Lambatnya Internet Indonesia - Gagal Membangun Ekosistem Broadband

Era digital memang telah memberikan banyak kemudahan disegala kegiatan manusia. Era digital pula yang sebenarnya bisa memperbaiki kehidupan manusia tanpa kita semua sadari, pengurangan penggunaan kertas di era digital membuat alam menjadi terjaga dengan lebih baik.

Di era digital, internet tidak bisa dipungkiri memang menjadi bagian hidup dari kehidupan manusia. Hampir semua kegiatan manusia kini memang berhubungan dan dipermudah dengan adanya internet. Internet memang menjadi salah satu hal yang cukup penting di era digital saat ini, internet memberikan kita kemudahan dan kecepatan dalam berkomunikasi, bekerja, ataupun dalam mengirim juga menerima data.

Namun hal ini berbanding terbalik, kemajuan teknologi dan melonjaknya kebutuhan internet di Indonesia tidaklah diimbangi oleh cepatnya atau baiknya fasilitas internet di Indonesia. Hal inilah yang akhirnya membuat banyak orang kecewa akan kecepatan internet di Indonesia, bahkan beberapa orang asing yang datang ke Indonesia pun ikut mengeluhkan lambatnya internet di Indonesia.

Jadi hanya orang bodoh yang mengeluarkan pertanyaan “memangnya kalau internetnya cepat mau dipakai buat apa?”. Untuk seorang yang ketinggalan teknologi atau gagap teknologi mungkin pertanyaan ini menjadi hal yang biasa, tapi untuk seseorang yang menjadikan internet sebagai kebutuhan utama dalam berusaha atau bekerja, pertanyaan seperti ini sangatlah menyinggung perasaan.

Penyedia layanan cloud global Akamai Technologies Inc sendiri telah merilis laporan State of the Internet edisi terbaru untuk kuartal III 2013. Laporan tersebut berisi data-data mengenai kecepatan koneksi internet, jumlah traffic, adopsi broadband, dan serangan cyber dari hasil survei 122 negara di seluruh dunia yang tergabung dalam Akamai Intelligent Platform. State of the Internet kali ini melaporkan bahwa angka kecepatan koneksi internet dunia telah meningkat sebesar 10 persen dibanding kuartal lalu menjadi 3,6 megabit per detik (Mbps).

Jumlah yang merupakan rata-rata global itu masih lebih tinggi dibandingkan kecepatan koneksi internet Indonesia yang pada kuartal ini tercatat sebesar 1,5 Mbps. Angka tersebut mendudukkan Indonesia di posisi kedua terbawah di antara negara-negara Asia Pasifik, dalam hal kecepatan koneksi internet rata-rata.

Di wilayah ini, Indonesia hanya lebih tinggi dari India yang mencatat angka 1,4 Mbps. Negara-negara lain yang termasuk dalam wilayah Asia Pasifik adalah Malaysia, Filipina, Thailand, Vietnam, China, Selandia Baru, Australia, Singapura, Taiwan, Hongkong, Jepang, dan Korea Selatan. Koneksi tercepat dipegang oleh Korea Selatan dengan angka rata-rata 22,1 Mbps.

Negeri Ginseng itu sekaligus menyabet predikat sebagai negara dengan koneksi terkencang di dunia untuk kali kesekian. Korea Selatan diikuti Jepang dan Hongkong yang masing-masing mencatat kecepatan koneksi internet rata-rata sebesar 13,3 Mbps dan 12,5 Mbps. Korea Selatan, Jepang, dan Hongkong secara berurutan duduk di ranking pertama, kedua, dan ketiga dalam tangga kecepatan internet rata-rata terkencang di seluruh dunia. Adapun Indonesia muncul di posisi ke-115.

Dilihat dari segi adopsi broadband, sebanyak 70% pengguna internet Korea Selatan menikmati kecepatan di atas 10 Mbps, sementara Indonesia hanya 0,1 persen. Jika standar tersebut diturunkan menjadi 4 Mbps, maka sebesar 93 persen koneksi internet di Korea Selatan sudah melewati angka tersebut, berbanding 1,8% di Indonesia.

Pengamat IT sekaligus Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute Heru Sutadi mengatakan, yang jelas internet lelet karena kita gagal membangun ekosistem broadband di Indonesia sampai saat ini. Akses keluar negeri kita saat ini masih tergantung singapura, teknologi baru seperti adopsi 4G lambat, akses back fiber optik hubungan seluruh Indonesia belum lengkap, desa- desa belum tersentuh broadband sama sekali.

“Segera buka jalur internasional baru selain singapura, percepat pembangunan dan pengucuran dana palapa ring, kembangkan inkubator konten, sediakan segera broadband internet di desa-desa. Semua harus kerja ekstra keras, tidak bisa dengan business as usual saja,” kata Heru lagi.

Related posts