Siapkan Opsi Konkret Demi Resiko Terburuk - Waspadai Dampak Krisis Utang AS dan Eropa

NERACA

Jakarta - Krisis utang di negeri Paman Sam mesti diwaspadai. Meski belum ada dampak signifikan terhadap Indonesia. Namun tak ada salahnya perlu diantisipasi dengan penyiapan opsi. Karena saat ini Presiden Obama sedang berjuang keras mendapatkan persetujuan batas utang sebesar US$ 14,3 triliun.

Dalam jangka pendek, sektor perekonomian yang terkena imbas adalah sektor riil. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Mei 2011, ekspor nonmigas Indonesia terbesar adalah China, yaitu US$ 1,81 miliar, disusul Jepang sebesar US$ 1,53 miliar, dan Amerika Serikat yang mencapai US$ 1,32 miliar. Kontribusi ketiga negara tersebut sebesar 32,75%. Sementara ekspor Indonesia ke Uni Eropa mencapai US$ 2,02 miliar.

Selama periode Januari-Mei 2011, Jepang masih merupakan negara tujuan utama ekspor Indonesia dengan nilai US$ 7.351,8 juta atau 11,44%, ditempat kedua China senilai US$ 7.010,3 juta atau 10,91%, dan Amerika Serikat mencapai US$ 6.556,5 juta atau 10,21%.

Menurut ekonom LIPI, Agus Eko Nugroho, kombinasi krisis AS dan Eropa akan menimbulkan ketidakpastian yang tinggi di dunia. Apalagi ekonomi AS belum pulih. Suka atau tidak suka, pasti berpengaruh pada sektor riil di Indonesia. “Katakanlah beberapa produk unggulan ekspor ke AS seperti tekstil atau furnitur yang mau tidak mau akan mengurangi porsi ekspor. Sektor-sektor tersebut pasti mengalami penurunan demand,” ungkap Agus kepada Neraca, Rabu (27/7).

Agus mewanti-wanti pemerintah melakukan antisipasi dari kemungkinan negatif yang muncul. Pemerintah, kata Agus, harus mendorong masyarakat dan dunia usaha tidak panik atau ketakutan. “Sentimen negatif dari krisis AS bisa diminimalisasi dengan penguatan-penguatan domestik. BI (Bank Indonesia) juga harus lebih melonggarkan ekspansi moneter,” terangnya

Namun, Agus, menggarisbawahi, potensi pengaruh pada sektor riil tersebut tidak akan sebesar yang diperkirakan banyak pakar. “Pengaruhnya masih kecil. Misalnya pada produk sepatu, yang bisa dibilang 50% berbanding 50% dengan penyerapan domestik. Artinya, jika bisa memanfaatkan pasar domestik, pengaruh negatif krisis AS tidak akan terlalu besar, apalagi sampai pada pemutusan hubungan kerja yang besar,” katanya.

Sementara ekonom FEUI, Lana Soelistianingsih meminta pemerintah tak boleh banyak berwacana. Ambil pahitnya saja, jika terjadi gagal bayar di AS. Maka bisa dipastikan seluruh pasar modal dunia akan anjlok. Ditambah lagi uncertainty di AS. Ini menyebabkan perekonomian AS default.

Namun bukan berarti capital outflow tak ada. Masalahnya investor asing tidak punya pilihan lain memindahkan uangnya. “Ini hanya jangka pendek sampai akhir 2011. Namun tetap saja, capital outflow bisa terjadi. Meski fondasi perekonomian kita baik. Wajarlah, mereka kan cuma numpang lewat saja,” ujar dia kepada Neraca, kemarin.

Masalahnya hingga kini, kata Lana, Senat AS ngotot menolak permintaan pemerintah AS untuk menaikan pagu utang dalam jangka pendek. Alasannya, hal itu akan membahayakan upaya pemulihan ekonomi AS.

Ancaman lain juga datang dari Eropa, Jika, perekonomian Uni Eropa default, maka nilai obligasi kemungkinan anjok. Kondisi ini menarik bagi investor. Kemungkinan investor akan ramai-ramai membeli. Des, arus modal masuk ke Eropa bakal besar karena obligasi murah.

Obligasi murah tersebut karena investor melihat sebagai government bond. Dengan peringkat obligasi rendah, pemerintah Yunani akan memberi banyak insentif untuk memikat investor. Bentuknya, berupa obligasi dengan kupon yang tinggi dan dalam jangka waktu lama.

Jadi, meskipun obligasi tersebut memiliki resiko tinggi, namun kalangan investor bisa terpikat oleh adanya banyak insentif. “Sepertinya krisis Yunani bakal dibiarkan ke arah sana (default). Ini sangat bagus. Kenapa? Kapanlagi kita bisa beli surat utang Eropa dengan harga sangat murah. Jadi capital outflow itu ada, tapi tidak banyak,” tandas Lana.

Pilihan lain, katanya, jika Eropa default dan pagu utang AS batal cair, maka tidak akan terjadi capital outflow besar-besaran dan dana investor asing masih tetap ‘diam’ di Indonesia karena walau bagaimanapun juga, AS tetap masih menjadi pusat perekonomian dunia.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Fadhil Hasan mengakui, krisis ekonomi yang melanda AS memang perlu diwaspadai, terutama ekspor minyak kelapa sawit. “Walaupun AS terbilang kecil mengambil CPO dari kita. Namun dengan perlu diwaspadai. Sebab lambat laun pasti akan mempengaruhi ekspor kita ke China, India dan Eropa,” ungkapnya kepada Neraca.

