Tren Pelemahan Indeks BEI Belum Berakhir

Kamis, 27/02/2014

NERACA

Jakarta – Mengakhiri perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) Rabu kemarin, indeks harga saham gabungan (IHSG) kembali ditutup terkoreksi 44,571 poin (0,97%) ke level 4.532,720. Sementara Indeks LQ45 anjlok 9,402 poin (1,22%) ke level 758,808. Aksi ambil untung ivestor yang berlanjut dari awal pekan kemarin, menjadi beban terhadap pergerakan indeks BEI yang terus betah di zona merah.

Kata analis Trust Securities, Reza Priyambada, melemahnya bursa saham regional dimanfaatkan pelaku pasar saham domestik untuk kembali mengambil posisi lepas saham,”Sentimen negatif ini membawa kondisi indeks BEI terus terkoreksi,”ujarnya di Jakarta, Rabu (26/2).

Dia menambahkan, meski investor asing masih membukukan beli bersih (net buy) saham di BEI pada Rabu kemarin, namun nilai transaksinya cenderung berkurang. Oleh karena itu, pelaku pasar saham diharapkan mewaspadai berlanjutnya potensi penurunan.

Sementara analis HD Capital Yuganur Wijanarko menambahkan, secara teknikal koreksi indeks BEI dalam beberapa hari ini dapat berpotensi membentuk tren pelemahan baru jika dalam pekan ini tidak dapat menembus tingkat 4.700 poin,”Pelaku pasar direkomendasikan cermati momentum yang ada," kata dia.

Berikutnya, indeks BEI Kamis diproyeksikan akan kembali di zona yang sama dengan tren pelemahan. Perdagangan kemarin, masih ada aksi beli menjelang penutupan perdagangan. Dimana saham-saham yang diincar ada di sektor agrikultur. Sektor-sektor lain terkena koreksi cukup dalam hingga lebih dari satu persen.

Transaksi investor asing tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 138,15 miliar di seluruh pasar. Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 223.880 kali pada volume 4,458 miliar lembar saham senilai Rp 5,927 triliun. Sebanyak 102 saham naik, 187 saham turun, dan 75 saham stagnan.

Pergerakan bursa-bursa di Asia tidak banyak berubah sejak awal perdagangan hingga penutupan pasar, masih mixed. Beberapa terkapar di zona merah gara-gara sentimen dari pasar global. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya HM Sampoerna (HMSP) naik Rp 400 ke Rp 68.900, Bank Ekonomi (BAEK) naik Rp 385 ke Rp 1.935, Surya Toto (TOTO) naik Rp 250 ke Rp 7.700, dan Waran Inovisi (INVS-W) naik Rp 100 ke Rp 1.500.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Delta Jakarta (DLTA) turun Rp 9.000 ke Rp 350.000, Indocement (INTP) turun Rp 725 ke Rp 21.175, Unilever (UNVR) turun Rp 375 ke Rp 28.025, dan Indofood CBP (ICBP) turun Rp 350 ke Rp 10.900.

Perdagangan sesi pertama, indeks BEI terpangkas 20,520 poin (0,45%) ke level 4.556,771. Sementara Indeks LQ45 terkoreksi 3,488 poin (0,45%) ke level 764,722. Aksi jual masih didominasi oleh investor lokal. Saham-saham lapis dua memimpin pelemahan siang ini. Indeks sempat sentuh titik terendahnya di 4.542,563.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 119.524 kali pada volume 2,606 miliar lembar saham senilai Rp 3,082 triliun. Sebanyak 95 saham naik, 140 saham turun, dan 82 saham stagnan. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Bukit Asam (PTBA) naik Rp 125 ke Rp 9.275, Waran Inovisi (INVS-W) naik Rp 100 ke Rp 1.500, Tempo Scan (TSPC) naik Rp 95 ke Rp 3.295, dan Indo Tambangraya (ITMG) naik Rp 75 ke Rp 25.450.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Indocement (INTP) turun Rp 325 ke Rp 21.575, Unilever (UNVR) turun Rp 175 ke Rp 28.225, Saratoga (SRTG) turun Rp 160 ke Rp 4.530, dan Sarana Menara (TOWR) turun Rp 150 ke Rp 3.250.

Kondisi yang sama juga terjadi diawal perdagangan. Pasalnya, indeks BEI langsung dibuka turun 14,80 poin atau 0,32% menjadi 4.562,49. Sedangkan Indeks 45 Saham Unggulan (LQ45) melemah 3,84 poin (0,50%) ke posisi 764,37.

Meskipun demikian, menurut Head of Research Valbury Asia Securities, Alfiansyah, prospek investasi di bursa saham Indonesia masih terbilang positif ini, tekanan akibat aksi ambil untung yang melanda dalam beberapa hari terakhir ini diperkirakan berkurang,”Pelaku pasar masih optimis dengan prospek makro ekonomi Indonesia pada tahun ini. Iklim investasi di Indonesia terbilang positif. Hal tersebut terlihat pada membaiknya neraca transaksi berjalan kuartal IV 2013 yang membaik, diikuti dengan surplusnya neraca perdagangan selama tiga periode sepanjang 2013," katanya.

Faktor positif lainnya bagi pasar domestik, lanjut dia, publikasi atas laporan keuangan emiten tahun buku 2013 yang juga terbilang positif. Tercatat bursa regional di antaranya indeks Hang Seng, dibuka menguat 60,12 poin (0,27%) ke tingkat 22.377,32, indeks Nikkei turun 15,03 poin (0,10%) ke tingkat 15.036,57 dan Straits Times melemah 10,01 poin (0,32%) ke posisi 3.093,61. (bani)