Mandiri Sekuritas Bidik Sepuluh Calon Emiten

NERACA

Jakarta- Di tahun pemilihan umum (pemilu), PT Mandiri Sekuritas cukup optimis dengan bisnis penjaminan emisinya di tahun ini. Perusahaan sekuritas ini menargetkan dapat menangani setidaknya 10 perusahaan yang ingin melaksanakan penawaran perdana umum saham (Initial Pubic Offering/IPO) dan 20 perusahaan yang menerbitkan surat utang. “Target 2014 kita harapkan kita bisa ngerjakan 10 IPO dan 20 surat utang dengan nilai sekitar Rp10 triliun-Rp12 triliun,” kata Direktur Utama Mansek Abiprayadi Riyanto di Jakarta, Senin (24/2).

Dalam menjalankan bisnisnya, menurut dia, pihaknya akan terus meningkatkan sinergi dan berkoordinasi secara intensif di lingkungan Bank Mandiri Group. Di antaranya dalam melakukan identifikasi atas berbagai peluang yang dapat dikembangkan, termasuk target dalam menjalankan kegiatan usaha.

Namun, untuk saat ini dia belum dapat menyebutkan perusahaan-perusahaan mana saja yang akan ditanganinya untuk IPO. Adapun untuk surat utang sendiri pihaknya pun masih menunggu kepastian dana yang dibutuhkan calon penerbit. “Kebutuhan emiten ada investor ada, jadi Anda lihat kecenderungan dikeluarkan di kuartal satu dan kuartal empat,” ujarnya.

Sementara untuk target Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tahun ini, pihaknya masih optimis di level 5.550 hingga akhir tahun. Dengan catatan, IHSG dapat melewati beberapa hal yang krusial, seperti pelaksanaan pemilihan umum. “Pergerakan IHSG akan mencapai level 4.800 terlebih dahulu. Level ini akan terwujud hingga April nanti, terhitung mulai Januari kemarin,” kata Head of Equity Research Mandiri Sekuritas, John Rachmat.

Meski demikian, menurut dia, ada beberapa sentimen lainnya yang juga harus dicermati. Salah satunya, pemberlakuan pembatasan ekspor mineral. Peraturan tersebut membuat pengekspor mineral berbondong-bondong menjual produksinya sebelum ketentuan tersebut diberlakukan. Namun, mulai Januari kemarin, aksi panic selling itu mulai berakhir sehingga neraca perdagangan per Januari yang akan dirilis berpotensi tidak sebaik data pada Desember 2013.

Hal ini tentunya dapat menjadi sentimen negatif bagi pergerakan IHSG ke depan. Apalagi, data-data tersebut bakal terangkum dalam posisi rupiah yang selama ini juga menjadi pertanyaan investor asing. Akan tetapi, data-data makro ekonomi lainnya seperti tingkat inflasi, neraca berjalan, transaksi perdagangan hingga nilai tukar rupiah saat ini secara umum relatif lebih baik jika dibandingkan tengah tahun lalu. Proyeksinya, jika presiden terpilih nanti merupakan sosok yang market friendly, menurut dia, IHSG menembus 5.550 menjadi hal yang logis. “Selepas April nanti indeks baru mulai terkoreksi karena pelaku pasar cenderung wait and see.” ujarnya. (lia)

Related posts