukung peningkatan volume penjualan dan volume produksi, PTBA juga melakukan peningkatan kapasitas pelabuhan Tarahan dari saat ini sekitar 13 juta ton per tahun menjadi 25 juta ton per tahun mulai semester I/2014. “Dalam hal ini, PTBA membangun tambahan satu jetty baru dengan kapasitas sandar 150.000—200.000 DWT, di samping dermaga yang lama dengan kapasitas sandar 80.000 DWT sehingga pelabuhan Tarahan dapat disandari oleh dua kapal sekaligus,” jelas Joko.

Selain itu, PTBA juga membangun tambahan dua RCD (alat bongkar batu bara dari gerbong kereta api) yang baru di samping dua RCD yang sudah ada. Dengan demikian, pembongkaran batu bara di pelabuhan Tarahan bisa dilakukan untuk empat rangkaian gerbong batu bara sekaligus.

Untuk menjamin keandalan operasional pelabuhan Tarahan, PTBA sudah menyelesaikan pembangunan PLTU Pelabuhan Tarahan 2x8 MW pada Desember 2013, sehingga PTBA tidak lagi menggunakan daya listrik PLN. Sementara itu untuk proyek pengembangan lainnya, PLTU Banjarsari 2x110 MW dijadwalkan beroperasi pada semester II/2014. Sementara, PLTU Banko 2x620 MW dijadwalkan mulai pembangunan konstruksi pada 2015, setelah pada triwulan I/2014 menyelesaikan aspek pendanaannya. “Untuk proyek PLTU Peranap 800—1.200 MW di Indragiri Hulu, sedang persiapan penyusunan studi kelayakan,” tambahnya.

Selanjutnya untuk proyek gas metana batu bara (Coal Bed Methane/CBM) di wilayah operasi Tanjung Enim, sudah diselesaikan pengeboran 3 sumur produksi (pilot) dan tahun ini akan melakukan pengeboran 3 core hole baru dan 1 sumur produksi baru. Pada 2015, CBM Tanjung Enim dijadwalkan sudah mulai beroperasi dengan kapasitas setara dengan kebutuhan bahan bakar untuk sebuah PLTU dengan kapasitas 200 MW. (bani)