Contoh Sederhana Tentang Kearifan

Oleh: Prof. DR. H. Imam Suprayogo

Senin, 17/02/2014

Betapa pentingnya sikap arif dalam kehidupan sehari-hari diterapkan. Hingga, dalam Islam pendidikan tidak saja bertujuan menjadikan peserta didik semakin pintar, cerdas, tetapi juga diharapkan semakin arif. Al Qur’an menyebut arif dengan istilah hikmah. Dalam menjalani kehidupan ini, orang tidak boleh bersikap subyektif, dan kadang juga tidak boleh obyektif. Bersikap obyektif kadang dianggap salah. Sebagai contoh, orang yang sebenarnya tidak cantik, tatkala disebut tidak cantik menjadi tersinggung. Padahal secara obyektif yang bersangkiutan memang tidak cantik.

Untuk menjelaskan pengertian arif itu, bisa lewat contoh, yang saya dapatkan dari seorang agamawan, sebagai berikut. Dahulu kala, katanya, terdapat seorang raja yang kaya raya, dihormati, dan dicintai oleh rakyatnya. Akan tetapi sang raja ini, sekalipun gagah, hanya memiliki mata satu. Cacat ini dialaminya sejak lahir.

Pada suatu saat, raja yang sangat dihormati oleh rakyatnya ini berkeinginan agar gambar dirinya dipasang di tempat-tempat tertentu yang strategis di lingkungan kerajaan. Keinginannya itu disampaikan kepada bawahannya, dan tentu tanpa diskusi panjang, segera diikuti. Maka, dicarikanlah pelukis yang dianggap ulung di wilayah kerajaan itu untuk memenuhi kemauan sang raja.

Pelukis ulung, tidak terkecuali di wilayah kerajaan itu, tidak sulit dicari. Kesohorannya itu dikenal banyak orang. Setelah petugas kerajaan menghubunginya, maka betapa gembiranya pelukis itu mendapatkan kehormatan untuk melukis sang raja. Dalam pikirannya tidak semua pelukis mendapatkan kesempatan emas itu. Tugas itu tidak saja dimaknai bahwa ia akan mendapatkan honor besar, melainkan yang lebih penting adalah, akan memperoleh kehormatan. Ia merasa terhormat oleh karena dipercaya dan dihargai kemampuannya sebagai pelukis wajah rajanya.

Perintah yang membahagiakan itu segera ditunaikan. Sebagai pelukis ulung, maka tugas itu dengan cepat berhasil diselesaikan. Lukisan itu dicarikan pigora yang paling bagus, baik dari aspek warna, keserasian, maupun seni lainnya. Setelah semua diuanggap sempurn, agar segera berhasil menyenangkan hati raja, maka hasil lukisan itu segera diserahkan sendiri olehnya. Tentu, karena kedatangan pelukis itu memang dibutuhkan, maka tidak sulit masuk ke istana kerajaan. Dan, segeralah lukisan itu diserahkan sendiri kepada sang raja.

Tanpa diduga sebelumnya, ketika sang raja melihat lukisan itu dengan sepintas saja, langsung mukanya memerah. Sang raja ternyata marah besar, oleh karena, ia melihat wajah dirinya hanya bermata satu. Pelukis ini ingin bersikap obyektif, raja bermata satu dilukis apa adanya. Namun, sang raja memberikan reaksi yang tak terduga, ia marah dan memerintahkan kepada pasukannya agar pelukis itu dihukum seberat-beratnya, oleh karena dianggap telah menghina dirinya.

Kemarahan sang raja yang disebabkan oleh lukisan yang bersifat obyektif itu ternyata tidak menyurutkan keinginannya. Ia masih memerintahkan stafnya agar mencari pelukis lain, dan bahkan kalau perlu, mencari dari mana saja asalkan memenuhi seleranya. Tentang besarnya upah tidak akan dipermasalahkan, oleh karena, raja ini kaya raya. Atas usaha para staf, berhasil diperoleh pelukis yang tidak kalah kesohor dibanding pelukis pertama yang dianggap telah gagal. Setelah mendapatkan penjelesan secukupnya, pelukis kedua ini segera memulai tugasnya. Ia agaknya merasa beruntung, tahu bahwa pelukis terdahulu, dengan mengambil sikap obyektif dianggap salah dan kemudian dihukum, maka ia mengambil strategi sebaliknya, bersikap subyektif. Sekalipun sang raja bermata satu, maka dilukislah seolah-olah bermata dua.

