Minim Risiko, Sukuk Ritel Menggiurkan

NERACA

Jakarta- Imbal hasil lebih tinggi yang ditawarkan surat utang syariah atau sukuk ritel dibanding deposito dinilai dapat menjadi alternatif investasi yang menarik bagi investor. Apalagi dijamin 100% oleh negara. “Setiap investasi pasti ada risiko gagal bayar, risiko pasar ada inflasi dan suku bunga tapi untuk sukuk ritel karena dikeluarkan oleh pemerintah jadi dijamin 100% oleh negara. Kalau deposito maksimal dijamin Rp 2 miliar.” kata Kasubdit Pengelolaan Transaksi Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan, Wien Irwanto di Jakarta, Rabu (26/2).

Menurut dia, sukuk ritel seperti seri SR-006 bertenor 3 tahun memberikan imbal hasil hingga 8,75% per tahun dibanding deposito bank BUMN yang rata-rata keuntungannya hanya 7,5%. Hingga saat ini, seri SR-006 sendiri telah terserap 80% dari total target Rp 18,5 triliun. “Ada beberapa agen penjual menambah kuota,” ujarnya.

Diketahui, pemerintah menawarkan Sukuk Ritel seri SR-006 dengan imbalan tetap sebesar 8,75 persen per tahun ini mulai 14 hingga 28 Februari 2014. Keterangan tertulis Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan melalui laman resminya menyebutkan, Sukuk Negara Ritel seri SR-006 itu telah mendapat Pernyataan Kesesuaian Syariah DSN-MUI Nomor B-039/DSN-MUI/II/2014 tanggal 7 Februari 2014.

Pemesanan sukuk ritel itu dapat dilakukan melalui 28 agen penjual yang terdiri dari 19 bank dan sembilan perusahaan efek yang telah ditunjuk Pejabat Pembuat Komitmen. Pembayaran kupon sukuk dengan akad Ijarah Asset to be Leased itu akan dilakukan setiap bulan mulai tanggal 5 April 2014.

Sukuk ritel itu akan diterbitkan pada 5 Maret 2014 dan jatuh tempo 5 Maret 2017 serta dicatatkan di PT Bursa Efek Indonesia pada 6 Maret 2014. Nominal per unit sukuk ritel yang dapat diperdagangkan itu sebesar Rp1 juta. Target investor sukuk tersebut adalah individu WNI dengan minimum pemesanan Rp5 juta dan kelipatannya sementara maksimum pemesanan Rp5 miliar. Adapun Underlying asset (aset acuan) sukuk ritel tersebut adalah proyek APBN Tahun 2014.

Tercatat, 19 agen penjual sukuk ritel ini antara lain Citibank, Bank ANZ Indonesia, BRI Syariah, Bank Central Asia, CIMB Niaga, Bank Danamon Indonesia, Bank DBS Indonesia, Bank Internasional Indonesia, Bank Mandiri, dan Bank Muamalat Indonesia. Kemudian, Bank Negara Indonesia, OCBC NISP, Bank Panin, Bank Permata, Bank Rakyat Indonesia, Bank Syariah Mandiri, Bank Tabungan Negara, Standard Chartered Bank dan The Hongkong and Shanghai Banking Corporation Limited.

Sementara sembilan perusahaan efek adalah Bahana Securities, Danareksa Sekuritas, Mandiri Sekuritas, Maybank Kim Eng Securities, Mega Capital Indonesia, Reliance Securities, Sucorinvest Central Gani, Trimegah Securities dan Valbury Asia Securities. (lia)

BERITA TERKAIT

Teknologi Tinggi dan Manajemen Risiko

Oleh: Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis   Semakin dominan teknologi tinggi di dalam sebuah perekonomian maka…

Konsumsi Sayur Bisa Turunkan Risiko Serangan Jantung

Nasihat untuk selalu mengonsumsi sayuran demi kesehatan tak lagi bisa disepelekan. Sayuran terbukti kurangi risiko serangan jantung. Sebuah studi yang…

Minim Sentimen Positif, IHSG Terkoreksi Tipis

NERACA Jakarta - Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa ditutup melemah tipis sebesar 0,98 poin terpengaruh…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Mobil88 Targetkan Penjualan Tumbuh 15%

Jelang musim mudik Lebaran, tren penjualan mobil bekas kembali meningkat. Hal itu bahkan sudah terlihat sejak sebelum datangnya bulan Ramadan,…

Sritex Bagikan Total Dividen Rp 163,6 Miliar

NERACA Jakarta – Berdasarkan hasil rapat umum pemegang saham (RUPS), PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL)  atau Sritex memutuskan untuk…

Bidik Pasar Ekspor Ke Jepang - Trias Join Venture Perusahaan Jepang

NERACA Sidoarjo – Ditengah terkoreksinya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, PT Trias Sentosa Tbk (TRST), perusahaan yang produksi packaging…