Pemilu Tidak Akan Dongkrak Kinerja Industri

Rabu, 05/02/2014

NERACA

Jakarta - Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Enny Sri Hartati memprediksi pertumbuhan industri manufaktur tahun ini tak akan mencapai 5%, paling-paling hanya 4,7% karena banyak tekanan untuk biaya produksi.

"Angka pertumbuhan industri manufaktur tahun ini tak akan meningkat. Bahkan, momentum pemilihan umum pun diyakini tak mampu mendongkrak kinerja industri. Pemilu tidak akan banyak membawa perubahan signifikan. Barang-barang untuk pemilu sudah dipesan kira-kira lima bulan sebelumnya, alias tahun lalu. Mau mendorong pertumbuhan seperti apa?" jelasnya di Jakarta, Selasa (4/2).

Menurut dia, pertumbuhan industri manufaktur tahun ini maksimal hanya mencapai 6% seperti tahun lalu. Malah, berpotensi besar tergelincir turun 0,5%. Sebaliknya, di tengah keraguan pelaku usaha akan pertumbuhan industri, Kementerian Perindustrian justru optimistis industri manufaktur tahun ini melampaui pencapaian pada 2013. Direktur Jenderal Industri Manufaktur Benny Wachyudi mengatakan pertumbuhan industri akan terkerek 0,5% dibanding pada 2013, sehingga menjadi 6,5%. "Akan didorong oleh tingginya konsumsi selama masa pemilihan umum," kata Benny.

Meski demikian, dia mengakui ada tantangan bagi industri dipicu kenaikan upah buruh dan tarif listrik. Kementerian pun tidak memungkiri terjadi potensi pelambatan industri. Namun semua itu dapat teratasi dengan besarnya peluang belanja tambahan pemilu. "Pasti tetap tumbuh," kata Benny.

Menurut dia, beberapa industri akan menjadi penopang utama pertumbuhan industri manufaktur. Ia menyebut industri tekstil dan makanan minuman dapat menjadi pendorong. "Paling tidak, dua subsektor itu sanggup bertahan dan tumbuh," ucap Benny.

Secara terpisah, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyatakan, sampai saat ini perusahaan manufaktur Foxconn Technology Group belum mengajukan aplikasi investasi di Indonesia. Semula, raksasa industri manufaktur asal Taiwan itu digadang-gadang dapat memacu pertumbuhan industri nasional dengan membangun pabrik di Indonesia mulai tahun ini. "Kita tunggu aplikasinya (Foxconn). Sampai sekarang belum masuk," kata Deputi Bidang Pengendalian Penanaman Modal BKPM, Azhar Lubis.

Azhar menuturkan sejauh ini pihaknya belum mengetahui kapan Foxconn akan merealisasi pembangunan pabrik di Indonesia. Foxconn, sebelumnya, menyatakan akan membangun pabrik di Jakarta, Yogyakarta, atau Banten.

Pabrik komponen telepon genggam asal Taiwan itu dikabarkan sedang menyiapkan relokasi pabrik manufaktur untuk produk menengah ke atas (high-end) ke Amerika Serikat dan produk menengah ke bawah (low-end) ke Indonesia. Dalam laman Reuters, Chief Executive Officer Foxconn Terry Gou menyebut pasar Amerika wajib menjadi tujuan ekspansi perusahaan.

Disisi lain, Indonesia menuju gerbang ASEAN Economic Community pada tahun 2015 bakal tercapai? Meski pembagian kue nasional masih carut-marut sehingga angka kemiskinan susah ditekan, kita harus mengangkui bahwa pertumbuhan ekonomi yang tetap mampu bertengger di atas (rata-rata) 6% dalam tiga tahun berlakangan ini, sungguh melegakan.

Pencapaian pertumbuhan ekonomi Indonesia masih jauh di bawah China dan India. Akan tetapi, dari segi pertumbuhan ekonomi, Indonesia termasuk tiga besar. Jumlah kelas menengah warga pun mencapai 36 juta orang dan relatif produktif. Sementara industri manufaktur menjadi komponen penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional.

Menurut data Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, pertumbuhan industri manufaktur meningkat sebanyak 6,4% dan telah berkontribusi terhadap Produk Domestik Bruto nasional sebanyak 20,8% atau Rp1.714 triliun pada tahun 2013.

Sementara itu, Menteri Perindustrian MS Hidayat menargetkan industri manufaktur nonmigas nasional bisa tumbuh 9% pada kuartal II-2013, sementara target setahun diproyeksikan 7,14 persen hingga 8%.