Setelah lukisan itu selesai dikerjakan, dan dipilihkan pigora terbaik, maka hasil karyanya itu diserahkan sendiri kepada sang raja. Pelukis itu tidak menduga bahwa lukisannya akan ditolak, oleh karena wajah sang raja dilukis dengan sempurna, yaitu seolah-olah bermata dua. Sama dengan tatkala melihat kulisan pertama, sang raja marah berat. Pelukis ini dianggap menghina sang raja. Selama hidupnya, ia tahu dan merasa bermata satu, tetapi oleh pelukis, dibuat seolah-olah bermata dua. Kerja pelukis itu dianggap sebagai penghinaan kepadanya. Maka, oleh sang raja, pelukis kedua inipun harus dihukum berat.

Gagal mendapatkan pelukis yang memenuhi seleranya itu, setelah melewati beberapa waktu, sang raja rupanya tidak berputus asa, masih berkeinginan memiliki lukisan tentang dirinya yang tepat. Ia memerintahkan stafnya lagi untuk mencari pelukis yang lebih handal. Sama tatkala mencari pelukis pertama dan kedua, pelukis ulung lainnya segera ditemukan. Pelukis ketiga ini agaknya lain, ia lebih hati-hati, penuh perhitungan, dan tidak grusa-grusu. Sebelum menjalankan tugasnya, ia berusaha mencari tahu tentang kehidupan sang raja. Dari usahanya itu, ia berhasil mengetahui tentang banyak hal, termasuk hoby sang raja, ialah berburu. Pengetahuan yang diperolehnya itu, selanjutnya dijadikan dasar untuk menunaikan tugasnya, yang dianggap tidak sembarangan itu.

Mengetahui bahwa hoby sang raja adalah berburu, maka segeralah ia berangat ke pasar, mencari tempat penjual senapan. Tidak lama usahanya itu, ia beruntung mendapatkan senapan paling modern. Berapapun harganya, piranti berburu itu dibeli olehnya. Sebelum memulai tugasnya itu, pelukis ketiga ini berusaha memohon ijin agar bisa menghadap raja untuk sekedar berdialog. Permintaan itu dikabulkan, dan dengan membawa senapan model terbaru, pelukis berhasil menghadap sang raja. Dalam dialog itu, pelukis menanyakan tentang hoby sang raja. Pertanyaan itu dijawab bahwa, dalam waktu longgar, kesenangannya adalah berburu. Mendengarkan jawaban itu, maka segeralah pelukis menunjukkan senapan model mutakhir yang dimilikinya. Sang raja, oleh pelukis, dipersilahkan untuk mencoba menggunakan senapan itu, dan bahkan, kalau berkenan, alat berburu itu akan dihadiahkan kepadanya. Sang raja, sudah barang tentu, gembira sekali mendengarkan tawaran itu, dan dicoba olehnya senapan itu.

Kita semua mengetahui, bahwa siapapun yang sedang menembak dengan senapan, sekalipun yang bersangkutan bermata dua, maka pasti hanya akan menggunakan mata satu. Raja yang memiliki hoby berburu, tatkala menggunakan senapan, juga pasti akan menggunakan matanya yang hanya satu itu. Pelukis ini, selain cerdas, cerdik, dan bahkan juga arif. Ketika sang raja sedang mencoba untuk menggunakan senapan yang akan dihadiahkan itu, maka dilukislah.

Akhirnya, setelah selesai menunaikan tugasnya, hasil lukisannya itu segera diserahkan oleh pelukisnya sendiri kepada sang raja. Tentu, raja bermata satu itu gembira sekali. Sekalipun ia cacat, tetapi kekurangannya sama sekali tidak tampak . Itulah contoh sederhana tentang apa yang disebut dengan kearifan. Dalam kehidupan sehari-hari, hal yang obyektif tidak selalu menyenangkan, dan apalagi yang subyektif. Dalam pergaulan sehari-hari, orang memerlukan hikmah atau sikap arif sebagaimana contoh di muka. Wallahu a’lam. (uin-malang.ac.id)