Cuaca Buruk Melanda, Nelayan Rugi Rp 31 Miliar

Perikanan Tangkap

Kamis, 06/02/2014

NERACA

Jakarta - Kondisi cuaca buruk yang melanda wilayah Indonesia mengakibatkan banjir dan rob. Dampak dari kondisi itu, para nelayan kehilangan mata pencahariannya karena tidak dapat melaut sehingga banyak di antar mereka menderita kerugian. Ditaksir total kerugian yang diderita nelayan akibat cuaca buruk beberapa bulan belakangan ini sekitar Rp 31 miliar.

Gellwynn Jusuf, Direktur Jenderal Perikanan Tangkap, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), mengatakan Berdasarkan data yang dihimpun oleh Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap (DJPT), jumlah nelayan yang tidak dapat melalut akibat cuaca buruk pada bulan Januari sekitar 15.459 orang nelayan, dengan potensi kerugian sekitar Rp 31 miliar akibat penghasilan yang hilang karena tidak melaut. “Nelayan yang tidak melaut berada di 6 lokasi sentra nelayan yakni PPN Karangantu, PPN Kejawanan, PPN Palabuhanratu, PPS Cilacap, PPN Pekalongan, dan PPN Prigi,” kata Gellwyn dalam keterangannya yang diterima Redaksi Neraca, Rabu (5/2).

Dampak yang ditimbulkan nelayan tidak dapat melaut sangat besar, sambung Gellwyn karena nelayan tidak memperoleh penghasilan karena tidak dapat menangkap ikan, nelayan akan kekurangan bahan pangan dan tidak mampu memenuhi kebutuhan rumah tangga lainnya, dan berkurangnya suplai bahan pangan produk perikanan, baik untuk pasar domestik maupun kebutuhan ekspor. Oleh karenanya DJPT melakukan upaya tanggap darurat melalui penyaluran Cadangan Beras Pemerintah (CBP), dan melakukan upaya penangganan secara sistemik.

“Upaya tanggap darurat, Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap bekerja sama dengan Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat dan Kementerian Sosial, CBP tersebut nantinya diberikan kepada nelayan yang terkena dampak cuaca buruk, selain di lapangan, kami juga bekerja sama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan di Kabupaten/Kota berkoordinasi dengan Dinas Sosial dan Sub Dolog setempat” imbuhnya.

Lebih lanjut Gellwynn menerangkan beberapa upaya penangganan secara sistemik lain yang dilakukan oleh DJPT adalah menginformasikan kondisi cuaca dan keamanan pelayaran bagi nelayan, disini kami bekerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). “Informasi cuaca tersebut sudah dapat diperioleh nelayan melalui pelabuhan perikanan terdekat maupun melalui layanan SMS, khususnya bagi para nelayan yang telah terdaftar dan memiliki kartu nelayan,” jelasnya.

Di samping itu, DJPT juga menggalakkan program pengembangan diversifikasi usaha bagi nelayan dan pengembangan usaha ekonomi produktif bagi wanita (istri) nelayan, memberikan fasilitas asuransi bagi nelayan dan Jamkesmas bagi keluarga nelayan bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan dan Pemda setempat, dan memberikan fasilitas peningkatan akses permodalam usaha untuk pengembangan kegiatan ekonomi melalui Pengembangan Usaha Mina Pedesaan (PUMP), Sertifikasi Tanah Sehat Nelayan, jasa pegadain, KUR, KKP-E dan lain-lain.

“Tahun 2011 kami sudah menyalurkan sebanyak Rp 110,6 miliar untruk 1106 KUB di 132 Kab/Kota, tahun 2012 sudah disalurkan sebanyak Rp 370 miliar untuk 3.700 KUB di 287 Kab/Kota, tahun 2013 sudah disalurkan sebanyak Rp 300 miliar untuk 3000 KUB di 291 Kab/Kota, dan tahun 2014 direncanakan akan disalurkan sebanyak Rp 200 miliar untuk 2000 KUB,” tegasnya.

Harapannya dengan adanya paket PUMP tersebut nelayan dapat terus mengembangkan kegiatan usaha penangkapan ikan sekaligus mengembangkan kegiatan ekonomi produktif lainnya sebagai sumber penghasilan tambahan.

Ganggu Produksi

Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) menyatakan bahwa masyarakat pesisir yaitu nelayan dan petambak mengalami kerugian miliaran rupiah karena tidak bisa melaut dan berbudidaya akibat cuaca buruk. Terang saja ini akan menggangu produksi perikanan nasional secara umum.

"Sedikitnya Rp100 miliar kerugian material diderita oleh 90.500 masyarakat pesisir, khususnya nelayan dan petambak, di 10 kabupaten akibat bencana cuaca ekstrem yang terjadi sepanjang Januari 2014. Situasi ini berakibat nelayan dan petambak tidak bisa berproduksi, baik melaut maupun berbudidaya." kata Sekretaris Jenderal Kiara Abdul Halim, belum lama ini.

Menurutnya semenjak bencana cuaca ekstrem melanda wilayah pesisir dan laut di Tanah Air, nelayan di Pantai Utara Jawa tidak bisa melaut akibat ombak setinggi 3 meter. "Nelayan Bengkalis (Kepulauan Riau) dan Sumatera Utara selama sebulan terakhir juga tidak bisa melaut akibat angin kencang dan gelombang yang mencapai 1 hingga 2,5 meter. Kondisi serupa juga dialami oleh nelayan di Tarakan, Kalimantan Utara, selama 1 pekan terakhir. Lebih parah lagi, rumah-rumah nelayan di pesisir Teluk Manado juga rusak akibat banjir bandang," ucapnya.

Menurut Pusat Data dan Informasi KIARA, Januari 2014, disebutkan jumlah nelayan dan kerugiannya akibat bencana cuaca ekstrem di 10 kabupaten, antara lain DKI Jakarta, Kabupaten Jepara, Kabupaten Pati, Kabupaten Langkat, dan lainnya. Total kerugian dari 10 wilayah itu Rp 100,9 miliar.

“Akibat cuaca ekstrem, persediaan pangan habis dan hutang menumpuk. Tak mengherankan jika sebagian nelayan memaksakan diri untuk tetap melaut dengan harapan bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarga, meski ancaman berada di depan mata,” tambahnya.