Menperin: Axioo dan Polytron Mulai Produksi Ponsel

Industri Perangkat Telekomunikasi

Jumat, 07/02/2014

NERACA

Jakarta - Industri telepon seluler (ponsel) di Indonesia kini mulai berkembang. Tahun ini sudah ada 2 pabrik yang mulai memproduksi ponsel jenis smartphone yakni Axioo dan Polytron. Sebelumnya Polytron merancang dan mengembangkan produk-produk ponsel di China karena industri komponen dalam negeri yang belum mampu memasok. "Sudah (produksi), ada 1 lagi selain Polytron yaitu Axioo," kata Menteri Perindustrian (Menperin) MS Hidayat di Jakarta, Kamis (6/2).

Hidayat belum mengetahui berapa kapasitas produksi kedua pabrikan ponsel tersebut. "Belum besar sih," tambah Hidayat.Impor ponsel pada tahun 2013 lalu diperkirakan mencapai 70 juta unit. Hidayat menambahkan, meski sudah ada produksi dalam negeri, namun belum bisa secara signifikan berperan menggantikan impor ponsel. Bagi Hidayat yang penting setidaknya industri dalam negeri bisa membuktikan mampu memproduksi ponsel. "Itu adalah pengakuan kita kalau produk Indonesia sudah bisa tampil. Nanti produknya bisa merek Garuda atau apa," tambahnya.

Sebelumnya, dia mengatakan, sepanjang 2013, ada sekitar 15 pabrik komponen telekomunikasi yang terbangun. Mulai dari pabrik pembuatan casing, keypad, baterai, LCD, dan charger.Rencananya, komponen telekomunikasi lokal sudah terpasang pada perangkat-perangkat seluler bermerek lokal Indonesia pada 2016. Adapun mulai tahun ini, pembangunan pabrik perangkat seluler/produk telepon genggam/smartphone sudah mulai dilakukan.

Pada Oktober lalu, perusahaan pembuat komputer dan perangkatnya elektronika, Axioo meresmikan pabrik ponsel dan tablet di Cakung dan Sunter. Adapun investasinya sekitar US$10 juta-US$15 juta. Kapasitas produksi HP dan Tablet merek Axioo (PT Tera Data) 750.000 unit/tahun.

Di sisi lain, niat investasi produsen gadget asal Taiwan, Foxconn di Indonesia terus molor. Padahal wacana rencana investasi termasuk membangun pabrik telepon seluler (Ponsel) telah sejak setahun terakhir digembar-gemborkan.

Molornya realisasi investasi Foxconn tersebut tak terlepas dari ketatnya persyaratan yang dilayangkan perusahaan terhadap pemerintah Indonesia, misalnya permintaan membangun laboratorium riset seperti diterapkan di China. "Saya memang agak menyayangkan (investasi) tertunda terus, tapi mereka mempunyai persyaratan yang cukup ketat," kata dia.

Foxconn, sambungnya, juga masih sibuk berkutat pada persiapan lahan dan regulasi untuk pembangunan pabrik tersebut. Perusahaan kemungkinan bakal membangun pabrik di wilayah DI Yogyakarta.

"Mereka (Foxconn) sedang berunding dengan partner lokalnya dan akan berkunjung ke Yogyakarta untuk membangun (pabrik) di sana. Dan saya mempersilakan tapi harus ada timeline (tenggat waktu)," ucapnya.

Hidayat memaklumi lamanya Foxconn masuk ke Indonesia, karena perusahaan ini pernah menggandeng pemerintah China guna merealisasikan pembangunan 10 pabrik di dua lokasi.

"Mereka mau mengadopsi apa yang dicapai di China ke Indonesia tetapi sulit. Jadi di sini harus B to B. Kalau di China memberikan lahan, di sini kan tidak bisa, sehingga timeline-nya mundur terus. Seharusnya pertengahan tahun ini selesai," keluhnya.

Pemerintah cukup optimistis Foxconn akan merealisasikan rencana investasinya mengingat pasar Ponsel yang masih sangat menggiurkan. Penetrasi ponsel di Tanah Air cukup pesat, bahkan Indonesia setiap tahunnya mengimpor tak kurang dari 70 juta unit setiap tahun. "Kalau (Foxconn) investasi, nanti merek Ponsel bisa nama Garuda atau apalah," tukas Hidayat.

Beberapa waktu lalu Menteri Perindustrian MS Hidayat meminta Foxconn untuk menyerap tenaga ahli atau insinyur nasional jika ingin membangun pabrik di Indonesia. Menurut Hidayat, selama melakukan pembicaraan dengan Foxconn, pabrik tersebut saat ini juga akan membangun 10 sekolah pelatihan pekerja pabrik di China. Sekolah ini nantinya akan menjadi pusat pelatihan para pekerja Indonesia sebelum memulai bekerja.

Sementara Ketua Bidang Industri Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Rudi Rusdiah menduga ada tiga hal yang menyebabkan Foxconn masih belum juga membangun manufakturnya. Pertama adalah tingginya pajak impor komponen ponsel, sedangkan impor ponsel jadi malah dikenai BM 0 persen. “Padahal, industri kalau tanpa melibatkan komponen impor sangat tidak feasible karena di Indonesia tidak tersedia pabrik komponen,” ungkapnya.

Menurut dia, faktor kedua yang menyebabkan investasi Foxconn terhambat adalah masalah infrastruktur. Infrastruktur di Indonesia tidak menunjang. Coba bandingkan pulau Penang Malaysia dengan infrastruktur pelabuhan kontainer, jalan tol yang tidak banjir dan tidak rusak, listrik tidak byar pet, telekomunikasi dan sebagainya yang sangat terjamin untuk investasi pembangunan pabrik, tuturnya.

Masalah ketiga diduga adalah perburuhan yang sering demo sehingga bila pasokan ponsel tidak lancer bisa menjadi masalah besar. "Lainnya juga seperti tidak ada kepastian hukum. Kebijakan seperti PPH impor berubah bukan memfasilitasi atau meningkatkan industri dalam negeri, tapi malah memberatkan semua pelaku baik industri maupun perdagangan. Akhirnya efek sampingnya adalah maraknya penyelundupan," katanya.