Fokus Bisnis Offshore, Capitol Nusantara Beli 6 Kapal Baru

Senin, 24/02/2014

NERACA

Jakarta - Emiten pertambangan batubara, PT Capitol Nusantara Indonesia Tbk (CANI) mengubah strategi usahanya menjadi bisnis lepas pantai (offshore). Menurut Direktur PT Capitol Nusantara Indonesia Tbk Jansen Warokka, hal ini dilakukan akibat meredupnya bisnis pertambangan khususnya batu bara.

Keseriusan perseroan mengalihkan usahanya ke bisnis offshore dibuktikan dengan rencana pembelian 6 kapal offshore baru pada tahun ini. Untuk pembelian 1 kapal offshore tersebut, perseroan diperkirakan akan mengeluarkan dana sebesar Rp40 miliar. Artinya, untuk pembelian 6 kapal itu, maka perseroan harus menyediakan dana sekitar Rp240 miliar."Memang dibutuhkan dana yang tidak sedikit. Selain dari dana hasil IPO waktu itu, kami juga mengkaji untuk mencari dana melalui pinjaman perbankan", paparnya di Jakarta, kemarin.

Kapal-kapal ini memang sengaja dipersiapkan untuk mendukung produksi minyak domestik. Apalagi, Pemerintah Indonesia menargetkan produksi minyak sebesar 870.000 barel per hari (bph). Tentu jumlah ini akan membantu perseroan meningkatkan kinerjanya."Kami sengaja siapkan kapal-kapal ini guna mendukung program pemerintah tersebut", katanya.

Selain itu, strategi lain yang akan dilakukan perseroan, salah satunya akan gencar mengikuti tender, khususnya tender pengerjaan jasa reklamasi dan offshore."Ada beberapa kontrak baru offshore atau migas. Kita lagi persiapan, progresnya bulan Maret atau April ini sudah ada beberapa kontrak yang akan ditanda tangani", ungkapnya.

Meski enggan menyebutkan nilai beberapa kontrak tersebut, dia menuturkan, bahwa jangka waktu dari beberapa proyek tersebut antara 6 bulan hingga 4 tahun. Hal ini juga lantaran belum ada kesepakatan 100% dalam proyek yang diraih perseroan.

Sementara itu, dia juga mengakui bahwa sebelum meredupnya pertambangan, batubara berkontribusi terbesar dibandingkan offshore. Hingga saat ini, pengangkutan batubara ke pendapatan perseroan sudah berkurang. Menurutnya bisa dibawah 60% atau jauh berkurang dibanding sebelumnya berkontribusi hampir 90% dari total pendapatan perseroan.

Sebelumnya, Komisaris perseroan, Yanuar Wijaya mengatakan bahwa perseroan hanya akan menambah 1 kapal Anchor Tug Handling Supply (AHTS) seharga US$6 juta pada tahun ini. Penambahan 1 unit kapal ini menggunakan pembiayaan dari dana segar hasil penawaran umum perdana atau Initial Public Offering (IPO) sekira Rp41 miliar serta dari pinjaman Bank Mandiri."Ada penambahan dana dari perbankan, Bank Mandiri sudah ada pembicaraan sebelumnya. Kapal akan datang pertengahan tahun ini", ujarnya.

Perseroan juga telah memperkirakan, dengan adanya penambahan tersebut, akan membawa dampak cukup signifikan ke pendapatan perseroan karena kontraknya cukup banyak. Tahun ini, perseroan menargetkan pendapatan senilai US$10 hingga US$15 juta. Dengan perkiraan pendapatan perbulan sekitar US$250-300 ribu untuk sewa kapal.

Saham perseroan juga ditetapkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai efek syariah. Perusahaan yang bergerak di bidang pelayaran ini, masuk sebagai efek syariah berdasarkan keputusan Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Nomor: Kep-71/D.04/2013 tentang Penetapan Saham PT Capitol Nusantara, Tbk sebagai Efek Syariah pada 31 Desember 2013.

Sebagai informasi, perseroan menawarkan saham perdana ke public sebesar Rp200 per saham dengan melepas 208,36 juta saham ke publik atau 25% dari modal ditempatkan dan disetor. Maka dengan kisaran harga tersebut, total dana segar yang dapat diraup oleh perusahaan adalah sekitar Rp39,58 miliar sampai Rp47,92 miliar.

Untuk aksi korporasinya ini, perseroan telah menunjuk PT Trimegah Securities dan PT OCBC Sekuritas Indonesia sebagai penjamin pelaksana emisi efek (underwriter). Perseroan mencatatkan saham perdananya di papan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 16 Januari 2014. (nurul)