Dahlan Turun Tangan Evaluasi Garuda

Dampak Penurunan Laba 66,4%

Kamis, 13/02/2014

NERACA

Jakarta – Melihat laporan keuangan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) yang mengalami penurunan cukup drastis dalam laba operasionalnya hingga 66,4%, memaksa Menteri BUMN Dahlan Iskan turun tangan untuk segera melakukan evaluasi kinerja keuangan perusahaan maskapai penerbangan tersebut.

Dahlan mengatakan, pihaknya akan melakukan evaluasi terhadap kinerja keuangan Garuda Indonesia yang mengalami penurunan laba cukup drastik. Padahal, perseroan berhasil membukukan pendapatan naik 7% menjadi US$3,72 miliar pada tahun 2013 dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$3,47 miliar,”Manajemen silahkan mencari cara mengatasi penurunan performa, tetapi sekarang ini lagi kita evaluasi, mengapa kinerja keuangan merosot”, katanya di Jakarta, Rabu (12/2).

Dia mengaku sudah mengetahui bahwa kinerja keuangan Garuda terpuruk, terutama karena anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Dia menambhakan, sudah mendengar rencana perseroan unutk menaikkan fuel surcharge, akibat lonjakan dolar AS ditambah kenaikan harga bahan bakar avtur.

Sepanjang 2013, perseroan meraih pendapatan usaha sebesar US$3,72 miliar. Jumlah ini lebih tinggi dibanding dengan pendapatan usaha tahun 2012 yang hanya US$3,47 miliar. Namun, berdasarkan laporan keuangan kosolidasi perseroan, seiring dengan pendapatan usaha yang meningkat, beban usaha dan beban pendapatan lain-lain ikut meningkat, sehingga menyebabkan laba usaha mengalami penurunan.

Dalam laporan kinerja keuangannya disebutkan beban usaha perseroan sepanjang 2013 meningkat menjadi US$3,71 miliar dari sebelumnya US$3,29 miliar di 2012. Sedangkan dalam beban pendapatan usaha, perseroan mencatat adanya kenaikan pada rugi selisih kurs menjadi US$47,93 juta dan rugi lain-lain sebesar US$2,19 juta.

Kondisi tersebut membuat laba usaha turun di tahun 2013 menjadi US$56,45 juta dari sebelumny US$168,07 juta di 2012 dan laba bersih turun menjadi US$11,20 juta dari sebelumnya US$110,84 juta di 2012. Dari sisi aset, perseroan mencatat adanya pertumbuhan dari US$2,52 miliar di akhir tahun 2012 menjadi US$2,95 miliar di akhir tahun 2013.

Adapun liabilitas perseroan di akhir tahun 2013 tercatat sebesar US$852,75 juta, naik dari sebelumnya US$648,83 juta di akhir tahun 2012. Sedangkan ekuitas naik menjadi US$1,12 miliar dari sebelumnya US$2,52 miliar di 2012.

Sebelumnya, Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk Emirsyah Satar menjelaskan bahwa kinerja keuangan Garuda Indonesia yang melemah ini dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan faktor tingginya harga bahan bakar.

Selain faktor tersebut, perseroan juga melakukan investasi dalam jumlah yang besar untuk menambah armada Citilink. Meski demikian dia menambahkan, pihaknya telah berhasil melunasi pinjaman sebesar US$130 juta.“Meskipun mengalami penurunan laba, pada tahun 2013 Garuda berhasil melunasi pinjaman sebesar total US$130 juta, yang terdiri dari US$55 juta Citi Club Deal-1 dan US$75 juta dari Bank Exim Indonesia”, katanya.

Sementara itu, perkembangan jaringan dan penambahan armada yang dilakukan sepanjang tahun 2013, perseroan berhasil mempertahankan tingkat utilitasi pesawat sebesar 10:44 jam. Tingkat isian penumpang mencapai 74,1%, meski menurun sedikit dibanding tahun lalu sebesar 75,9%, dan tingkat ketepatan penerbangan juga turun pada 2013 ini mencapai 83,8% dibanding tahun lalu sebesar 84,9%. (nurul)