Kinerja Sektor Tambang Mineral Masih Negatif

Terhambat Aturan Pelarangan Ekspor

Kamis, 13/02/2014

NERACA

Jakarta- Diberlakukannya pelarangan ekspor bijih mineral pada Januari lalu dinilai akan menekan kinerja pertambangan, khususnya yang fokus pada tambang mineral. PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) pun menyematkan outlook negatif untuk sektor pertambangan mineral dalam jangka pendek. “Pelarangan ekspor bijih mentah dan penerapan menaikkan bea keluar progresif produk olahan mineral berdampak pada potensi penurunan pendapatan dan laba serta arus kas.” kata analis Pefindo, Niken Indriarsih di Jakarta, Rabu (12/2).

Di sisi lain, menurut dia, terjadi peningkatan pinjaman untuk mendanai ekspansi kapasitas dan pembangunan smelter karena dampak positifnya baru akan dirasakan dalam jangka panjang. “Untuk jangka panjang, ini tentunya baik karena kita akan lebih mengekspor produk yang bernilai tambah.” ujarnya.

Oleh karena itu, dia melihat, tantangan yang akan dihadapi sektor ini pada 2014 yaitu adanya kenaikan biaya dengan penerapan bea keluar ekspor progresif dan biaya yang besar untuk melakukan ekspansi. Selain itu, juga menyelesaikan ekpansi atau pembangunan smelter tepat waktu, termasuk infrastruktur.

Salah satu perusahaan tambang yang diberikan peringkatnya oleh Pefindo, yaitu PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). Pihaknya memberikan peringkat idAA- untuk perusahaan dan obligasi PUB I/2011 dengan prospek negatif untuk 17 Januari 2014-17 April 2014. Pemberian peringkat ini, antara lain dipicu oleh pelaksanaan larangan ekspor atas bijih mineral.

Pihaknya menilai, kebijakan tersebut akan berdampak negatif pada ANTM karena penjualan nikel dan bijih bauksit menyumbang lebih dari 33% atau sekitar Rp3 triliun dari total penjualan ANTM di sembilan bulan pertama tahun 2013 lalu. “Otomatis, rasio utang terhadap EBITDA akan tertekan.” ujarnya.

Peringkat akan diturunkan, jika larangan ekspor terus berlanjut dalam periode tiga bulan mendatang yang mengakibatkan penurunan profitabilitas dan arus kas perusahaan secara signifikan. Apalagi jika harga komoditas, terutama untuk feronikel (FeNi) dan emas terus mengalami penurunan. Selain itu, pihaknya juga akan melihat pembiayaan untuk proyek ekpansi yang sedang dilakukan perusahaan.

Seperti diketahui, perusahaan ini tengah mengerjakan proyek perluasan pabrik Feronikel Pomala dan pembangunan smelter di Halmahera Timur. “Adanya proyek pembangunan smelter di Halmahera Timur, sehingga diharapkan dapat berkontribusi pada Antam.” jelasnya.

Asal tahu saja, untuk pembangunan proyek perluasan pabrik feronikel Pomalaa, ANTM membangun kerja sama dengan Daesung Industrial Gases Co.Ltd melalui penandatangan kontrak Engineering, Procurement and Construction (EPC) pembangunan Oxygen Plant No.5 dengan unincorporated Daesung dan PT Koin Konstruksi Indonesia.

Menurut Direktur Utama ANTM, Tato Miraza, nilai kontrak EPC Oxygen Plant No.5 sebesar US$ 11 juta dengan perkiraan penyelesaian konstruksi pada semester pertama tahun 2015. Pendanaan berasal dari obligasi korporasi yang diterbitkan pada tahun 2011 yang lalu," kata Tato.

Oxygen Plant No. 5 ini, menurut dia, berkapasitas 825 Nm3/h (O2) dengan tingkat kemurnian 99,6%. Produksi ini digunakan untuk menambah kapasitas oksigen yang ada untuk kebutuhan proses pemurnian produksi feronikel berkualitas tinggi (low carbon ferronickel).

Sementara untuk pembangunan smelter di Halmahera timur, perseroan saat ini telah melakukan penandatanganan MoU dengan PT Freeport Indonesia dalam bekerjasama mengevaluasi kelayakan pembangunan proyek peleburan tembaga. Termasuk dari sisi ekonomi dan komersial dari suatu peleburan tembaga baru dan/atau fasilitas-fasilitas terkait untuk pengolahan hilirisasi lebih lanjut dari produk-produk peleburan. (lia)