Negeri Dikuasai Teknologi Asing

Negeri Dikuasai Teknologi Asing

Oleh Bani Saksono (wartawan Harian Ekonomi Neraca)

Masih lekat dalam ingatan kita, proyek monorel di Jakarta yang digarap oleh PT Jakarta Monorail yang di-relaunching pada Oktober 32013 lalu. Kini proyek itu mangkrak, Proyek yang dikuasai Grup Ortus itu bakal menggunakan teknologi dari China, yaitu Chongqing. Padahal, sebetulnya ada putra Indonesia yang mampu membuat monorel, yaitu PT Melu Bangun Wiweka dari Bekasi. Kesanggupan memproduksi gerbong monorel juga direpresentasikan oleh PT Indukstri Kereta Api (Inka), Madiun.

Tak mau kalah, Kementerian BUMN di bawah komando Dahlan Iskan pun menyodorkan proyek monorel untuk rute yang lebih visibel, yaitu Bekasi-Cawang dan Cibubur – Cawang – Kuningan melalui konsorsium BUMN antara lain Adhi Karya dan Inka.

Soal teknologi China, bahkan era Wakil Presiden Jusuf Kalla pun juga membeli pesawat angkut penumpang M-60 untuk memperkuat maskapai Merpati Nusantara Airlines (MNA). Padahal Indonesia mampu memproduksi pesawat CN 235 yang berdaya angkut tak jauh berbeda. Pesawat CN 235 bahkan juga dipesan sejumlah negara untuk jenis pesawat militer.

Sedangkan proyek mass rapid transit (MRT) di Jakarta yang mengambil rute Lebak Bulus-Bunderan HI – Kampung Bandan, berbantuan dari Jepang melalui JICA. Artinya, Jepang akan mewajibkan teknologi dan konsultan juga harus dari Jepang. Tidak ada bantuan yang cuma-cuma atau tanpa syarat dari luar negeri.

Bahkan, ketika Unicef, Badan Kebudayaan PBB, membuka kantor perwakilan di Jakarta, banyak perangkatnya tidak menggunakan muatan lokal. Contohnya, berbagai bentuk cindera mata yang dikeluarkan Unicef Jakarta termasuk kartu Lebaran/Idul Fitri, diimpor dari negeri lain.

Padahal, jangankan sekadar kartu nama, teknologi pesawat terbang Indonesia sebetulnya sudah diakui dunia. Prof BJ Habibie sekurang-kurangnya mempunyai lebih dari 46 hak paten atas sejumlah piranti di industri pesawat terbang, baik Airbus di Eropa maiupun Boeing di Amerika Serikat. Setelah tak berkuasa di pemerintahahan, Habibie baru akan memproduksi pesawat angkut R-80, hasil pengembangan N250, yang dikendalikan secara elektronik (fly by wire) pada 2016. Saat ini, di dunia hanya ada tiga jenis pesawat bertipe fly by wire, pertama N250, kedua Airbus A-300 dan ketiga Boeing B-777. Airbus A-300 dibuat saat Habibie duduk menjadi direktur dan executive vice president. Pertanyaannya, kenapa R-80 harus menunggu sampai 2016?

Pada Oktober 2014, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) dan asosiasi sektor transportasi, seperti Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) bersama event organizer (EO) Reed Panorama Exhibition akan menggelar Pameran Perdagangan dan Industri Transportasi dan Logistik (Indonesia Transport, Supply Chain & Logistic (ITSCL) dan Intralogistic Indoesia (ILI). Pameran ini juga akan dihadiri para pabrikan dari negara asing. []

BERITA TERKAIT

Teknologi Padat Modal dan Sistem Pembayaran

  Oleh: Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis   Sistem pembayaran pada galibnya merupakan hasil dari inovasi…

Kerjasama Indonesia-Korea Kembangkan Teknologi UKM

Kerjasama Indonesia-Korea Kembangkan Teknologi UKM NERACA Jakarta - Deputi Bidang Kelembagaan Kementerian Koperasi dan UKM Meliadi Sembiring mengatakan bahwa saat…

Teknologi Industri Berperan Penting Dongkrak Daya Saing

NERACA Jakarta – Balai penelitian dan pengembangan (litbang) industri di lingkungan Kementerian Perindustrian selama ini mengambil peran dalam upaya mendongkrak…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Ternyata, Ikan Impor

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia mengumumkan 27 produk ikan kaleng makerel mengandung cacing parasit. Sebelumnya, BPPOM Kota…

Siapa Lebih Dipercaya, Menkes atau IDI?

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memastikan 27 merek produk makarel mengandung parasit cacing. Temuan ini diperoleh setelah BPOM meneliti…

Ini Dia, 27 Merek Sarden Mengandung Cacing

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengumumkan perkembangan temuan dari isu ikan makarel mengandung parasit cacing. Sebelumnya, tiga merek yaitu…