IPBA Akan Perbanyak Indeks Obligasi - Permudah Memilih Obligasi

NERACA

Jakarta - PT Penilai Harga Efek Indonesia (Indonesia Bond Pricing Agency/ IBPA) berencana memperbanyak indeks obligasi tahun ini agar fund manager atau manajer investasi (MI) bisa memilih kategori obligasi berdasarkan tenor yang sesuai dengan obligasi pengategorian tersebut.

Sebelumnya, indeks obligasi yang diterbitkan IBPA hanya ada indeks surat utang negara (SUN) dan obligasi korporasi secara keseluruhan. Nantinya, dengan keberadaan indeks ini, bisa membantu MI membedakan obligasi apa yang akan dipilih.

Direktur IBPA Wahyu Trenggono mencontohkan, dari 450 obligasi, jika hanya ingin pilih seri benchmark saja, maka hanya 4 obligasi yang diambil untuk hitungan indeks ini. Dengan kata lain, indeks-indeks yang dikelompokkan berdasarkan tenor ini akan menjawab kebutuhan manajer investasi yang hanya ingin memilih untuk reksa dana.“Bukan hanya tenor pendek, namun juga akan dibuat indeks tenor menengah dan panjang. Mereka (MI) akan melihat harga obligasi apakah sudah wajar atau tidak berdasarkan kurva imbal hasil yang dimiliki. Jika kondisi ekonomi sedang bagus, harga obligasi wajar berada di atas PAR. Jika kondisi ekonomi sedang turun, wajarnya harga berada di bawah PAR”, ungkapnya di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Sebelumnya, Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berencana mentransaksikan obligasi di bursa. Rencana yang sudah digagas sejak 2012 ini, dikatakan Wahyu, belum selesai. Pasalnya, belum ada kepastian indikator penentu harga untuk obligasi apakah akan terbentuk oleh pasar atau ditentukan oleh IBPA.

Per Januari 2013, OJK telah mewajibkan dana pensiun, asuransi, dan manajer investasi untuk mengacu pada IBPA. Institusi yang tidak mengacu pada IBPA akan berurusan dengan OJK. Sementara itu, Direktur Utama IBPA Ignatius Girendroheru menuturkan, penerbitan obligasi didominasi oleh sektor jasa keuangan. Sehingga, kenaikan BI rate akan memberikan volatilitas terhadap penerbitan obligasi korporasi.

Dia menyebutkan, sekitar 60% dari penerbitan obligasi dari data IBPA dihuni oleh sektor perbankan dan pembiayaan. Kedua sektor itu paling berpengaruh terhadap kenaikan BI rate. Sehingga dapat disimpulkan penerbitan obligasi rentan terhadap kenaikan BI Rate.“Jika ada kenaikan BI Rate penerbitan obligasi korporasi bisa berkurang. Jika kenaikan BI rate terjadi maka akan memotong nilai dari obligasi. Karena penurunan itu akan disertai dengan pelambatan pertumbuhan industri pembiayaan dan perbankan. Yang terjadi adalah perusahaan menaikan bunganya, padahal rentan sekali itu dilakukan karena industrinya melambat," katanya”, jelasnya.

Jika permintaan atas yield obligasi semakin beresiko maka konsumen akan beralih kepada obligasi yang dikluarkan negara baik Sukuk maupun Obligasi Ritel Indonesia (ORI). Obligasi ini lebih aman terhadap perubahan. (lia)

BERITA TERKAIT

Kembangkan Ekspansi Bisnis - Panca Budi Idaman Perkuat Modal Anak Usaha

NERACA Jakarta – Menjaga keberlangsungan bisnis dan juga pengembangan usaha, PT Panca Budi Idaman Tbk (PBID) menambah modal anak usaha…

Kejar Pertumbuhan Bisnis - Citra Putra Fokus Kembangkan Bisnis Rumah Sakit

NERACA Jakarta – Kenaikan anggaran kesehatan dalam APBN 2020 dan juga kenaikan iuran BPJS Kesehatan memberikan sentimen positif terhadap kinerja…

Audiensi Dengan Wakil Presiden - IPEMI Siap Dukung Masterplan Ekonomi Syariah

NERACA Jakarta – Memacu pertumbuhan ekonomi syariah yang menjadi perhatian pemerintah dengan terus mengembangkan berbagai basis industri syariah, termasuk mengarap…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Sikapi Kasus Hanson International - Tantangan Menjaga Kepercayaan Investor Yang Sehat

Di tengah geliatnya pertumbuhan industri pasar modal, dari segi nilai transaksi, jumlah investor lokal dan produk investasi yang ditawarkan, rupanya…

Saham DEAL Masuk Dalam Pengawasan BEI

NERACA Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah mengawasi perdagangan saham PT Dewata Freightinternational Tbk (DEAL) karena telah terjadi…

WINS Raih Kontrak Sewa Kapal US$ 40 Juta

NERACA Jakarta – Di penghujung akhir tahun 2019, PT Wintermar Offshore Marine Tbk (WINS) mengantongi kontrak penyewaan dua unit kapal…