Fadhil memperkirakan, ekspor CPO Indonesia pada 2011 bisa mencapai 19,35 juta ton. Sedangkan produksi CPO Indonesia akan mencapai 25,4 juta ton pada 2011. Angka itu lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 23,6 juta ton. Bahkan proyeksi capaian ekspor CPO Indonesia pada 2011 bisa menembus US$ 20,2 miliar atau setara Rp 180 triliun.

Fadhil menjelaskan, sepanjang 2010 nilai ekspor CPO dan produk turunan sawit Indonesia untuk total keseluruhan mencapai US$ 16,4 miliar. Pada kuartal I 2010, nilai ekspor CPO sebesar US$ 2,66 miliar selanjutnya bertambah menjadi US$ 3,04 miliar di kuartal II. Berikutnya di kuartal III, nilai ekspor sebesar US$ 4,46 miliar yang kian melonjak tajam menjadi sekitar US$ 6,32 miliar di kuartal IV. "Yang saya takutkan adalah krisis ekonomi yang melanda Amerika Serikat ikut mempengaruhi ekspor CPO kita ke dunia,”tuturnya.

Hal yang sama diakui, Ade Sudrajat, Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia yang mengatakan pemerintah sudah sepatutnya menanggapi dengan serius. “Opsi antisipasi atas krisis keuangan sebesar negara USA sangat terbatas, mau tidak mau, imbasnya pasti mendunia, dan bisa memicu multikrisis di berbagai belahan dunia,” ujar Ade

Dia mengakui, dampak krisis AS sulit dihindarkan. Karena itu pemerintah harus punya "rem". "Pasar ekspor dipastikan melemah, makanya kita usulkan ke pemerintah supaya segera Free Trade Agreement (FTA) dengan EU dan EFTA (The European Free Trade Association),” katanya.

Meskipun membutuhkan waktu, namun menurut Ade, langkah antisipasi dengan mengupayakan sesegera mungkin Free Trade Area (FTA) dengan Eropa, dinilai lebih baik dan lebih mungkin bagus ketimbang harus menggiring para eksportir untuk berpindah ke negara lain. ”Kalau pindah Negara Tujuan Ekspor (NTE), nggak mungkinlah,” jelasnya.

Yang pasti, kata Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Bambang Brodjonegoro, pemerintah tak tinggal diam terkait krisis tersebut. Bahkan sudah menyiapkan 4 jalur ekonomi yaitu perdagangan internasional, transaksi keuangan, investasi langsung, dan pariwisata. "Pertama, perdagangan internasional atau ekspor-impor. Kedua, bisa dari transaksi keuangan. Ketiga, investasi langsung oleh asing (Foreign Direct Investment /FDI). Keempat, jumlah wisatawan yang datang ke Indonesia," katanya di Jakarta Rabu (27/7).

Namun diakui mantan Dekan FEUI ini, buruknya ekonomi global sejauh ini belum berdampak signifikan terhadap ketahanan ekonomi Indonesia. Hanya saja tetap perlu dijaga untuk menangkalnya. "Dapat disimpulkan belum ada dampak signifikan terhadap ketahanan ekonomi Indonesia, tapi tetap patut diwaspadai," ujarnya.

Bambang menyatakan volume perdagangan Indonesia dengan negara-negara kawasan Eropa, terutama Yunani, Portugal, Spanyol, dan Itali, di bawah 1% dari total ekspor nasional, sehingga diyakini dampak krisis utang di kawasan tersebut tidak akan besar. Demikian pula dari sisi transaksi keuangan, porsi sektor jasa keuangan dari kawasan Eropa hanya sekitar 10% dari PDB nasional.

Sementara untuk FDI, Bambang mengatakan porsi investasi pemodal Eropa di Indonesia di bawah 2% dari PDB. Demikian pula pariwisata, jumlah wisatawan Eropa yang datang ke Indonesia tidak sebesar jumlah turis dari kawasan lain. “Jadi sekalipun ada, dampak sangat minimal kalau Eropa bergejolak," pungkasnya.

BERITA TERKAIT

BI Pertahankan Bunga Acuan 4,25% - DAMPAK KENAIKAN SUKU BUNGA THE FED

Jakarta-Meski Bank Sentral AS (The Fed) menaikkan suku bunga acuannya 0,25%, Bank Indonesia tetap mempertahankan suku bunga acuan "7-Day Reverse…

BPJS Ketenagakerjaan Siapkan Layanan Digital

      NERACA   Jakarta - Era digital menuntut semua pihak untuk dapat memenuhi tuntutan pelanggan dengan mudah dan…

Sektor Teknologi dan Manajemen Risiko

  Oleh: Achmad Deni Daruri President Director Center for Banking Crisis     Korporasi Alibaba segera akan mengganti para akuntannya…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Skema Lelang Gula Rafinasi Dinilai Tidak Efektif

  NERACA Jakarta – Lembaga Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menyatakan distribusi gula rafinasi melalui mekanisme lelang dinilai tidak…

DAMPAK KENAIKAN SUKU BUNGA THE FED - BI Pertahankan Bunga Acuan 4,25%

Jakarta-Meski Bank Sentral AS (The Fed) menaikkan suku bunga acuannya 0,25%, Bank Indonesia tetap mempertahankan suku bunga acuan "7-Day Reverse…

PENGELOLAAN SEKTOR ENERGI - BUMN Migas Vs BUK Migas, Mana Lebih Efisien?

NERACA Jakarta – Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Satya Widya Yudha berharap pemerintah tidak buru-buru merealisasikan pembentukan induk usaha…