Banjarnegara Serius Kembangkan Budidaya Ikan

Senin, 24/02/2014

NERACA

Banjarnegara - Minat tinggi masyarakat Banjarnegara akan budidaya ikan air tawar dan alam yang mendukung, membuat Pemerintah Banjarnegara, Jawa Tengah, serius mengembangkan usaha budidaya yang cukup menjanjikan ini. Salah satu bukti keseriusan pemerintahnya adalah meningkatnya APBD menjadi Rp1,3 miliar untuk tahun ini. Padahal, 3 tahun yang lalu pemerintah hanya menganggarkan APBD untuk budidaya perikanan air tawar sekitar Rp200-300 juta per tahun.

Bupati Banjarnegara, Sutedjo Slamet Utomo, mengakui jika kawasan yang berada dibawah pemerintahannya ini cukup subur. Tidak hanya 10 jenis hewan budidaya yang dikembangkan masyarakatnya, dia mengakui bahwa tanahnya juga sangat subur untuk berbagai jenis tanaman,padi-padian, hingga buah-buahan yang dapat dimanfaatkan masyarakatnya. "Kami memang terus meningkatkan bantuan bagi petani (budidaya dan pembuat pakan) dari yang jumlahnya hanya Rp200-300 jutaan sampai Rp1,3 miliar," katanya di Banjarnegara, Sabtu (22/2).

Dia menyebutkan, dua jenis komoditas ikan yang paling banyak dibudidayakan masyaraktnya adalah ikan Gurame dan Nila. Namun, diakuinya, masyarakat Banjarnegara yang menjadi pembudidaya cukup pintar. Para pembudidaya mengikuti tren ikan yang tengah diminati konsumen, hal ini, disebutnya cukup menguntungkan bagi para pembudidaya. "Pada tahun 2013 lalu, KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan) telam membantu Banjarnegara dengan 22 paket PUM.Kami harapkan tahun ini ada bantuan dana atau paket lagi," katanya.

Pelatihan Budidaya

Sementara itu, di tempat yang sama, Kepala Bidang Perikanan Dinas Pertanian, Perikanan dan Peternakan Banjarnegara, Totok Setya Winarna menyebutkan bahwa pemerintah daerah sendiri telah membantu memberikan pelatihan bagi para pembudidaya. Selain itu, dia juga mengatakan bahwa pihaknya telah meminta bantuan perbankan untuk memberikan kemudahan bagi kelompok pembudidaya.

"Tahun lalu, bahkan Direktur Utama Bank BRI langsung datang ke kantor cabang untuk memberikan kewenangan kepada kantor cabang dalam memberikan pinjaman bagi kelompok yang memenuhi persyaratan. Tahun 2013, sebanyak Rp3,5 miliar dikucurkan bagi petani, sementara di tahun ini sebesar Rp4,7 miliar," paparnya.

Dia juga menambahkan bahwa, pemberian bantuan sebesar Rp1,3 miliar tersebut juga untuk petani pakan. Hal ini karena pemerintahnya menginginkan kemandirian masyarakatnya dalam membudidayakan ikan. Di samping, pakan menjadi kendala utama dalam budidaya ini.

Adapun dari dana tersebut sekitar 50% akan diserap oleh kawasan minapolitan. Sementara sisanya digunakan untuk dana penyangga bagi 16 kecamatan di Banjarnegara yang membudidayakan ikan. Dia juga berharap akan melakukan pengembangan fisik, seperti infrastruktur dan saluran irigasi. Hal ini dikarenakan di Banjarnegara terdapat 5 sungai yang cukup potensial untuk membantu irigasi kolam ikan. "Kita ingin masyarakat mandiri termasuk pakan, makanya kita mengusahakan komposisi pakan berasal dari lokal. Tidak ada dari daerah lain, bahkan impor dari luar negeri," ungkapnya.

Dia juga mengungkapkan bahwa dari petani pakan yang sudah ada, baru mencukupi sebagian kebutuhan pakan para pembudidaya. Dalam sehari, para petani pakan baru bisa memproduksi 200 kwintal pakan dikarenakan masih dalam skala rumahan, sementara kebutuhannya mencapai 1 ton per hari. "Dengan adanya bantuan berupa alat produksi dari KKP, kami tinggal memberikan pelatihan pada petani pakan. Karena memang pakan cukup berat, hampir tiap hari naik harganya," katanya.

Banjarnegara sendiri, diakuinya sudah dipetakan, sehingga tiap kawasan memiliki komiditi khusus yang dikembangkan dari 10 jenis ikan yang menjadi komoditi unggulan di sini. Selain itu, pemerintah juga mengalokasikan dana untuk pembudidaya induk unggul yg tersertifikasi. Cukup seriusnya menggarap pembudidayaan ikan, di Banjarnegara sendiri terdamat sekolah menengah kejuruan (SMK) dengan jurusa Agribisnis Perikanan, hal ini juga diklaim dapat membangun pemuda daerah Banjarnegara untuk betah di tanah kelahirannya sendiri namun memiliki penghasilan yang cukup besar.

Kawasan Banjarnegara setidaknya butuh investasi sekitar Rp700 miliar tiap tahunnya berdasarkan perkembangan saat ini, yaitu 10.000 ton per tahun. Dengan komposisi perputaran uang dari 10.000 ton sebanyak Rp200 miliar, sementara untuk benih Rp500 miliar. Di pasr beni Purwonegoro, rata-rata perhari sebanyak 4 juta ekor benih dijual. Sedangkan, di pasar Banjarnegara, pasar produk konsumsi sekitar 2 ton perhari.