Industri Maritim Diperkirakan Tumbuh Tahun Ini

Ekonomi Global Membaik

Jumat, 21/02/2014

NERACA

Jakarta - Beberapa tahun belakangan ini, industri maritim telah mengalami masa penuh tantangan, tapi para analis optimis bahwa keadaan mulai stabil. Adanya pertumbuhan ekonomi global yang membaik menjadikan industri maritim nasional dapat tumbuh positif tahun ini.

Menurut BIMCO Chief Shipping Analyst, Peter Sand, mengatakan masuk tahun politik 2014 ini industri diproyeksikan industri bahari akan bergerak ke arah yang tepat. “Kami benar-benar melihat seberkas cahaya di ujung lorong yang gelap. Cahaya harapan yang baru-baru ini timbul di segmen Capesize and VLCC, aktivitas penghancuran yang melambat dan order pembangunan baru yang menguat, semuanya adalah perkembangan yang sangat positif,” kata Sand dalam siaran persnya yang diterima redaksi, Kamis (20/2).

Adanya pemulihan ekonomi dunia, sambung dia, menjadikan pandangan yang optimis bagi pasar perkapalan nasional yang selalu mengalami keterpurukan di tahun-tahun belakang. “Indonesia telah berkembang menjadi salah satu eksportir komoditas curah kering terbesar. Ia melanjutkan bahwa di masa mendatang, kualitas kargo, keamanan pengiriman dan kesiapan untuk melayani permintaan akan menjadi kunci keberhasilan,” paparnya.

Sebelumnya, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) telah menyiapkan peta jalan (road map) pembangunan industri perkapalan di Indonesia hingga tahun 2025 nanti . Industri ini pun diharapkan bisa memproduksi dan mereparasi semua jenis kapal dari yang berukuran kecil hingga besar.

Salah satu sasarannya, pada 2020, klaster industri perkapalan nasional sudah mampu memproduksi kapal berkapasitas 200 ribu ton bobot mati (dead weight tonnage/DWT). "Semua jenis kapal, mulai dari kapal barang, kapal penumpang, dan kapal tanker bisa diproduksi. Segmen reparasi juga harus sudah bisa mempunyai kemampuan untuk 200 ribu DWT," kata Menteri Perindustrian MS Hidayat.

Sementara itu, lanjut dia, pemerintah akan meningkatkan kemampuan desain dan rekayasa kapal guna mendukungnya, melalui pengembangan Pusat Desain dan Rekayasa Kapal Nasional (PDRKN). Industri bahan baku dan komponen lokal, serta pengembangan pusat peningkatan keterampilan SDM perkapalan juga terus ditingkatkan.

Pemerintah pun akan mengamankan dan mengoptimalkan pemanfaatan pasar dalam negeri sebagai base load untuk pengembangan industri perkapalan. Selain itu, kerja sama dengan industri perkapalan di negara lain yang sudah maju juga akan terus didorong.

Kawasan khusus industri galangan kapal juga akan dikembangkan untuk menarik investor asing dan lokal. "Dukungan lainnya, terkait kebijakan perbaikan iklim usaha, seperti soal pajak, suku bunga, dan tata niaga," kata Hidayat.

Dalam peta klaster industri perkapalan nasional, Kemenperin menetapkan, pada 2015-2020, produksi pelat dengan ketebalan hingga 30 milimeter (mm) sudah harus tumbuh dan berkembang di dalam negeri. Selain itu, PDRKN ditargetkan mampu menyuplai kebutuhan desain galangan kapal nasional.

Pada 2015, Indonesia diharapkan sudah memiliki kemampuan mereparasi kapal berkapasitas 150 ribu DWT. "Tahun 2015, kita sudah harus mampu membangun kapal berbagai jenis tipe dengan kapasitas hingga 85 ribu DWT," imbuh dia.

Minim Kapal Nasional

Sedangkan menurut Carmelita Hartato, Ketua, Indonesia National Shipowners Association (INSA), minimnya kapal berbendera Indonesia menjadikan potensi devisa banyak yang hilang karena sedikitnya penggunaan kapal nasional untuk mengangkut komoditas ekspor dan impor. "Tidak kurang dari 120 triliun rupiah, potensi devisa Indonesia yang hilang dari ongkos angkut akibat terlalu kecilnya penggunaan kapal nasional pada kegiatan angkutan ekspor dan impor, padahal potensi pasarnya selama 2012 saja mencapai 587 juta ton," katanya.

Carmelita mengungkapkan, pada tahun 2013 ini mengajak semua pemangku kepentingan untuk memenuhi ketersediaan kapal konstruksi lepas berbendera merah putih karena masa dispensasi penggunaan bendera asing akan ditutup pada Desember 2013. "Kami berharap, ada perbaikan kontrak dari jangka pendek menjadi jangka panjang, sehingga kapal nasional bisa menguasai perairan laut Indonesia" imbuhnya.

Dari perkiraan INSA dalam kurun waktu 3 tahun kedepan, industri maritim membutuhkan 325 unit kapal offshore, 80 kapal pengeboran dengan investasi rata-rata US$20 juta per unit. Kebutuhan kapal ini menjadi peluang investor nasional dan internasional dan perusahaan pelayaran nasional juga siap bekerjasama. "Setiap tahunnya, Indonesia membutuhkan kurang lebih 1000 kapal, kondisi ini jelas membutuhkan lebih banyak investor. Harapannya kebutuhan itu bisa dipenuhi oleh para pengusaha perkapalan lokal," jelasnya.