Pasar Obligasi Bergerak Variatif

Senin, 24/02/2014

NERACA

Jakarta – Ditengah perlambatan ekonomi tahun 2014, rupanya tidak menyurutkan perusahaan untuk menerbitkan surat utang atau obligasi. Bahkan diprediksikan pada pekan ini, laju pasar obligasi masih berupaya menguat, namun sejumlah sentimen negatif akan menyebabkan lajunya menjadi variatif,”Mulai adanya sentimen negatif terutama dari laju rupiah yang akan melemah karena terimbas kabar pernyataan beberapa pejabat The Fed yang menginginkan adanya percepatan penarikan stimulus dan suku bunga Fed Rate akan membuat laju pasar obligasi variatif," kata Sekretaris Umum Forum Komunikasi Certified Securities Analyst (CSA) Reza Priyambada di Jakarta, kemarin.

Menurut dia, sentimen yang ada di pasar tersebut kemungkinan akan dimanfaatkan sebagian pelaku pasar obligasi untuk melakukan aksi ambil untung (profit taking), dengan memanfaatkan laju kenaikan pasar obligasi yang terjadi selama sepekan terakhir.

Di sisi lain, dia menambahkan, jelang akhir bulan biasanya akan ada penilaian mengenai inflasi yang akan mempengaruhi pasar obligasi. Namun, masih rendahnya harga obligasi dibanding tahun-tahun sebelumnya kemungkinan akan dimanfaatkan untuk koleksi secara bertahap.Karena itu, dia mengingatkan pelaku pasar untuk mewaspadai potensi pelemahan, terutama pada tenor jangka panjang. "Semoga data-data yang dirilis nantinya tidak semakin menambah keinginan untuk profit taking," kata dia.

Sementara laju penguatan pasar obligasi pada pekan ini seiring dengan sentimen positif dari dalam negeri, seperti surplus neraca pembayaran Indoensia kuartal IV/2013 dan terapresiasinya rupiah.

Namun, rilis lelang SUN yang rendah membuat pasar obligasi sempat variatif. Pada pasar sekunder terlihat mayoritas mengalami penurunan yield kecuali untuk tenor 4 tahun yang sedikit mengalami kenaikan. Pada seri benchmark juga terlihat penurunan yield dan harga obligasinya pun dapat kembali ke harga parnya (premi). Selain terimbas data-data makro ekonomi Indonesia yang dinilai membaik, penggunaan acuan kurs rupiah menjadi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) oleh pasar keuangan Singapura menggantikan Non Deliverable Forward (NDF) turut berimbas positif karena dinilai membuat investor asing lebih yakin terhadap pergerakan rupiah.

Sebagai informasi, pekan ini ada PT Ciputra Development Tbk (CTRA) yang menerbitkan obligasi pada sebesar Rp500 miliar. Direktur Keuangan PT Ciputra Development Tbk Tulus Santosa pernah bilang, nantinya dana hasil obligasi tersebut akan digunakan sebagai penyertaan modal bagi anak usaha yang bergerak di bidang real estate.

Sementara untuk mendukung kinerjanya sepanjang tahun ini, perseroan telah menyiapkan alokasi dana belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp1,5 triliun. Bila dibandingkan dengan alokasi tahun sebelumnya, nilai capex tahun ini mengalami penurunan sekitar 20% dari tahun sebelumnya senilai Rp2 triliun. Hal ini lantaran, ada sejumlah proyek yang investasinya telah dilakukan pada tahun lalu. Sumber dananya lebih banyak pinjaman dan internal perseroan.

Direktur Utama PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) atau IBPA, Ignatius Girihendro mengatakan, minat beli investor asing terhadap obligasi Indonesia masih tinggi seiring dengan imbal hasil atau yield yang menarik, “Dari sisi ketersediaan produk, pemerintah merencanakan untuk menerbitkan surat utang pada tahun 2014 mencapai Rp357 triliun,”ujarnya.

Selain itu, lanjut Ignatius Girihendro, untuk obligasi korporasi pihak Bursa Efek Indonesia (BEI) menargetkan pada tahun ini sebanyak 57 obligasi korporasi diterbitkan pada 2014. Jumlah penerbitan obligasi korporasi tersebut meningkat dibandingkan target penerbitan obligasi pada 2013 yang sebanyak 50 emisi obligasi korporasi. (bani)